
Jakarta, KBKNews.id – Nama konglomerat Mochtar Riady tak bisa dilepaskan dari geliat industri properti dan keuangan di Indonesia. Pendiri Lippo Group ini dikenal sebagai salah satu pengusaha yang berhasil membangun kerajaan bisnis lintas sektor. Mulai dari perbankan, properti, perhotelan, layanan kesehatan, hingga pendidikan.
Dalam beberapa waktu terakhir, namanya kembali mencuat seiring kabar penjajakan pelepasan salah satu aset prestisius di Singapura, gedung pencakar langit One Raffles Place. Namun jauh sebelum memiliki aset kelas dunia, perjalanan Mochtar Riady dimulai dari kisah sederhana seorang anak pedagang batik.
Akar Perantau dan Awal Perjuangan
Mochtar Riady lahir di Malang, Jawa Timur, pada 12 Mei 1929 dengan nama Lie Moe Tie. Ia merupakan keturunan Tionghoa perantau dari Fujian, China. Tumbuh di lingkungan keluarga pedagang batik, dunia usaha sudah akrab baginya sejak kecil.
Ia menempuh pendidikan di jurusan filsafat Universitas Nanking. Sempat bermukim di Hong Kong hingga 1950, Mochtar kemudian kembali ke Indonesia setahun setelahnya. Tekadnya kala itu jelas, ingin berkarier sebagai bankir di ibu kota.
Namun jalan menuju industri keuangan tidak serta-merta terbuka lebar. Ia sempat membantu mengelola toko milik mertua dan di usia 22 tahun memberanikan diri membuka toko sepeda. Langkah kecil ini menjadi pijakan awal untuk memahami dinamika usaha secara langsung.
“Sentuhan Ajaib” di Dunia Perbankan
Kesempatan emas datang ketika beberapa bank skala kecil mempercayakan dirinya untuk memperbaiki tata kelola dan strategi bisnis. Di sinilah reputasinya mulai terbentuk.
Mochtar dikenal piawai membangun kembali kepercayaan nasabah dan merancang strategi pemasaran yang agresif. Julukan sebagai bankir dengan “sentuhan ajaib pemasaran” melekat karena kemampuannya menghidupkan kembali bank yang bermasalah.
Ia terlibat dalam penggabungan sejumlah bank yang kemudian melahirkan Panin Bank. Kariernya juga bersinggungan dengan Bank Central Asia, salah satu bank terbesar di Indonesia.
Titik balik penting terjadi pada 1980-an ketika ia mengakuisisi Bank Perniagaan Indonesia. Langkah ini menjadi fondasi transformasi bisnisnya dari sekadar bankir profesional menjadi pemilik dan pengendali grup usaha.
Melalui serangkaian merger pada 1988, lahirlah Lippobank, yang kemudian berkembang menjadi Lippo Group—sebuah konglomerasi dengan ekspansi luas.
Ekspansi Properti dan Kota Mandiri
Lippo Group dikenal luas melalui proyek-proyek properti berskala besar. Tidak hanya membangun perumahan, grup ini mengembangkan kota satelit terpadu, apartemen, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, hingga kawasan industri.
Ekspansi tersebut menjadikan Lippo sebagai salah satu pengembang properti terkemuka di Indonesia. Model kota mandiri yang mereka bangun menjadi simbol perubahan lanskap urban di berbagai daerah.
Di luar Indonesia, jejak investasinya juga terlihat di Singapura melalui kepemilikan One Raffles Place. Itu merupakan sebuah gedung tertinggi ketiga di negara tersebut yang berlokasi di jantung distrik bisnis dan terhubung langsung dengan MRT Raffles Place. Properti kelas A ini ditaksir bernilai sekitar 1,9 miliar USD.
Hotel, Rumah Sakit, hingga Pendidikan
Ekspansi Lippo tak berhenti di properti. Di sektor perhotelan, grup ini mengembangkan jaringan Aryaduta Hotels yang dikenal sebagai salah satu jaringan hotel bintang lima terbesar di Indonesia. Aryaduta Hotels terdapat di delapan lokasi di berbagai kota besar.
Pada sektor kesehatan, Lippo mengelola Siloam Hospitals, yang kini menjadi salah satu jaringan layanan kesehatan swasta terbesar di Tanah Air. Kehadiran Siloam memperluas portofolio Lippo ke bidang yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Di bidang pendidikan, Lippo melalui Yayasan Pelita Harapan mengelola puluhan sekolah K-12 dan tiga kampus Universitas Pelita Harapan. Langkah ini menunjukkan strategi diversifikasi yang tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia.
Warisan Seorang Bankir yang Bertransformasi
Perjalanan Mochtar Riady mencerminkan transformasi panjang. Dari anak pedagang batik, pemilik toko sepeda, bankir profesional, hingga pendiri konglomerasi multinasional.
Fondasi keuangan yang kuat menjadi batu loncatan untuk memperluas usaha ke sektor riil. Kemampuan membaca peluang, mengelola risiko, dan membangun jaringan menjadi kunci pertumbuhan Lippo Group selama beberapa dekade.




