PASAMAN BARAT – Julia Karlina (22), merupakan perempuan yang menjadi salah satu dari tim relawan respon Dompet Dhuafa Singgalang yang turun membantu penyintas gempa di Pasaman Barat.
Julia memberikan aksi layanan Psychological First Aid (PFA) kepada penyintas anak-anak, remaja, dan orang tua, di posko sekitar Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat.
“Masyarakat masih membutuhkan tangan-tangan orang baik di sekitarnya. Itu yang mendorong saya tertarik menjadi relawan,” jelas Julia Karlina, Rabu (09/03/2022)
Menjadi salah satu tim PFA merupakan salah satu panggilan profesinya. Ia sendiri tergabung dalam Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Singgalang semenjak 2018 lalu. Mahasiswi dari jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di suatu perguruan tinggi Kota Padang. Tertarik bergabung menjadi DDV Singgalang, ketika ia melihat saat semasa Sekolah Menengah Atas (SMA) banyak melihat masyarakat masih membutuhkan uluran tangan bantuan.
“Saya tidak ingin menjadi manusia yang hanya (bermanfaat: red) untuk diri sendiri. Setidaknya kita bisa juga bermanfaat untuk orang lain,” lanjutnya.
“(Melalui PFA) kita bisa mengalihkan fokus mereka supaya trauma yang ada di diri mereka bisa berubah menjadi keceriaan dengan hadirnya kita,” tambah Julia.
Terlihat Julia acapkali berinteraksi dengan penyintas lainnya. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Mereka memiliki tingkat pengalaman yang berbeda-beda. Sehingga intensitas layanan PFA yang diberikan juga berbeda-beda. Hal ini mendorong Julia dan kawan-kawan lebih semangat lagi dalam memberikan layanan bantuan PFA.
Mengingat banyak sekali dampak kerugian yang dialami oleh penyintas. Mulai dari mata pencaharian, tempat tinggal, dan properti pribadi lainnya. Akibat banyaknya dampak yang dialami, ditakutkan kondisi mental penyintas sedikit mengkhawatirkan.
”Kita terjun hari Senin. Aksi PFA itu dimulai hari Selasa. Kita memberikan kegiatan berupa games dan beberapa edukasi kebencanaan,” terang Julia.
“Harapannya bagi anak-anak dan penerima manfaat, PFA itu bisa menguatkan mental mereka supaya mereka lebih siap dan siaga dalam menghadapi bencana atau bencana susulan yang bisa terjadi,” sambungnya.
Meski menjadi relawan PFA memiliki risikonya tersendiri. Sebut saja harus tinggal di wilayah terdampak bencana. Di kondisi yang sulit memenuhi kebutuhan sanitasi, logistik, sinyal teknologi, dan lainnya. Belum lagi risiko akan ancaman bencana susulan. Menambah daftar risiko menjadi seorang relawan.
Namun di atas semua itu, ia tetap senang dan semangat menjadi seorang relawan. Baginya, menolong orang lain, terutama bagi penyintas bencana, merupakan prioritas tertinggi dalam menjadi seorang manusia seutuhnya.
“Bagaimanapun lelahnya kita, kita akan bahagia ketika melihat orang yang kita bantu tersenyum. Lelah kita itu seakan melebur,” tutup Julia, dikutip dari dompetdhuafa.org.





