
KORPS Garda Revolusi Iran (IGRC)  menggelar latihan perang besar-besaran, Selasa lalu (28/7), siapa lagi simulasi musuh mereka, kalau bukan Amerika Serikat yang diwakili kapal induknya sebagai sasaran.
Replika kapal induk AS kelas Nimitz pun dijadikan target rudal, baik dari darat (diklaim jenis rudal pertama di dunia yang diluncurkan dari kedalaman bumi), dari kapal-kapal mau pun pesawat tempur.
Iran sejak diembargo pihak Barat pasca Revolusi 1979 memang dikenal aktif mengembangkan berbagai jenis rudal, didukung teknologi dari Uni Soviet (sekarang Rusia), Korea Utara dan China.
Yang sudah dihasilkan a.l. rudal jarak pendek seperti Fatteh-110 (berjangkauan 300 Km), Shahab-1 dan Shahab-2 (sampai 500 Km), Raad dan Zolfaqhar (sampai 700 Km) dan rudal jarak sedang seperti Sejjil dan Soumar (sampai 2.500 Km).
Kekuatan militer Iran dengan sekitar 523-ribu personil aktif, AU-nya sebagian masih menggunakan alutsista lawas peninggalan AS buatan era ’70-an seperti pesawat tempur F-14 Tomcat dan F-4 Phantom, selain MiG-29 Fulcrum eks-Uni Soviet dan yang lumayan baru, seri Cheng Du J-10 buatan China.
AL-Iran didukung kapal-kapal berbagai negara, termasuk 34 kapal selam (eks-Yugoslavia, Rusia dan Korut), dan terbanyak kapal-kapal cepat peluncur rudal, sebagian buatan lokal, sedang AD didukung tank-tank tempur utama (MBT)Â T-72 eks-Uni Soviet dan Karrar, Â buatan lokal.
Sementara di seputar Teluk Hormuz, AS paling tidak menempatkan satu dari lima kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz yakni USS Abraham Lincoln (bernomor lambung CVN-72), berbobot 100.000 ton dan membawa 90 pesawat tempur, dikawal kapal perusak USS Mc Faul, USS Gonzales dan USS Mason.
Pesawat-pesawat yang diangkutnya juga beragam seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, F-18 Hornet, pengintai P3 Orion, dan sejumlah heli serang AH-64 Apache atau anti kapal selam SH-60 Sea Hawk.
Bisa kah kapal induk ditenggelamkan?: “Tentu bisa”, jika diguyur (lebih satu) rudal-rudal berjangkauan lebih jauh dan bisa lolos  dari sistem deteksi dini (EWS) serta sistem pertahanan kapal yang disasar serta kapal-kapal pengawalnya dan juga berdaya ledak amat tinggi.
Berharga 4,5 juta dollar AS (sekitar Rp65,25 triliun) atau separuh anggaran militer RI 2020 (Rp127 triliun), kapal induk kelas Nimitz dengan sekitar 5.700 awak dan pesawat-pesawat yang diangkutnya tentu kerugian besar jika sampai ditenggelamkan musuh.
Kapal induk selain dikawal oleh kapal-kapal lainnya, juga memiliki perangkat perang elektronika, radar, sonar, rudal, rudal anti rudal dan  pesawat-pesawat yang langsung mengudara jika ada ancaman musuh.
Melalui citra satelit, kapal induk juga dilindungi dan gerakannya dimonitor terus dari pangkalannya agar steril dari setiap ancaman.
Dalam insiden Teluk Sidra (Agustus 1981), armada AL AS segera mengirimkan dua pesawat F14 Tomcat untuk mencegat dan merontokan dua pesawat Sukhoi SU-24 Fitter Libya yang mendekat dan  sudah terlacak sistem pertahanan di kapal induk sejak tinggal landas dari pangkalannya di darat.
Perang di era digital saat ini sangat mengandalkan teknologi. Siapa yang lebih menguasai, berpeluang besar menang, namun faktor intelijen, taktik dan strategi serta SDM-nya juga dituntut sesuai medannya.




