JAKARTA, KBKNews.id – Lisan merupakan cerminan dari keadaan hati seseorang. Jika hati seseorang baik, maka imannya pun akan baik; dan salah satu tanda hati yang baik adalah lisan yang terkontrol.
Lisan menampakkan apa yang tersembunyi di dalam hati. Hati yang bersih akan melahirkan kata-kata yang lembut dan menenangkan, sedangkan hati yang kotor akan memunculkan ucapan yang kasar dan menyakitkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 70 agar orang-orang beriman bertakwa dan berkata benar. Dengan demikian, tutur kata yang baik menjadi tanda keimanan yang sehat, sedangkan ucapan yang buruk menunjukkan adanya masalah dalam iman seseorang.
Betapa banyak keretakan rumah tangga berawal dari ucapan yang tak terjaga. Tidak sedikit persahabatan yang retak bahkan putus hanya karena kata-kata yang melukai. Sejarah pun mencatat, pertikaian besar hingga peperangan dapat dipicu oleh lisan yang tak terkendali. Satu kalimat yang kasar mampu meruntuhkan harga diri dan memadamkan semangat hidup seseorang.
Ada kisah seorang suami yang, dalam kemarahan, merendahkan istrinya dengan mengatakan bahwa tanpa dirinya sang istri bukan siapa-siapa. Kalimat itu mungkin singkat, namun dampaknya begitu dalam—menusuk hati dan menghancurkan batin. Istrinya memang terdiam, tetapi jiwanya terluka hingga kehilangan semangat hidup. Bukan karena gangguan gaib, melainkan karena perihnya luka akibat ucapan. Karena itulah Nabi ﷺ menasihati sahabat Uqbah bin Amir ketika ditanya tentang jalan keselamatan: “Tahanlah lisanmu.” Keselamatan sejati terletak pada kemampuan menjaga kata-kata.
Penyakit-Penyakit Lisan
Berikut beberapa penyakit lisan yang harus kita jauhi:
1. Suudzon (Buruk Sangka)
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 agar kita menjauhi prasangka buruk dan tidak menggunjing.
Imam Hamdun al-Qassar berkata:
Jika saudaramu melakukan kesalahan, carikan 70 uzur (alasan baik) untuknya.
2. Mengolok-olok dan Merendahkan
Hidup ini berputar. Hari ini kita di atas, besok bisa di bawah.
Orang yang kita hina hari ini bisa jadi lebih mulia di sisi Allah.
Allah sudah mengingatkan bahwa suatu kaum jangan merendahkan kaum lain, boleh jadi yang direndahkan lebih baik daripada yang merendahkan.
3. Ghibah (Menggunjing)
Ghibah itu seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati.
Rasanya menjijikkan, tapi anehnya banyak yang menikmatinya.
Padahal ghibah bisa menghapus pahala amal.
4. Namimah (Adu Domba)
Nabi ﷺ pernah melewati dua kuburan. Beliau bersabda bahwa keduanya sedang diazab. Salah satunya karena suka mengadu domba.
Mengadu domba itu menanam “kemaduh”, menyebar racun di tengah masyarakat.
5. Dusta
Nabi ﷺ bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat.”
Dusta menjerumuskan ke neraka. Kecuali dusta untuk mendamaikan dua orang yang bertengkar, itu diperbolehkan demi kebaikan.
Dalam Surah Al-Ahzab ayat 71, Allah menjanjikan bahwa Dia akan memperbaiki amal-amal dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Janji ini menjadi kabar gembira bagi siapa saja yang ingin ibadahnya semakin baik, amalnya diterima, dan kesalahannya dihapuskan. Salah satu kunci untuk meraih semua itu adalah dengan menjaga lisan, karena dari ucapan yang terjaga akan lahir perbaikan dalam amal dan kehidupan.





