JAKARTA – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan jika Indonesia terus memantau kekerasan yangdilakukan tentara Myanmar terhadap suku Rohingya di Rakhine.
“Dubes RI di Yangon memantau secara dekat perkembangan di Rakhine,” kata Retno pada Republika.co.id, Ahad (20/11/2016).
Namun menurutnya informasi aksi kekerasan dan lainnya masih banyak yang perlu dikonfirmasi terlebih dahulu. “Beberapa berita memang harus dikonfirmasi dulu,” kata dia. Meski demikian, sikap Indonesia jelas terhadap kondisi di Rakhine. Retno mengatakan, Indonesia ingin melihat Rakhine State yang damai sejahtera dan inklusif.
“Dukungan Pemerintah RI terhadap pembangunan di Rakhine yang inklusif juga konkret, kita sudah membangun sekolah di sana,” kata dia.
Sementara itu sebelumnya Juru bicara Kemenlu, Arrmanatha Nasir, juga mengatakan dukungan Indonesia pada Myanmar sudah cukup banyak. Hal ini karena Indonesia memang selalu mendukung upaya penyelesaian damai. Ia menambahkan, perhatian Indonesia terhadap isu Rohingya dan Rakhine cukup tinggi.
Dikatakannya, beberapa waktu lalu pemerintah Myanmar mengundang Dubes asing untuk mengunjungi Rakhine. Menurut Arrmanatha, Dubes Indonesia ikut hadir di sana. Badan PBB untuk pengungsi, UNHCR juga telah menyatakan kekhawatirannya soal keamanan warga sipil di Rakhine.
“Kami mendesak pemerintah untuk memastikan perlindungan dan martabat seluruh warga sipil sesuai peraturan dan kewajiban internasional,” katanya dalam situs UNHCR.
Lembaga juga meminta semua pihak untuk tenang dan memberi akses pada bantuan kemanusiaan. Masyarakat di sana diyakini sangat butuh makanan, tempat berlindung, dan perawatan medis.
“UNHCR mendesak pemerintah untuk segera memberi akses bantuan agar 160 ribu warga sipil bisa kembali melanjutkan hidupnya,” katanya. UNHCR juga meminta pemerintah Bangladesh agar membuka perbatasan sehingga warga sipil yang melarikan diri dari kekerasan bisa menyelamatkan diri.





