Menikmati Banjir Jakarta

Gubernur Anies pernah berjanji akan menciptakan "kolam" buat rakyatnya. Dan sekarang kolam raksasa itu telah terwujud.

SEJAK jaman Belanda Jakarta memang sudah akrab dengan banjir, gara-gara dilewati 13 aliran sungai. Pemerintahannya dari gubernur ke gubernur selalu mencoba mengatasi dengan berbagai kebijaksanaan. Biasanya, gubernur baru menyempurnakan kebjakan gubernur sebelumnya. Tapi hanya di era Gubernur Anies Baswedanlah kebijakan gubernur lama ditinggalkan karena yakin dengan konsepnya sendiri. Dan ketika banjir malah datang berjilid-jilid, orang-orang dekat gubernur harus mengatakan, nikmati saja banjir itu, karena banjir Jakarta adalah berkah dari doa gubernur soleh.

Ketika Jakarta dipimpin Gubernur Ahok BTP, demo terjadi berjilid-jilid karena banyak yang tak suka akan karakternya yang keras dan tegas. Tapi setelah gubernurnya digantikan Anies Baswedan, justru banjir yang datang berjilid-jilid. Sejak 1 Januari 2020 hingga Selasa 25 Februari lalu, banjir terjadi sudah 5 kali. Kerugian materi lebih dari Rp 1 triliun sementara korban jiwa puluhan orang.

Dari kacamata umum, banjir adalah musibah. Tetapi Wakil Ketua Bamus Betawi Rachmat HS, dalam talk show di TV swasta dia menilai bahwa banjir di Jakarta sejak 1 Januari 2020 itu sebagai berkah, karena datangnya selalu hari libur, sehingga pelayanan masyarakat tidak terganggu dan warga bisa lebih cepat mengantisipasinya. Lalu katanya, “Ini berkat doa gubernur  soleh Anies Baswedan.”

Luar biasa ini orang. Begitu banyak nyawa melayang, begitu banyak asset hancur bercampur lumpur, masih dianggap sebagai berkah? Ini benar-benar pemikiran orang tingkat sufi, yang mampu memaknai musibah sebagai berkah. Ini benar-benar tokoh yang punya kesabaran tingkat dewa, karena hadits Nabi pun mengatakan: Innalloha ma’a shobirin (Allah selalu bersama orang yang bersabar). Dalam Quran surat Arrahman juga berulangkali difirmankan, “Nikmat Allah apa lagi yang hendak kamu dustakan?”

Bagi sebagian orang, pendapat Wakil Ketua Bamus Betawi itu mampu meredakan emosi, bahwa musibah itu tak lain hanyalah ujian untuk meningkatkan derajat seseorang. Tengok ke belakang kisah Nabi Ayub, yang diberi cobaan bertubi-tubi dari anak-anaknya yang diambil Allah Swt lebih cepat, sampai cobaan berupa sakit berkepanjangan. Tapi Nabi Ayub tetap tawakal tak pernah mengeluh.

Gubernur Anies berulangkali mengatakan, air hujan itu harus dimasukkan ke bumi, karena itu bagian dari sunatulah. Ketika air hujan malah dialirkan lewat gorong-gorong raksasa kelaut, itu kebijakan Pemprov DKI yang fatal. Karenanya Anies tak mau melanjutkan normalisasi, karena kadung yakin pada konsep naturaliasi, yakni mengatasi banjir dengan pendekatan alam.

Sekda DKI Saefullah harus siap capek luar biasa mendampingi Gubernur Anies. Apa kata sang gubernur, dia harus memback up, tak boleh mengoreksi atau mementahkan. Maklum, ini politik cari aman. Dia adalah Sekda peninggalan Ahok, tapi tetap bisa dipakai Gubernur Anies, karena mampu segendang sepenarian. Anies menari lenso, Saefullah harus bisa menari lenso. Gubenurnya menari cha cha cha, Pak Sekda harus bisa pula menari cha cha cha.

Ketika berulang kali Gubernur Anies bilang bahwa air harus masuk ke tanah, maka biar banjir terus datang berjilid-jilid, dia cukup menggaris bawahi dengan bilang, “Nikmati saja banjir itu, bukankah dalam tubuh manusia dua pertiganya (60 persen) juga terdiri dari air?”

Merujuk dari ucapan Sekda Saefullah, maka banjir besar di DKI Jakarta ini kemungkinan besar ada juga andilnya warga kota yang beser (kencing melulu) dan diare. Setidaknya sumbangan air itu datang dari warga kota yang tak punya septic tank di rumah. Mereka cukup mengalirkannya ke kali di dekatnya atau bahkan pasang WC helikopter.

Maka harus diacungi jempol ketika Pemprov DKI pada tahun 2020 ini menganggarkan Rp 166 miliar untuk pembangunan 30 septic tank komunal bagi penduduk miskin di seputar kali-kali di Ibukota. Niscaya ini akan mengurangi debit air di setiap aliran sungai.

Bagaimana jika nantinya tetap terjadi luapan kali dan banjir? Nikmati saja, itu kan hanyalah sekelompok air yang masuk waiting list untuk masuk ke bumi. Jakarta takkan terganggu, karena mereka masuk antrian di hari-hari libur sesuai doa gubernur soleh. Tapi faktanya banjir 25 Februari lalu kok jatuh di hari kerja (Selasa)? Maka Rachmat HS Wakil Ketua Bamus Betawi menjawab pakai debat kusir,   “Kan statemen saya kemarin-kemarin sebelum tanggal 25 Februari.” Jadi maklumi saja bila seorang sufi kok dia tiba-tiba menjadi tukang delman! (Cantrik Metaram)

 

Advertisement