
BADAN Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah memiliki oximeter untuk mengukur saturasi kadar oksigen dalam darah.
Jubir WHO, Margaret Harris seperti dikutip Reuters beberapa waktu lalu menyebutkan, dengan oximeter di rumah, pasien dapat mengukur kadar oksigen secara mandiri. Penurunan tiba-tiba saturasi oksigen dalam darah ditemukan dari beberapa kasus pasien Covid-19.
Menurut catatan, anjloknya saturasi oksigen dalam darah sering dialami oleh pasien Covid-19 sehingga bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Dengan memiliki oximeter, menurut Harris, orang terinfeksi Covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri bisa menidentifikasi kondsisi kesehatannya, apakah makin memburuk sehingga harus dilarikan ke rumah sakit
Oximeter yang merupakan alat tes non-invasif berukuran kecil, bisa di bawa ke mana saja dan penggunaanya  juga mudah hanya dengan menempelkannya ujung jari. Sejak ditemukan oleh seorang insinyur Jepang, oximeter telah berkontribusi menyelamatkan nyawa manusia termasuk korban Covid-19.
Batas saturasi oksigen pada manusia normal atau dalam kondisi sehat berada pada kisaran antara 98 sampai 100 persen, sehingga bila drop, apalagi di bawah 90 persen, pasien harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Oximeter  juga berfungsi untuk mencegah terjadinya happy hipoxia (silent hypoxemia) yang bisa mengancam jiwa  karena tanpa ada gejala  atau keluhan yang dirasakan pasien saat kadar oksigen dalam darah tiba-tiba drop.
Happy  hipoxia jika terjadi secara terus-menerus akan mengakibatkan fungsi organ tubuh terganggu terutama organ penting  seperti jantung, otak, dan ginjal.
Pasien Covid-19 yang tidak bergejala ataupun hanya memiliki gejala ringan, juga bisa mengalami happy hipoxia karena menurunnya kadar saturasi oksigen yang tak disadari dan jika  tak segera diatasi, bisa terjadi kegagalan organ yang berujung kematian.




