
MENTERI Pemuda dan Olahraga yang baru, Zainuddin Amali harus menunjukkan kinerjanya memajukan kegiatan pembinaan kepemudaan dan peningkatan prestasi olahraga, khususnya sepakbola.
Pasalnya, tiga menpora berturut-turut sebelumnya yang berasal dari parpol alih-alih menunjukkan kinerja baik, terutama mengatrol prestasi sepakbola yang terus melorot, malah terseret pusaran korupsi.
Andi Malarangeng, (2009 – 2012)dari Partai Demokrat terjerat kasus proyek pembangunan pusat olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, lalu penggantinya, Roy Suryo dari partai sama harus mengembalikan 3.226 item asset kemenpora yang “dirumahkannya” dan Imam Nachrowi (2014- 2019) dari PKB juga terkena kasus suap dana hibah KONI.
Zainuddin sendiri, menurut catatan harian Kompas, pernah dimintai klarifikasi oleh KPK terkait kasus suap sengketa pilkada melibatkan Ketua MK Akil Mochtar serta kasus korupsi SKK Migas yan menyeret Sekjen Kementerian ESDM Waryono Karno.
Tentu ada korelasinya, saat menteri-menteri dan sejumlah pejabat kemenpora tersandung kasus rasuah, prestasi olahraga Indonesia – negara terbesar di kawasan Asia Tenggara – juga terus terpuruk, termasuk sepakbola yang merupakan olahraga rakyat.
Prestasi kontingen RI di event regional, sejak tiga kali event SEA Games terakhir (di Naypidaw 2013, di Singapura 2014) terlempar ke peringkat empat, bahkan pada 2017 di Kuala Lumpur turun lagi ke peringkat-5 pada tiga kali posisi terburuk selain pada 2005 dan 2015.
Di ajang sepakbola begitu pula, gonta-ganti pelatih, pola pembinaan termasuk dengan naturalisasi pemain dan peyelenggaraan liga sampai kini belum mampu mengangkat prestasi olahraga rakyat itu.
Di level Asia Tenggara (SEA Games), skuat PSSI sering keok melawan tim Thailand dan Vietnam, juga dari tim Malaysia, bahkan ancaman dari muka baru seperti Filipina dan Timor Leste juga sudah di depan mata.
Sejak awal SEA Games 1977, skuat Garuda hanya pernah jadi juara pada 1987 dan 1991, selebihnya predikat juara didominasi oleh Malaysia (lima kali), Thailand (14 kali).
Skuat Garuda di ajang penyisihan Piala Dunia 2022 dibantai UAE 0 – 5, kalah dari Vietnam 1 – 3, dari Malaysia 2 – 3 dan dari Thailand 0 -3 di kandang sendiri. Bahkan pada laga melawan Malaysia (15/09), PSSI didenda Rp 643 juta oleh FIFA akibat kerusuhan yang dilakukan para pendukungnya.
Publik setelah dikcewakan oleh tiga kader parpol yang menjadi menpora, sebenarnya menginginkan tokoh profesional yang paham dan berdedikasi pada olahraga, sehingga pengangkatan Zainuddin mengundang keraguan.
Bahkan Ketua Asosiasi Profesor Keolahraaan Indonesia (Apkori) Djoko Pekik Irianto juga menilai penunjukan politisi sebagai menpora bisa berdampak adanya pengaruh parpol dalam kebijakan olahraga.
Memang tidak perlu rasanya, menpora harus mantan juara dunia atau sosok yang berprestasi dalam olahraga, tetapi paling tidak ia dikenal sebagai tokoh yang “gila olahraga”, sehingga bersedia mendedikasikan dirinya untuk memajukannya.
Jika jabatan menpora hanya untuk memenuhi jatah kursi menteri di kabinet, bisa dijamin, prestasi olahraga termasuk sepakbola bakal segitu-segitu saja.
Ingat, olahraga bisa menjadi perekat dan juga prestasi, sekaligus prestise bangsa!



