Menkopolhukam ditusuk, kok Bisa?

Detik-detik saat petugas berusaha menyelamatkan Menkopolhukam Wiranto setelah tiba-tiba ditusuk oleh SA, anggota JAD saat baru turun dari kendaraan menuju helipad di alun-alun Menes, Pandeglang, Kamis (10/10) pukul 11.50 siang

NYAWA Menkopolkam Wiranto masih terselamatkan walau perutnya terluka cukup parah akibat sabetan pisau SA saat turun dari kendaraan di alun-alun Kec. Menes, Kab. Pandeglang, Kamis siang (10/9).

“Masih untung, “ respons seperti sering dilontarkan khalayak sesuai filsafah bangsa kita saat tertimpa musibah atau petaka. Memang, kehadiran Wiranto dengan posisi di kabinet yang diembannya, amat penting di tengah ruwetnya situasi dan persoalan yang dihadapi bangsa dan negara saat ini.

Di pentas politik, baru saja terjadi eskalasi unjukrasa mahasiswa di berbagai kota menuntut pembatalan revisi UU KPK dan pengesahan RUU yang dinilai memuat pasal-pasal kontroversial lainnya.

Janji Presiden Jokowi menerbitkan Perppu memuat penundaan revisi UU belum dipenuhi, diduga akibat “tekanan” dari sana-sini, terutama dari parpol dan fraksi-fraksinya di DPR yang ngotot agar UU tetap diberlakukan walau publik menolaknya karena dinilai melemahkan KPK.

Kegentingan lain, baru saja terjadi aksi massa di berbagai kota di Papua dan Papua Barat (23/9) , terutama di Wamena yang berujung aksi vandalisme dan kekerasan, menewaskan 33 perantau dan melukai ratusan lainnya serta merusak ratusan bangunan dan kendaraan.

Terlebih lagi, pelantikan Jokowi untuk jabatan ke-2 sebagai pemenang pilpres 2019 akan digelar 20 Oktober yang juga menuntut kewaspadaan terutama aparat keamanan agar helat besar ini tidak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok pengacau.

Kembali ke kasus penusukan Wiranto. Bagaimana bisa, SA dan isterinya,anggota kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) bisa menerobos pengawalan hingga jarak amat dekat? Jika saja pelaku menggembol bom, tentu bakal lebih banyak lagi korban berjatuhan.

Aparat pengamanan memang harus “kaku”pada standar prosedur pengamanan, karena kelonggaran, sekecil apa pun bakal dijadikan peluang oleh teroris atau siapa pun yang berniat melakukan aksinya.

Ewuh-pakewuh
Pada kejadian di Menes, agaknya petugas keamanan ewuh-pakewuh mencegah kedua pelaku menerobos area pengamanan. Biasanya karena mungkin menduga, mereka kerabat atau kenal dekat dengan tokoh yang diamankan atau dengan pejabat daerah setempat.

Hal itu tidak boleh terulang lagi, apalagi saat pengamanan VVIP seperti Presiden Jokowi yang dikenal sangat bersahaja, sering spontan menyapa dan menyalami setiap orang di tengah kerumunan.

Dari sisi teroris, berbagai pola dan cara dilakukan, mulai dari yang paling mudah, menyerang dari jarak dekat dengan memanfaatkan kelemahan sistem pengamanan, bom bunuh diri sampai menggunakan pesawat terbang (kasus pemboman WTC, AS, 11 Sept 2001).

Serangan dari jarak dekat a.l. terjadi atas diri Ketua PKB Matori Abdul Djalil yang dibacok orang di rumahnya pada Maret 2000, Paus Paulus Johanes II ditikam pemuda Turki Mehmet Aqca (Mei 1981) dan mantan PM Rajiv Gandhi tewas oleh pembom bunuh diri perempuan (Mei 1991).

Pelaku teror tentu juga terus meningkatkan keahliannya, mencari celah rutinitas prosedur pengamanan, cara-cara mengelabui petugas, menyamar, melenyapkan barang bukti dan meloloskan diri.

Mengingat semakin beragamnya modus operandi, pola, taktik dan strategi para teroris atau siapa pun yang berniat jahat, maka aparat keamanan dan intelijen tentunya harus terus mengasah keahliannya dan kinerjanya dievaluasi secara berkala.

Mungkin bisa berkaca dari Jerman. Sistem pelatihan pasukan khusus anti terorisnya (Grenzschutz Gruppe Neun – GSG9) dibenahi hanya gara-gara diduga menewaskan pentolan teroris tentara merah (RAF) Wolfgang Grams yang diburunya (1993), padahal terbukti kemudian ia tewas karena bunuh diri.

Upaya cegah tangkal kejadian dituntut, karena setelah terjadi, selain menimbulkan risiko, baik harta benda atau nyawa, rasa aman publik terusik dan menjadi sorotan dunia luar.

Kegagalan mencegah aksi teroris atau kekerasan, menimbulkan trauma dan ketakutan bagi penyintas dan masyarakat luas, sebaliknya bakal menginspirasi pelaku mengulangi aksinya, bahkan orang atau pihak lain melakukan hal sama.

Waspada….dan terus waspada, teror mengintip dimana-mana!

Advertisement