Menakar Efektivitas Sinergi Pentahelix dalam Pengurangan Risiko Bencana

MOJOKERTO, KBKNews.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar talkshow bertema Sinergi Pentahelix dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Kota Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (1/10/2025).

Acara yang berlangsung di Ruang Rapat Paseban Agung, Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Mojokerto ini menghadirkan diskusi interaktif dengan beragam narasumber.

Hadir dalam diskusi tersebut Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Prasinta Dewi; Deputi Direktur 1 Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah Dompet Dhuafa, Juperta Panji Utama; Redaktur Jawa Pos Radar Mojokerto, M. Chariris; Dosen FEB Universitas Airlangga, Mochammad Thanthowy Syamsuddin; serta Deputy General Manager PT Kurita Indonesia, Akito Yanai.

Prasinta Dewi menegaskan pentingnya kolaborasi Pentahelix — yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat/komunitas, serta media — dalam menekan risiko bencana dan memperkuat ketangguhan masyarakat.

Menurutnya, bencana bukan hanya soal banjir atau cuaca ekstrem, melainkan juga ancaman lain yang membutuhkan sinergi lintas sektor dan edukasi berkelanjutan.

“Bencana adalah urusan bersama, peran Pentahelix sangat ditunggu. Banyak sekali ide-ide yang sudah dilakukan yang terkait dengan ancaman, untuk mengurangi risiko bencana,” ucap Prasinta.

Ia menambahkan, bencana bukan hanya soal banjir atau cuaca ekstrem, melainkan ancaman lain yang membutuhkan sinergi lintas sektor dan edukasi berkelanjutan

Dari sisi filantropi, Juperta Panji Utama menyoroti kelompok duafa sebagai pihak yang paling rentan terdampak bencana. Ia menekankan bahwa pemulihan bagi kelompok miskin membutuhkan upaya lebih besar.

Karena itu, Dompet Dhuafa mendorong agar risiko bencana dipandang sebagai peluang membangun ketangguhan kolektif melalui solidaritas dan kedermawanan.

“Dompet Dhuafa berusaha dan mengajak semua pihak bahwa risiko itu bisa diubah menjadi kekuatan bukan ketakutan. Risiko menjadi resiliensi, kedermawanan menjadi ketangguhan kolektif,” tuturnya.

Akito Yanai mewakili pelaku usaha mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas bisnis dan kelestarian alam.

Ia menilai, dunia usaha tidak boleh hanya berorientasi profit, melainkan juga berperan menjaga lingkungan serta mengembangkan teknologi demi keberlanjutan hidup.

Sementara itu, Mochammad Thanthowy Syamsuddin menekankan bahwa kolaborasi Pentahelix harus berbasis data ilmiah agar program penanggulangan bencana lebih efektif dan berkelanjutan.

Sedangkan dari sisi media, M. Chariris menilai jurnalis memegang peran penting dalam menyebarkan informasi yang terbuka dan membangun partisipasi publik, sekaligus menjaga sikap kritis terhadap kebijakan.

Melalui talkshow ini, BNPB dan Dompet Dhuafa berharap sinergi Pentahelix dapat menjadi ruang kolaborasi yang transparan dan transformatif dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

Oleh: Arifian Fajar Putera

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here