Begini Nasib Warga Eks Kampung Pulo di Rusunawa Jatinegara Barat

Siti Masriah warga rusunawa Jatinegara Barat tengah melayani pembeli di kiosnya. foto Aditya KBK

JAKARTA, KBK – Tepat pukul 9 pagi serombongan ibu-ibu yang berjumlah 7 orang keluar lift lalu bergegas menuju ruangan berukuran 12 x 5 meter, didalamnya telah menunggu 2 orang wanita berpakaian serba putih.

Sejak menghuni lantai 11 Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Jatinegara Barat Desember tahun lalu, Lilis Isnaini (50) memiliki kegiatan baru yakni mengikuti pelatihan pola asuh keluarga yang diadakan tiap 2 minggu sekali selama 6 kali pertemuan.

Bersama 6 ibu rumah tangga lainnya dengan tekun Lilis mulai membuat lembar balik pola asuh keluarga dengan cara merekatkan kertas kado menggunakan lem kertas ke potongan kardus air mineral. Kegiatan ini mirip dengan membuat kliping.

Dengan suara lantang Nurdiana (52) dosen dari Politeknik Kesehatan Jakarta 3 selaku penyuluh mulai menyemangati peserta sembari membantu Lilis menyiapkan materi yang ingin ditempel pada lembar balik.

Dengan wajah riang Lilis mengaku banyak mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut, ia menjadi bisa mengasuh 4 dari 7 anaknya yang masih tinggal bersama dirinya dengan baik. Apalagi suami Lilis, Syamsul Kamal (55) yang berprofesi sebagai tukang ojek online jarang di rumah sehingga Lilis perlu cara jitu guna mengasuh anaknya supaya tidak salah pergaulan.

“Tapi selama menghuni rusun anak kedua saya Maya Tisnawati dan suaminya Abdulrahman tidak bisa mengajar ngaji lagi, soalnya pas gusuran kemaren mereka tidak mendapatkan unit di rusun ini karena waktu di Kampung Pulo Tisna tinggal bersama saya meski memiliki KK yang berbeda. Satu rumah yang tergusur hanya dapat 1 unit rusun,” ucap wanita asal Bogor itu kepada KBK, Kamis (15/9).

Kehidupan yang berubah sejak menempati Rusunawa Jatinegara Barat juga dialami oleh Hasanudin (54) penghuni lantai 7 RT 6 RW 9. Sejak pagi bapak 4 anak ini lebih sering terlihat santai dengan kongkow bersama tetangga sampil menyuruput kopi di halaman bawah rusunawa.

Sesekali terdengar tawa namun tak sedikit juga yang senyum sekedarnya, pertanda pusing memikirkan pekerjaan yang tak kunjung didapatkan. Setelah Hasanudin menghuni rusunawa Jatinegara Barat usahanya berjualan daging di Pasar Jatinegara terhenti, ia mengaku bangkrut hingga tak menyisakan tabungan sedikitpun.

“Tabungan saya habis untuk rapat pra penggusuran, setiap hari saya keluarkan uang untuk rapat bersama warga. Katanya setiap jengkal bangunan termasuk kandang ayam mau diberikan ganti rugi oleh pemerintah. Ternyata tidak, uang saya habis dan tidak punya modal untuk usaha daging,” ucap suami Siti Atiah tersebut.

Guna mengisi waktu luang, setiap siang Hasanudin memilih merawat tanaman hidroponik yang letaknya dibelakang rusunawa. Itu pun menurut Hasanudin tak menghasilkan uang karena sayuran yang ia tanam lebih sering dikonsumsi oleh warga rusunawa lainnya secara cuma-cuma. Kondisi tersebut masih diberatkan oleh biaya sewa rusun sebesar Rp 300 ribu per bulan dengan biaya air dan listrik diluar itu.

“Ini hasil panennya tiap 1 bulan sekali itu pun tidak menentu. Oleh karena itu saya tidak jual di pasar, palingan dikonsumsi warga sini. Ini kan juga sistim hidroponiknya ngga bener karena dari pemprov DKI tendernya tak dilengkapi pompa untuk nutrisi tanaman,” kata Hasanudin yang mengaku mulai menggeluti hidroponik sejak 8 bulan lalu.

Namun tak semuanya bernasip seperti Hasanudin. Siti Masriah (27) atau Imas panggilan akrabnya penghuni lantai 9, RT 2 RW 9 mengaku lebih beruntung. Sejak matahari masih mengumpat diujung timur,  Imas sudah disibukan dengan membuka warung sembakonya di lantai 2.

Tak lama berselang suami Imas, Hendra Santoso (28) datang menghampiri dengan membawa sekarung sayur mayur lengkap dengan bumbu dapur  yang baru dibeli dari Pasar Induk Keramat Jati untuk dijual kembali.

Kendati modal untuk berjualan sembako diambil dari tabungan pribadi, namun Imas merasa bahagia karena ia tak perlu menyewa lapak untuk berjualan.

“Saya disini tidak sewa, ya mudah-mudahan digratiskan hingga seterusnya,” ucap Imas yang mulai menekuni usaha sembako sejak Agustus 2015 silam.

Muhmmad Rifat (4) anak semata wayang Imas pun mendapatkan fasilitas pendidikan yang mumpuni karena difasilitasi sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di lantai dasar oleh pihak rusunawa. Namun itu tak gratis, Imas masih harus merogoh koceknya sebagai SPP sebsar Rp2 ribu per setiap kali hadir.

“Setiap masuk PAUD mesti bayar Rp 2 ribu, seragam masih harus beli, buku-buku juga mesti beli. Semoga semuaya dapat digratiskan,” harap wanita asal Jasinga, Bogor, Jawa Barat itu.

Menurut Sarkim Sukarya Kasubag Tata Usaha Rusunawa Jatinegara Barat, segala macam biaya yang mewajibkan penghuni untuk membayar tak lain guna mendukung operasional sesuai dengan Pergub.

Adapun fasilitas khusus dan fasilitas umum yang dapat diakses penghuni antara lain masjid, PAUD, area usaha, taman bermain, perpustakaan, parkiran motor dan ruang serbaguna yang sewaktu-waktu dapat dipakai untuk acara seperti hajatan. Dari segi kelembagaan dirusun ini ada 8 RT 1 RW juga terdapat PKK dan RMK.

“Masalah yang kini tengah kami hadapi ialah pemberdayaan warga karena tingkat pengangguran disini mencapai 20% dari 518 KK. Selain itu terdapat manula tak berpenghasilan yang butuh bantuan, kami berharap kepada LSM, Organisasi maupun CSR turut andil membantu warga rusunawa khususnya yang menunggak pembayaran,” ucap Sarkim.

Bahrudin ketua RT 09 Rusunawa Jatinegara Barat juga mengatakan hal senada. Berdasarkan catatannya sampai dengan September 2016 sedikitnya terdapat 15 KK yang menunggak pembayaran dari berbagai kondisi ekonomi.

“Rata-rata dari mereka berusia 50 tahun ke atas. Penghasilannya tak menentu bahkan pengangguran dan yang paling mengenaskan sebagian besar dari mereka atau anak-anak mereka sakit seperti stroke, gula, ginjal, berkebutuhan khusus hingga gangguan jiwa,” jelas Bahrudin.

Advertisement