HAMPIR saja Pendita Durna-Patih Sengkuni ribut dalam sidang selapanan di Istana Gajahoya, untung saja Prabu Duryudana berhasil menetralisirnya. Kedua pejabat penting itu diminta duduk manis di tempat masing-masing dan tetap jaga jarak. Bikin malu anak cucu kan, wayang sudah tua-tua begitu masih suka ribut macam anak SD saja.
Tapi bagi kalangan pengamat wayang, kelakuan Durna-Sengkuni dari dulu memang begitu. Sama-sama anggota “kabinet” tapi mereka hanya membawakan misi pribadi, bukan misi raja Ngastina. Maka keduanya suka saling kritik di depan publik. Akibatnya isyu di sekitar Istana Gajahoya gaduh terus, sampai dibuat tertawaan Durmagati yang posturnya seperti ikan buntal maha beracun itu.
“Paman Sengkuni kan sudah digaji tinggi, mestinya fokus pada tugas kepatihan, jangan ngobyek melulu….,” sindir Durmagati sekali waktu.
“Dur, kamu jangan sok pintarlah. Kalau pinter kamu, mestinya yang jadi patih kamu, bukan saya. Baru jadi anggota DPR saja lagaknya sudah bukan main. Tak usulkan recal, modiar kamu!” ancam Patih Sengkuni saat pegelaran njaba (pertemuan di luar Istaana).
“Ho, ho, ho, gitu saja nesuuu (marah)….” Jawab Durmagati cengengesan.
Durmagati ini memang vokalis di Ngastina, hobinya nyinyir terhadap kebijakan pemerintahan Prabu Jokopit (kependekan Joko Pitono). Apa saja dari urusan dinas sampai pribadi raja Ngastina, tak lepas dari kenyinyirannya. Padahal Durmagati ini bisa terpilih jadi anggota DPR juga karena dia adik kandung Prabu Duryudana alias Jokopit tersebut. Maka saking jengkelnya publik, Durmagati dijuluki di medsos sebagai “ikan buntal maha beracun”. Soalnya dulu hanya kurus pendek saja, tapi setelah duduk DPR jadi gemuk sekali, sehingga mirip ikan buntal.
Demiakianlah, karena Durna dan Sengkuni tak sanggup jadi penyampai berita kepada Prabu Baladewa raja Mandura, akhirnya berita panggilan Prabu Duryudana ini hanya disampaikan lewat SMS saja. Yang kirim Prabu Duryudana sendiri. Maklum, meski pejabat tinggi negara raja Mandura ini masih gaptek, tidak paham WA dan sejenisnya. Padahal, selama Lebaran ini ucapan Idul Fitri numpuk di HP Prabu Baladewa, tak sempat terbaca karena saking banyaknya.
“Tumben ya, sudah Lebaran kok nggak ada kegiatan Open House di Istana Gajahoya.” Ujar Prabu Baladewa pada patih Pragota.
“Kan ada Corona, Sinuwun. Jadi semua kegiatan kumpul-kumpul ditiadakan dulu.” Jawab patih yang ke mana-mana suka pakai celana Famatex biru itu.
Anehnya, meski SMS Prabu Duryudana belum terbaca oleh Prabu Baladewa, di luaran sudah ramai isyu bahwa Prabu Baladewa yang berkulit putih itu hendak dijadikan tumbal penangkal virus Covid-19. Padahal isi SMS aslinya kepada Prabu Baladewa tak sejauh itu. Dengan demikian ada orang Istana yang membocorkan, bisa saja salah seorang staf khusus Prabu Duryudana.
“Kasihan kangmas Baladewa ini. Raja yang begitu terhormat kok malah mau dibuat vaksin. Keterlaluan, ini namanya pelanggaran HAM berat,” kritik si “ikan buntal” dari DPR Ngastina saat ngetwit.
“Mending Patih Sengkuni saja yang dibuat tumbal, itu justru lebih bermanfaat bagi rakyat Ngastina,” tambah patih Pragota, membela bossnya di Mandura.
Mendengar isyu itu, Prabu Baladewa tentu saja kaget. Kenapa harus dirinya yang dijadikan bekakak (tumbal)? Dijadikan vaksin anti Covid-19 berarti kan dibunuh, diambil darahnya dilaboratorium kemudian diproses jadi serum atau vaksin. Ngeri kali dah! Karena mencoba telpon langsung ke Prabu Jokopit tak pernah dingkat, Prabu Baladewa kemudian klarifikasi ke jubir Istana, Kartomarmo Nyebelin.
“Isyunya saya mau dijadikan tumbal, untuk dibuat vaksin Covid-19. Benarkah itu, memangnya nggak ada yang lain?” suara Prabu Baladewa galak sekali.
“Saya belum ada informasi, Kangmas. Tapi pada intinya, setiap warga negara harus siap membantu pemerintah yang berada dalam kesulitan, ini bagian dari kesadaran bela negara.” Jawab Kartomarmo diplomatis, yang bikin Baladewa jadi histeris.
Tuh kan, jubir Istana saja jawabannya mlintir terus, cari aman. Ketimbang terus duduk manis di Mandura keamanannya terancam, tahu-tahu dijemput wayang Ngastina, Prabu Baladewa memilih kabur saja. Untuk sekedar penyamaran, tubuhnya yang putih itu dipoles dengan atal sehingga kulitnya jadi kuning standar warna kulit para wayang. Beruntung pakai masker menjadi keharusan, sehingga wajah Prabu Baladewa bisa disembunyikan.
Feeling Prabu Baladewa ternyata benar, baru beberapa jam dia lolos (pergi) dari Mandura, ada sejumlah wayang menjemputnya ke Mandura. Tapi kecele, yang ada cuma Patih Pragota, sedangkan di jam itu tokoh paling dicari di Ngastina itu sudah tiba di Dwarawati, ketemu Prabu Kresna adik kandung sendiri. Dia menangis tersedu-sedu, seperti cowok ditinggal kawin sidoi.
“Tolong selamatkan nyawaku yayi Kresna. Gua mau dibuat tumbal Ngastina, dijadikan vaksin Covid-19. Katanya karena hanya aku yang berkulit putih.” Lapor Prabu Baladewa terbata-bata.
“Yang bener, isyu kali itu ah! Masak tumbal harus berkulit putih, kenapa nggak yang berkulit hitam sekalian, macam ayam cemani dari Parakan (Temanggung)?” jawab Kresna mengingatkan pada ilmu pedukunan dan paranormal.
Prabu Kresna lalu membuka Kaca Paesannya. Ternyata benar, di situ ada informasi bahwa Ngastina sedang mencari penangkal Covid-19. Menurut petunjuk SBG dari kahyangan, vaksinnya harus wayang berkulit putih, sama sekali tidak menyebut Baladewa. Itu berarti Prabu Duryudana yang mau cari gampangnya saja, atau juga Prabu Baladewa yang baperan.
“Tanpa juklak (petunjuk pelaksanaan) wangsit dari kahyangan ini bisa multi tafsir. Mari kangmas saya ajak ke Jonggring Salaka, cari tahu siapa yang bikin SK asal-asalan.” Kata Prabu Kresna kemudian.
“Setuju yayi. Ini harus diusut, jangan sampai gara-gara kecerobohan dewa wayang ngercapada yang jadi korban.” Jawab Prabu Baladewa, mulai agak terhibur.
Sebagai titisan Bethara Wisnu, Prabu Kresna memang punya paspor khusus ke kahyangan. Dia bisa dengan mudah ketemu SBG. Beda dengan Prabu Baladewa, meski dia titisan Bethara Brama, tapi Bethara Brama ini hanya dewa ring kedua, jarang diajak rapat di Bale Marcakunda. Karenanya dia tak begitu akrab dengan SBG, sehingga tak dapat paspor khusus.
Berkat paspor khusus tersebut Prabu Kresna-Baladewa bisa ketemu SBG dengan mudah. Ditunjukkan isi Kaca Paesan, SBG malah tertawa terpingkal-pingkal. Pejabat Ngastina memang blo’on blo’on ya, wayang berkulit putih kan bukan hanya Baladewa, bisa juga Kapi Hanoman, kan?
“Durna dan Sengkuni ini ngapain saja, kok picik banget pemikirannya. Karena yang sering terlihat berkulit putih adalah Prabu Baladewa, maka pasti Baladewalah orangnya.”
“Memang mereka ini wayang kocluk….” Potong Baladewa saking gemesnya.
“Kalau begitu mestinya tumbal Ngastina pakai Kapi Anoman, pukulun?” Prabu Kresna minta penjelasan SBG lebih lanjut.
“Bisa juga, tapi Anoman kan termasuk satwa yang dilindungi, jadi nggak boleh juga.” Kata SBG lagi.
Patih Narada yang ada dalam pertemuan itu kemudian memberikan usulan, bagaimana kalau WNA kulit putih yang overstay di Ngastina? Ternyata semua setuju, sekaligus untuk shokterapy agar para bule ini tak seenaknya berlama-lama tinggal di negeri orang. Lewat sekretaris kahyangan Bethara Penyarikan, SBG mengeluarkan SK baru tentang vaksin anti Covid-19, bunyinya: Tumbalnya cukup WNA kulit putih yang overstay saja, kalau ada.
Prabu Duryudana kaget juga dapat wangsit susulan dari kahyangan. Kelihatannya sepele, tapi tidak mudah. Soalnya berdasarkan catatan Imigrasi, WNA kulit putih yang tinggal di Ngastina semua berdisiplin waktu. Tak ada yang overstay. Maka Prabu Duryudana pusing kembali, wabah Corona bisa makin meluas lagi. Kalau begitu, apakah rakyat Ngastina harus berdamai saja dengan Covid-19?
(Ki Guna Watoncarita. – tamat)



