Komunikasi Kreatif Jadi Senjata Mitigasi

MOJOKERTO, KBKNews.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar Workshop Komunikasi Kebencanaan dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Kota Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (1/10/2025).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan para pegiat kemanusiaan dalam menyampaikan edukasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat.

Workshop menghadirkan tiga narasumber, yakni Sekretaris BPBD Kabupaten Mojokerto, Supriyadi Noto; SO Content Creative Dompet Dhuafa, Dedi Fadlil; dan Redaktur Jawa Pos Radar Mojokerto, M. Chariris.

Dalam pemaparannya, Supriyadi menekankan bahwa komunikasi memegang peran vital dalam manajemen risiko bencana.

“Komunikasi dalam manajemen bencana bertujuan untuk membangun kepercayaan, peningkatan kesiapsiagaan, meminimalisasi dampak bencana, dan mencegah kepanikan,” ucapnya.

Komunikasi lanjut Supriyadi, adalah mitigasi. Ia berperan untuk edukasi masyarakat, sistem peringatan diri, dan kesempatan kolaborasi multipihak.

Dedi Fadlil menambahkan, kreativitas sangat diperlukan dalam menciptakan konten komunikasi kebencanaan. Konten yang edukatif sekaligus kreatif akan lebih mudah diterima masyarakat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar Workshop Komunikasi Kebencanaan dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Kota Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (1/10/2025). (Foto: DMC DD)

Menurutnya, konten edukasi berdampak harus menggerakkan rasa peduli, mendorong orang untuk berpikir, memberi wawasan baru tentang risiko, dan mengajak untuk turut serta bertindak dalam kebaikan.

“Selaras dengan itu, sudah saatnya semua lembaga kemanusian atau kebencanaan untuk mulai aktif memproduksi konten-konten edukasi pengurangan risiko kebencanaan,” katanya.

Sementara itu, M. Chariris mengungkapkan tantangan dari sisi media, di mana sebagian masyarakat kini lebih memercayai informasi dari influencer atau figur publik, meski tidak selalu terverifikasi. Hal ini berpotensi melahirkan hoaks.

Menurutnya, media dapat menyediakan data yang sudah tervalidasi agar dapat digunakan secara tepat oleh berbagai pihak.

“Di sisi lain, tantangan saat meliput ancaman atau kejadian bencana adalah minimnya media center, sehingga menimbulkan kesulitan bagi para media untuk memberikan informasi,” ujarnya.

Melalui workshop ini, peserta diharapkan memahami tantangan komunikasi kebencanaan sekaligus melihat peluang kolaborasi antar lembaga, sehingga upaya edukasi dan mitigasi bencana bisa lebih efektif serta berdampak luas bagi masyarakat.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here