LEMBAH YORDAN – Meningkatnya gerakan-gerakan para pemukim pendatang Yahudi untuk mengusai mata air di Lembah Yordan utara, mengungkap rencana yang jelas dari penjajah Israel untuk tidak meninggalkan sumber air alami apa pun untuk orang-orang Palestina.
Meskipun hanya beberapa hari berlalu sejak pendudukan Israel memperketat kontrolnya atas mata air Ain al-Hilweh di Wadi al-Malih di Lembah Yordan, serta memagarinya dan memberlakukan status quo baru padanya, sudah terlihat gerakan-gerakan baru untuk menguasai mata air Umm al-Jamal. Karena tampaknya masalah ini tidak terkait dengan satu mata air tanpa mata air lainnya, akan tetapi merupakan langkah-langkah bertahap dan terkaji yang mencakup semua mata air secara keseluruhan.
Peneliti dan pengamat pergerakan para pemukim Yahudi di Lembah Yordan, Aref Daraghimeh, memperingatkan rencana ini. Dia menyatakan bahwa para pemukim Yahudi, setelah mengambil alih mata air Ein al-Hilweh dan al-Sakut, mereka berkumpul di sekitar mata air Umm al-Jamal untuk menguasainya, dan menghalangi orang-orang Palestina untuk mengakses airnya.
Apa yang terjadi di Lembah Yordan ini adalah kebijakan permukiman yang jelas melalui koloni permukiman penggembalaan dan pertanian untuk memburu upaya apa pun yang dilakukan warga Palestina untuk berkembang dan maju di Lembah Yordan.
Apa yang dimaksud Daraghimeh tentang koloni permukiman penggembalaan telah menjadi perhatian besar bagi warga badui dan petani Lembah Yordan, karena para pemukim Yahudi membawa kawanan ternak untuk mengepung warga Badui di padang rumput dan sumber air mereka, mengusir mereka dari padang rumput dan sumber air dan memagarinya, mencegah mereka memasukinya sehingga padang rumput dan mata air menjadi milik para pemukim Yahudi, dan ternak warga Badui Lembah Yordan tidak bisa mendapatkan makanan dan air.
Mata air Umm al-Jamal terletak di sebuah lokasi yang dekat dengan Ain al-Hilweh yang dipagari oleh para pemukim Yahudi, yaitu sekitar 500 meter dari pagar permukiman Yahudi Maskiyot yang menjadi duri bagi kawasan tersebut. Sementara itu penduduk tiga komunitas badui bergantung pada mata air ini.
Hamad Awad Kaabneh, warga Umm al-Jamal, kepada koresponden Pusat Informasi Palestina mengatakan bahwa marga al-Kaabneh, yang merupakan pengungsi, telah tinggal di Umm al-Jamal sejak tahun 1948. Ketersediaan air menjadi alasan utama klan mereka tinggal di daerah tersebut setelah mereka terusir dari Bersheba.





