Mengenang Dahsyatnya Gempa Jepang 2011

tsunami
Ilustrasi: Gempa dan tsunami / theathlantic.com

RIKUZENTAKATA—Hari ini, lima tahun lalu Jepang diguncang gempa dan tsunami hebat. Puluhan ribu orang tewas dalam musibah ini. Penilaian dari Center for Disaster Management and Risk Reduction (CEDIM) Jerman menyebutkan, bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi mencapai US$ 365 miliar.

Gempa dan tsunami di Sendari didahului oleh serangkaian gempa awal dengan kekuatan 7,2 MW pada 9 Maret yang terletak 40 kilometer (25 mil) dari zona gempa 11 Maret, dan diikuti oleh tiga gempa lainnya pada hari yang sama di atas 6 MW.[6] Satu menit sebelum gempa, Peringatan Awal Gempa Bumi yang terhubung dengan sekitar 1.000 seismometer di Jepang mengirimkan peringatan di televisi mengenai gempa selanjutnya kepada jutaan orang. Hal ini diduga telah menyelamatkan banyak jiwa, (Foster, 2011). Awalnya, gempa ini dilaporkan berkekuatan 7,9 oleh USGS. Magnitudo gempa kemudian direvisi menjadi 8,8 dan 8,9, dan akhirnya 9,0 atau 9,1 SR.

Dampak bencana sangat luas. Mulai dari kebakaran dan banjir di Pelabuhan Tokyo, penghentian layanan kereta peluru Shinkansen, juga Bandar Udara Internasional Narita dan Bandar Udara Haneda yang berhenti beroperasi.

Menurut Tohoku Electric, sekitar 4,4 juta rumah di timur laut Jepang mengalami pemadaman listrik. Sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir dan konvensional juga dimatikan setelah gempa. Selain itu, bencana ini juga berdampak pada kebakaran di kilang minyak Cosmo Oil di Ichihara, serta kerusakan  kabel bawah laut dekat Kita di pantai timur Jepang.

Lebih dari itu, gempa dan tsunami di Sendai menyebabkan PLTN Onagawa, Fukushima I, Fukushima II dan TĹŤkai secara otomatis padam. Menurut Associated Press, Jepang langsung mengumumkan keadaan darurat setelah kegagalan sistem pendingin di PLTN Fukushima I tak lama setelah gempa berlangsung.

Satu fasilitas di Fukushima mengalami kesalahan mekanis pada sistem pendingin reaktor setelah dipadamkan dan suplai tenaga darurat gagal, namun tidak ada kebocoran radiasi

Bencana ini memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang. Banyak analis ketika itu memprediksi ekonomi Jepang akan mengalami resesi. Untungnya ramalan itu tidak terjadi karena Jepang juga menggenjot pembangunan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Setelah bencana terjadi, indeks Nikkei Jepang mengalami penurunan 5% setelah perdagangan ditutup. Pasar saham lain di seluruh dunia juga terkena dampaknya; DAX Jerman jatuh 1,2% hingga 6.978 poin dalam hitungan menit. Bursa Efek Mumbai atau BSE SENSEX (India) juga jatuh 0,84%. Harga minyak juga jatuh sebagai akibat dari gempa di Jepang.

Kini, 5 tahun sudah berlalu. Meski rekonstruksi berjalan baik, namun kesedihan masih menggelayuti keluarga korban. “Infrastruktur sudah mulai pulih, tapi hati tidak,” kata Eiki Kumagai, pemadam kebakaran relawan yang kehilangan 51 rekannya, seperti dikutip Reters.

Perdana Menteri Shinzo Abe dan Kaisar Akihito akan menaburkan bunga pada sebuah upacara peringatan di Tokyo. Mereka akan mengheningkan cipta untuk beberapa saat mengenang para korban.

Advertisement