Mengintip Pengrajin Papan Gilesan yang Tetap Bertahan Meski Tergilas Zaman

Foto istimewa

PURWOKERTO – Masyarakat di daerah Purwokerto  biasa menyebut alat ini dengan sebutan gilesan, alat tradisional yang berfungsi sebagai papan penggilas pakaian saat mencuci. Bentuk fisik Alat ini berupa papan kayu berukuran 40 x 60 cm dengan ketebalan kurang lebih 5 cm. Pada masanya hampir disetiap rumah memiliki papan tersebut.

Semakin majunya teknologi sedikit demi sedikit menggerus keberadaan gilesan. Apalagi bahan dasar yang semakin susah didapat dan fungsinya yang tak lagi seusai kebutuhan membuat gilesan semakin terpinggirkan. Untuk dapat menghasilkan gilesan dengan ukuran normal minimal harus menggunakan kayu dengan diameter 1.5 meter.

kayu yang digunakan sebagai bahan dasar pun tidak boleh sembarangan karena dapat menurunkan kualitas gilesan. Maka tak heran bila sebagian pengrajin gilesan gulung tikar akibat kondisi yang sedemikian kompleks tersebut. Tak berhenti disitu hadirnya”papan” gilesan impor berbahan plastik dan silikon pun seakan menjadi kawat berduri yang menghalangi para pengrajin papan gilesan onvnsional menjajakan produknya.

Seakan tak mau meninggalkan kearifan lokal, Nurudin (49) salah satu warga Grumbul Depok, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah memilih tetap bertahan dalam pembuatan papan penggilasan.

Menurut Nurudin untuk memenuhi kebutuhan bahan dasar Nurudin harus membeli pohon yang kayunya keras seperti petai, jengkol dan senggon. Setelah ditebang potongan kayu tersebut di gergaji menggunakan mesin pembelah kayu untuk dijadikan papan. Berikutnya papan baru kemudian dibentuk bergelombang dan bergerigi.

“Proses pengerjaannya mesti teliti agar jarak antara gerigi teratur,” ucap Nurudin seperti dikutip Melung.desa.id

Rutinitas tersebut hampir dilakukan Nurudin setiap hari di rumah produksi yang merupakan bangunan bilik berdinding bambu berlantaikan tanah. Jika hujan tiba ia harus sigap mengemasi perkakasnya supaya tak berkarat akibat terkena tetesan air hujan yang menyusup masuk ke biliknya.

Dalam sehari Nurrudin mampu membuat 10 (sepuluh) buah papan penggilasan, dengan harga persatunya sebesar Rp. 25.000,- ditingkat pengepul. Namun jika diecerkan hargnya dapat naik menjadi Rp. 30.000,- .

Usai proses finishing selesai, tak lantas pembeli datang menghampiri rumahnya. Ia masih harus berjuang memboyong sedikitnya 200 buah papan gilesan agar bisa menutup ongkos mobil angkutan. Nurudin biasa memasarkan produknya ke pasar-pasar yang berada di Purwokerto seperti Pasar Ajibarang dan Pasar Wage.

Satu hal yang menurut Nurdin ia masih bisa bertahan hingga detik ini, yakni kualitas papan gilesannya yang mulus, rapi dan halus. Namun cepat atau lambat, di desa maupun di kota-kota kecil keberadaan papan gilesan akan tergilas oleh kemajuan zaman. Dibutuhkan perhatian khusus bagi para pemangku kepentingan guna memberdayakan masyarakatnya jika keberadaan papan gilesan terus tergerus dan terbawa arus modernisasi.

Advertisement