Menag Paling Pemberani

Warga yang taat ulama dan umaro, tidak terima tamu di Lebaran 1441 H.

TAK percuma Presiden Jokowi memilih Menag dari mantan jendral TNI. Fachrul Razi adalah satu dari 23 Menteri Agama RI yang paling pemberani. Dengan “backing” Covid-19, dia berani melarang tak usah salat Ied di lapangan dan mesjid, cukup di rumah saja. Tapi sebaliknya, rumah juga diminta tidak digunakan menerima tamu Lebaran 1441 H. Itu artinya, pintu rumah harus ditutup rapat pada 24 Mei 2020 kemarin. Tapi pintu maaf tetap dibuka 24 jam nonstop, melalui Lebaran online.

Coba, tanpa alasan Covid-19 dan dukungan MUI, Pak Menag melarang salat Ied di mesjid dan lapangan, melarang terima tamu Lebaran, pasti didemo umat Islam khususnya PA 212, bahkan diminta turun sekalian dari jabatannya. Lagi-lagi, karena virus Corona masyarakat jadi memaklumi.

Maka daerah Zona Merah sebagaimana DKI Jakarta, Lebaran 1441 H kemarin sungguh sepi luar biasa. Rumah saling bertutup pintu, hidangan di rumah dibikin sendiri akhirnya dimakan sendiri. Jalan tol juga terasa lengang. Baru kali ini orang muter-muter sampai Bandara Sukarno-Hatta, satu jam kemudian sudah sampai di Cililitan kembali. Itu artinya, rakyat patuh dan tunduk pada MUI dan Menag kita yang ke-23 sepanjang sejarah pemerintahan RI.

Tidak hanya tunduk dan takut pada ulama dan umaro, tapi juga takut akan penyebaran Covid-19. Siapa tahu sepulang dari salat Ied yang mengabaikan protokol kesehatan, yang berlebaran dengan saling berjabatan tangan, virus Covid-19 ada yang ikut terbawa pulang. Beberapa jam kemudian sudah dinyatakan PDP (Pasien Dalam Perawatan), dan jika tak beruntung kemudian berubah jadi PDB (Pasien Dalam Bandosa). Dalam bahasa Jawa, bandosa adalah keranda mayat.

Ada kecenderungan, virus Corona terus meningkat. Kemarin sore dilaporkan Jubir dr. Ahmad Yurianto, korban positip tercatat 22.750 orang sementara yang meninggal 1.391 orang. Maka Presiden Jokowi pun sejak 10 April menetapkan PSBB alias lockdown korting 50 persen. Kalau mobil –manual– namanya main setengah kopling. Ini berlaku bagi daerah Zona Merah.

Karena ketentuan ini, kemarin Menag terpaksa mengimbau agar pada Idul Fitri 1441 H hari ini, tidak salat Ied di mesjid dan lapangan. Semua menjalankan salat Ied di rumah masing-masing. Setiap rumah jangan terima tamu, hahal-bihalal cukup online saja, via video call atau WA. Presiden Jokowi juga tidak menggelar open house seperti biasanya.

Hadits Nabi mengatakan, tamu mendatangkan rejeki maka harus dimuliakan. Tapi dalam kondisi darurat seperti sekarang ini, si tamu bisa saja juga membawa Covid-19 di balik baju koko atau gamis yang dikenakan. Karenanya, Menag hanya mengimbau. Jika terjadi apa-apa, resiko ditanggung sendiri.

Memang tak semua daerah mematuhi imbauan Menag. Di Bekasi 800 mesjid menggelar salat Ied hari Minggu pagi kemarin. Relaksasi PSBB memang memungkinkan banyaknya terjadi pelanggaran. Di DKI Jakarta misalnya, meski PSBB diperpanjang sampai 4 Juni mendatang, faktanya 1,7 juta warga kota berhasil lolos mudik dengan berbagai cara.

Tapi tak semudah itu bisa balik, sebab harus bisa tunjukkan surat SIKM (Surat Ijin Keluar Masuk). Diprediksi nantinya bakal banyak warga kota yang ngebelangsak di jalan, karena harus balik ke tempat asal di mana dia mudik. Soalnya, dari 1,7 juta yang mudik, hanya 3.000-an orang yang mengantongi SIKM.

Tapi orang Indonesia kan paling demen langgar aturan; disuruh seperti dilarang, dilarang seperti diperintahkan. Soal mudik misalnya, meski dilarang, masih saja pada nekad. Maka bisa saja terjadi keributan dengan petugas  di chek point seperti seorang habib dari Bangil (Jatim) tempo hari. Kasihan memang si habib, sudah hampir sampai Surabaya, kok dipaksa balik, akhirnya keributan itu jadi viral di medsos. Kasihan si habib dari Bangil ini, mau saba (jalan-jalan) kok dibikin angil (susah).

Mulai 25 Mei kemarin, sudah musimnya arus balik. Bakal terjadi main kucing-kucingan dan nekad-nekadan. Sebab dari 1,7 juta pemudik yang berhasil lolos, sekitar 1,4 juta jiwa bakal terganjal sampai di batas kota. Kasihan kan, hampir senja masuk Ibukota, dipaksa balik lagi. Kalau “Senja di batas kota”-nya Ernie Djohan sih enak didengar, namanya juga sebuah lagu.

Meski sudah dijaga ketat oleh PPLM, diyakini masih banyak yang lolos kembali ke Jakarta. Tapi sebaiknya, ketimbang ngebelangsak di jalan gara-gara dipaksa balik ke kampung halaman, mending patuhi saja anjuran pemerintah. Jubir Corona dr Akhmad Yurianto sudah mengimbau, yang terlanjur mudik sebaiknya jangan kembali dulu, tunggu kondisi memungkinkan. (Cantrik Metaram)

Advertisement