
JOE BIDEN (78) dari Partai Demokrat terpilih menjadi presiden negeri “Uncle Sam” AS ke-46 setelah dilaporkan menang telak oleh media-media utama, jauh meninggalkan Donald Trump yang dicalonkan Partai Republik.
Walau masih ada suara tersisa, Biden mengumpulkan 284 suara Elektoral College, bahkan ada yang menyebutkan 290 suara, melampaui 270 jumlah suara minimal yang diperlukan untuk terpilih dalam pemilihan elektoral (separuh atau 269 + 1 suara) dari total 538 suara Dewan Eelektoral.
Biden baru akan resmi menempati Gedung Putih bersama wapres pasangannya Tamala Harris, perempuan berkulit hitam keturunan India yang sebelumnya menjabat senator Negara Bagian Delaware setelah pelantikan yang dijadwalkan di Gedung Capitol, Washington DC oleh Ketua Mahkamah Agung pada 20 januari 2021.
Sejumlah rekor menandai pilpres AS kali ini seperti Biden sebagai presiden tertua, pertama kalinya warga kulit hitam perempuan menjabat orang nomor 2 dan dengan jumlah pemilih terbanyak ( 74,8 juta (50,6 persen) memilih Biden dan 70,6 juta (47,7 persen) Trump.
Sebaliknya Trump yang sesumbar, bahkan sebelumnya sudah mengklaim menang atas lawannya tidak menyerah begitu saja dan walau sejauh ini belum ada bukti-bukti adanya kecurangan dalam pemungutan suara, ia akan memperkarakannya di pengadilan.
“Saya memenangi pemilu kali ini, dengan banyak perolehan suara, “ demikian cuitan Trump sebelumnya, namun saat kemenangan sudah di tangan Biden ia tidak memberikan komentar apa pun saat dicegat awak media dalam perjalanan pulang ke Gedung Putih, Sabtu (7/11).
Klaim kemenangan Trump sebelum perhitungan prolehan suara usai adalah suatu yang tak lazim di AS yang berpengalaman demokrasi lebih 200 tahun, sehingga media di Indonesia ada yang mengait-ngaitkan ia terinspirasi pada pilpres Indonesia 2019.
Dalam Pilpres RI 2019, Prabowo juga mengklaim telah memenanginya s mengacu pada hasil survei oleh kelompoknya dan menggugat ke MK walau ditolak karena dinilai tidak beralasan.
Anomali Nilai-nilai Demokrasi
Pilpres AS kali ini juga menjadi anomali atas norma-norma yang berlaku dan tercoreng oleh aksi-aksi kekerasan termasuk adanya seratusan pengunjuk rasa bersenjata yang muncul di tempat tabulasi hasil suara di ibukota Negara Bagian Arizona, Phoenix.
Kekalahan Trump untuk mencalonkan diri dalam masa jabatan kedua (2001 – 2024) termasuk kejadian langka sepanjang pilpres AS yang sebelumnya hanya dialami oleh George H. W Bush pada pilpres 1993
Sejumlah pemimpin a.l. PM Kanada Justin Trudeau, PM Inggeris Boris Jhonson, Kanselir Jerman Angela Merkel, PM Jepang Yoshihide Suga menyampaikan selamat pada Biden, sementara Presiden Jokowi berharap peningkatan trlasi AS-RI terkait ekonomi, demokrasi dan multilateral.
Tugas berat menanti Biden sebagai presiden AS 2021 – 2024 seperti penanganan Covid-19 sesuai janji kampanyenya yang menilai Trump gagal, juga perbaikan ekonomi akibat imbas Covid-19.
Terkait isu internasional, khususnya Timur Tengah, Trump berhasil membujuk Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan menormalisasi hubungan dengan Israel, sebaliknya sangat mengecewakan bangsa Palestina karena memindahkan kedubesnya ke Jerusalem. Proses selanjutnya harus dilanjutkan Biden.
Masih terkait isu Timteng, “PR”Biden a.l. pendekatan hubungan dengan Iran yang memburuk di era Trump pasca pembatalan sepihak kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) oleh AS (2018) selain isu konflik Taiwan-China, program nuklir Korea Utara dan terkait ekonomi, isu perang dagang dengan China. JPOA beranggotakan AS, Inggeris, Perancis, China, Rusia, plus Jerman (5 + 1).
Semoga terpilihnya Biden akan menciptakan keteduhan dan perdamaian di seluruh jagat raya, berdasarkan azas saling menghormati, kemitraan dan kerjasama. (NS/Berbagai Sumber)




