JAKARTA, KBKNews.id – Piala Dunia 2026 sudah lebih dari seminggu digelar di tiga negara yakni Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada. Dua bintang dunia Lionel Messi dan Christiano Ronaldo masih jadi sorotan.
Salah satunya terkait polemik kepada Messi dan Ronaldo yang berfokus pada kontroversi tekel keras Messi yang lolos dari sanksi kartu merah, serta kritik tajam terhadap Ronaldo yang dinilai menghambat permainan tim akibat ego individunya.
Kedua megabintang sepak bola modern ini menjalani turnamen keenam mereka yang diprediksi menjadi panggung The Last Dance terakhir bagi keduanya. Namun, laga pembuka masing-masing tim langsung memicu perdebatan panas di kalangan pengamat sepak bola dunia dan netizen global akibat performa mereka yang kontras.
Kontroversi pertama datang dari Lionel Messi yang memimpin tim nasional Argentina saat meraih kemenangan telak 3-0 atas Aljazair di laga pembuka Grup A, Rabu (17/6/2026). Meskipun Messi berhasil mencetak hattrick bersejarah dalam pertandingan tersebut, performa gemilangnya dinodai oleh sebuah keputusan wasit yang dinilai sangat kontroversial. Pada menit ke-30, kapten tim Tango ini melakukan sebuah pelanggaran keras dari arah belakang yang memicu protes keras dari bangku cadangan tim lawan.
Insiden tersebut terjadi ketika pul sepatu Lionel Messi menghantam keras bagian betis dari kapten tim Aljazair, Aissa Mandi. Kejadian berbahaya ini memicu tudingan adanya hak istimewa untuk pemain bintang karena wasit Szymon Marciniak sama sekali tidak memberikan kartu. Bahkan, asisten wasit video atau VAR juga tidak melakukan peninjauan ulang terhadap pelanggaran yang dinilai banyak pihak sangat layak diganjar kartu merah langsung tersebut.
Analisis tajam datang dari pengamat sepak bola ESPN, Ale Moreno, yang menyatakan secara terbuka bahwa tekel Messi tersebut mutlak merupakan pelanggaran kartu merah. Di sisi lain, mantan penyerang tim nasional Prancis, Thierry Henry, memberikan pembelaan dengan berargumen bahwa tidak ada niat buruk dari Messi untuk mencederai lawan. Menurut Henry, pergerakan tersebut murni ketidaksengajaan karena pandangan mata Messi saat itu sepenuhnya terfokus pada pergerakan bola.
Sementara itu, nasib berbeda dialami oleh Cristiano Ronaldo yang justru menuai kecaman hebat dari publik setelah tim nasional Portugal ditahan imbang 1-1 oleh Republik Demokratik Kongo pada laga pembuka Grup K, Kamis (18/6/2026). Kritik taktis yang ditujukan kepada penyerang berusia 41 tahun tersebut berfokus pada gaya bermainnya yang dinilai merusak skema serangan tim nasional Portugal. Ronaldo dianggap terlalu memaksakan diri untuk mencetak gol secara personal daripada bermain secara kolektif demi kemenangan tim.
Thierry Henry kembali memberikan sorotan tajam terhadap satu momen krusial di mana Ronaldo memotong jalur operan dari Bruno Fernandes. Tindakan tersebut dinilai sangat merugikan karena Ronaldo seharusnya bergerak membuka ruang di dalam kotak penalti musuh alih-alih merebut bola dari rekan setimnya. Akibat ego bermain yang tinggi tersebut, koordinasi lini serang timnas Portugal menjadi berantakan dan gagal mengonversi banyak peluang emas menjadi gol.
Statistik pertandingan mencatat bahwa Cristiano Ronaldo hanya menyentuh bola sebanyak 25 kali sepanjang 90 menit laga berjalan di lapangan. Catatan minim ini menjadi rekor sentuhan bola paling sedikit kedua sepanjang karier profesional Ronaldo dalam sejarah penampilannya di ajang Piala Dunia. Kegagalan mencetak gol di laga ini juga memperpanjang catatan buruknya yang belum mampu membobol gawang lawan dalam 10 pertandingan beruntun di fase awal turnamen besar.
Polemik Ronaldo semakin memanas setelah dirinya langsung berjalan sendirian menuju lorong ruang ganti stadion sesaat setelah peluit panjang berbunyi. Sikap tersebut berbanding terbalik dengan para pemain Portugal lainnya yang tetap bertahan di tengah lapangan untuk memberikan apresiasi kepada para pendukung. Kritik publik kini mendesak pelatih Roberto Martinez untuk berani mencadangkan Ronaldo pada pertandingan berikutnya demi memberikan kesempatan bagi penyerang muda.





