SELURUH negara termasuk RI sedang menanti langkah kongkret Presiden Donald Trump yang dalam kampanye Pilpres lalu menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Amerika Serikat dan mengembalikan kejayaan negeri itu.
“Mulai hari ini, yang utama cuma Amerika, “ seru Trump dalam pidato pelantikanya di Washington DC, Jumat lalu. Visi kebijakan “America First” yang dilontarkan Trump menyangkut sektor ekonomi dan perdagangan, perpajakan, imigrasi dan kebijakan luar negeri.
Nuansa proteksionisme tercermin jelas dalam poin-poin konten pidato Trump. Disebutkan, di setiap keputusan terkait perdagangan, perpajakan dan hubungan luar negeri akan dibuat demi keuntungan AS dan rakyatnya.
Trump akan memprioritaskan pembangunan prasarana perhubungan berupa jalan raya, bandara, jembatan dan terowongan serta jaringan KA untuk menggairahkan geliat ekonomi dan mengimbau rakyat agar membeli produk dan mempekerjakan tenaga kerja lokal.
Mengenai hubungan luar negeri, Trump berjanji melindungi perbatasan dari gangguan negara lain agar mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Dalam kampanyenya, Trump juga terang-terangan menyebut akan membangun tembok sepanjang tapal-batas dengan tetangganya, Meksiko guna mencegah mengalirnya pendatang haram dan praktek perdagangan ilegal.
Pidato Trump mengundang reaksi termasuk dari sejumlah negara-negara mitra AS sendiri.
PM Jepang tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan Trump saat kampanye maupun dalam pidato pelantikannya dan merasa tetap yakin, presiden baru AS itu memahami nilai-nilai dan semangat perdagangan bebas.
Abe juga percaya, Trump akan tetap mempertahankan kesertaan AS dalam Pakta Kemitraan Perdagangan Trans Pasifik (TPP) yang diikuti 12 negara di kawasan lingkar Pasifik itu.
Bea Masuk Tinggi
Jepang sebagai mitra utama AS di Asia sebenarnya juga cemas atas kebijakan proteksionis yang akan diterapkan Trump seperti pengenaan Bea Masuk lebih tinggi lagi terhadap perusahaan Jepang yang tidak bersedia mengalihkan pabriknya ke Amerika. Kebijakan itu jika jadi diberlakukan, bisa mengancam industri otomotif Jepang.
Kebijakan “Amerika first” yang dicanangkan Trump, salah satunya juga mewacanakan niat AS keluar dari aliansi perdagangan kawasan berangotakan 12 negara di lingkar Laut Pasifik tersebut.
Tiongkok juga merasa terusik atas pidato Trump yang menyiratkan perang dagang antara kedua negara dan menganggap pernyataan-pernyataan presiden AS itu selah-olah “menyulut bara di depan rumah sendiri”.
AS yang kalah bersaing dari negara-negara Asia seperti Jepang dan Tiongkok mengindikasikan akan memberlakukan kebijakan protektif dalam upaya menyelamatkan industrinya.
Wacana pengenaan Bea Masuk sebesar 45 persen terhadap produk Tiongkok yang membanjiri pasar di AS dan desakan untuk memindahkan industri AS dari Tiongkok , jika diberlakukan, akan berakibat serius bagi hubungan kedua negara.
Indonesia sendiri tentu akan terkena imbas kebijakan protektif Trump yang dikenakan terhadap Jepang dan Tiongkok yang juga menjadi mitra dagang utama. Jika ekspor barang jadi Jepang dan Tiongkok ke AS menurun, otomatis impor bahan baku kedua negara itu dari Indonesia turun juga.
Namun Wapres Jusuf Kalla tidak terlalu merisaukan kemungkinan perubahan kebijakan drastis yang akan diambil oleh presiden baru AS tersebut.
“Tidak seseram yang dibayangkan orang, “ kata Jusuf Kalla. Alasannya, menurut dia, jika rencana kenaikan pajak terhadap produk asing diberlakukan, hal itu pasti akan ditentang rakyat AS sendiri, karena harga barang-barang akan bertambah mahal.
Cermati dampaknya
Sedangkan Menteri Keuangan Sri Mulyani berpendapat, gaya ceplas-ceplos Trump memang harus dicermati karena akan mempengaruhi kebijakan perekonomian AS dan berdampak bagi negara lain termasuk Indonesia.
Namun demikian, menurut dia, ekspor Indonesia malah akan ikut terangkat jika kebijakan protektif Trump mampu menggairahkan kembali perekonomian dan kegiatan proyek-proyek infrastruktur di negara Paman Sam itu.
Nada optimistis juga dilayangkan Presiden Jokowi yang sudah berbicara langsung lewat telpon.
Selain mengucapkan selamat atas pengangkatan Trump sebagai presiden AS, Jokowi juga menyinggung kelanjutan kerjasama saling menguntungkan antara RI dan AS.
Kepada Presiden Jokowi, Presiden Trump juga mengaku banyak teman dan juga memiliki kegiatan bisnis di Indonesia.
“Jadi saya yakin, hubungan Indonesia dan AS akan semakin baik, tetapi harus saling menguntungkan, “ kata Jokowi Menambahkan.
Pengusaha mebel, termasuk yang cemas terhadap kemungkinan perubahan kebijakan Trump, mengingat 40 persen dari devisa yang diraup dari ekpor mebel Indonesia (total 1,9 milyar dolar AS lebih pada 2015) berasal dari ekspor ke AS.
RI dan negara lainnya menanti sepak terjang Trump selanjutnya, apakah ujaran protektif yang dilontarkan saat kampanye benar-benar dilaksanakan atau sekedar pemanis bibir untuk memenangi Pemilu. (AP/AFP/Reuters/NS)
.





