
WALAU terjadi tren penurunan jumlah korban terinfeksi virus corona galur baru (Covid-19) di pusat awal epidemi di China daratan khususnya kota Wuhan, Prov. Hubei, kini pusat penyebaran virus mematikan itu bergeser ke Iran.
Sampai Senin pagi (2/3), pandemi Covid-19 sudah menyebar di 64 negara lintas benua, dengan total angka korban 2.996 orang, tertinggi di China termasuk sekitar 135 orang di luar China, terbanyak di Iran (54), disusul Itali (34), Korea Selatan (14) dan Jepang (12) serta 21 korban lagi tersebar di sejumlah negara.
Dari angka penyebaran virus berasal dari hewan itu, China tertinggi (79.826 kasus), disusul Korea Selatan (3.736), Itali (1.694) dan Iran 978 kasus. Bahkan Wapres Iran Masoumeh Ebtekar dan Menkes Iraj Harirci dilaporkan ikut terparar Covid-19.
Kasus pertama penyebaran Covid-19 terdeteksi di Iran pada19 Feb. lalu yang kemudian menyebar ke negara-negara tetangganya di kawasan Timur Tengah, Armenia, Azerbaijan, Georgia dan Pakistan.
Angka kematian akibat paparan Covid-19 di Iran cenderung naik dari hari ke hari dan Minggu (1/3) bertambah 11 orang lagi, sementara jumlah pasien yang positif terpapar bertambah 385 orang menjadi 978 orang di hari yang sama.
Kasus-kasus baru dilaporkan pula bermunculan di sejumlah kota di Iran termasuk kota peribadatan kaum Syiah di Mashhad sehingga pemerintah meminta penutupan sementara rumah-rumah ibadah demi mencegah penyebarannya.
Sementara itu untuk pertama kalinya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) juga mengonfirmasi adanya dua warga negara Indonesia (WNI) yangpositif terjangkit virus corona (2/3))
Kedua WNI (seorang ibu usia 64 tahun dan anaknya (31 tahun) diketahui melakukan kontak dengan WN Jepang berusia 41 tahun yang dinyatakan positif virus corona saat berada di Malaysia. Ibu dan anaknya yang tinggal di Depok, Jabar itu kini dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara.
“Dicek tadi pagi, saya dapat laporan dari Pak Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bahwa ibu ini dan putrinya positif terinfeksi corona,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/3). Menurut catatan, kedua pasien tinggal di Depok dan saat ini dirawat di RS Pernafasan Sulianti Saroso, di Jakarta Utara.
Ragukan Kemampuan RI
Pihak asing meragukan keandalan otoritas kesehatan RI mendeteksi virus Covid-19 karena sejauh ini belum ada kasus-kasus paparan virus tersebut, padahal intensitas interaksi hubungan RI dengan China cukup tinggi, ditambah lagi tingkat layanan kesehatan yang relatif masih rendah serta terbukanya pintu-pintu masuk sebagai negara kepulauan.
Di pihak lain, negara-negara dengan tingkat layanan kesehatan dan literasi tentang kesehatan masyarakatnya jauh lebih tinggi seperti Jepang dan Korsel di asia, Amerika Serikat dan Kanada serta negara-negara Uni Eropah hampir tidak ada yang lolos dari serangan Covid-19.
Penyebaran Covid-19 jika tidak bisa dihentikan, bakal mengancam perekonomian dunia selain besarnya alokasi dana bagi upaya pencegahan, pemantauan, dan penanganan pasien, juga jika saling kunjung atau aktivitas bisnis terhenti akibat larangan berpergian ke wilayah pandemi.
Itali misalnya menggelontorkan dana sekitar 3,6 juta Euro guna mendukung sektor-sektor yang terdampak Covid-19, begitu pula pemerintah Australia bertekad mengalokasikan dana berapa pun untuk mencegah penyebaran virus maut itu.
Bahkan Jerman, negara pengekspor utama ke China, menurut AFP, bakal terpukul akibat perlambatan kegiatan ekonomi China, sementara Indonesia yang juga mitra dagang dan destinasi utama wisatawan China diperkirakan juga terimbas pandemi Covid-19.
Tidak keliru jika Presiden Iran Hassan Rouhani mengingatkan warganya agar menjaga wabah Covid-19 tidak menjadi “senjata musuh” yang menyasar perekonomian negara.
Pandemi Covid-19 akan menguji daya tahan suatu bangsa atau negara tidak saja terkait bidang kesehatan, tetapi juga perekonomian, sosial, persatuan dan kesatuan.
Jika ada politisi atau pihak-pihak tertentu mencari panggung untuk tujuan tertentu dengan menyebar hoaks dan ketakutan terkait wabah Covid-19 , dimana nasionalisme anda?




