Mental Anak Pascaliburan: Panduan Orang Tua agar Anak Siap Kembali Sekolah

Kesiapan mental anak sebelum hari pertama sekolah sangat menentukan kenyamanan dan kepercayaan diri mereka saat kembali ke lingkungan akademik. (Foto: freepik)

Jakarta, KBKNews.id – Berakhirnya masa liburan sekolah kerap menjadi fase yang tidak mudah bagi anak. Setelah berminggu-minggu menikmati waktu santai dengan jadwal yang longgar, anak dituntut kembali pada rutinitas belajar yang terstruktur.

Perubahan mendadak ini sering memicu rasa malas, cemas, hingga enggan kembali ke sekolah. Kondisi inilah yang dikenal sebagai post-holiday blues.

Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Psikolog Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, menegaskan kesiapan mental anak sebelum hari pertama sekolah sangat menentukan kenyamanan dan kepercayaan diri mereka saat kembali ke lingkungan akademik. Karena itu, peran orang tua menjadi kunci dalam membantu anak melewati masa transisi pascaliburan dengan lebih sehat secara mental.

“Orang tua perlu peka terhadap kondisi emosi anak, apakah muncul rasa malas, cemas, atau penolakan untuk kembali ke sekolah,” ujar Devi, psikolog klinis yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Aceh, Sabtu (3/1/2026).

Pentingnya Komunikasi dan Dukungan Emosional

Devi yang juga menjabat sebagai Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Mengajak anak berbicara, mendengarkan kekhawatiran mereka, serta memahami harapan anak terkait sekolah menjadi langkah awal yang sangat penting.

Dalam proses komunikasi tersebut, orang tua disarankan memberikan gambaran positif tentang sekolah. Misalnya, mengingatkan anak pada pelajaran favorit, kegiatan menyenangkan di kelas, atau kesempatan bertemu kembali dengan teman-teman sekolah. Pendekatan ini membantu anak memandang sekolah sebagai tempat yang aman dan menyenangkan, bukan sumber tekanan.

Menata Ulang Rutinitas Secara Bertahap

Beberapa hari sebelum sekolah dimulai, orang tua perlu membantu anak menyesuaikan kembali pola tidur dan pola makan yang kemungkinan berubah selama liburan. Tidur larut malam dan bangun siang sebaiknya mulai dikurangi secara bertahap agar tubuh dan mental anak siap menghadapi jam sekolah.

Selain itu, melibatkan anak dalam persiapan sekolah, mulai dari menyiapkan perlengkapan, seragam, hingga menyusun jadwal harian, dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kesiapan mental.

“Konsistensi rutinitas yang disertai dukungan emosional dan suasana rumah yang kondusif akan membantu anak beradaptasi dengan lebih nyaman,” jelas Devi.

Mengelola Penggunaan Gawai Menjelang Sekolah

Menjelang akhir liburan, orang tua juga perlu menerapkan aturan yang jelas dan konsisten terkait penggunaan gawai. Aturan ini sebaiknya dibuat berdasarkan kesepakatan bersama agar anak merasa dihargai dan tidak merasa dipaksa.

Namun, pembatasan gawai perlu diimbangi dengan alternatif aktivitas yang menyenangkan. Tanpa itu, anak berisiko merasa kehilangan hiburan dan justru menjadi lebih stres.

Aktivitas Bersama untuk Bangun Semangat Anak

Untuk mengalihkan perhatian anak dari gawai sekaligus membangun kembali semangat belajar, orang tua dapat melakukan berbagai aktivitas bersama, seperti:

  • Membuat jadwal harian bersama anak
  • Mengobrol dan berbagi cerita tentang pengalaman menyenangkan di sekolah
  • Membaca buku bersama
  • Memasak atau berolahraga bersama

Selain membantu anak mempersiapkan diri secara mental, aktivitas-aktivitas tersebut juga memperkuat ikatan emosional dalam keluarga. Anak akan merasa didukung, dipahami, dan tidak sendirian menghadapi masa transisi kembali ke sekolah.

Kunci Utama: Pendampingan, Bukan Paksaan

Mempersiapkan mental anak masuk sekolah pascaliburan bukan soal memaksa anak cepat beradaptasi, melainkan mendampingi mereka dengan empati dan konsistensi. Dengan komunikasi yang hangat, rutinitas yang tertata, serta dukungan emosional yang kuat, anak dapat kembali ke sekolah dengan perasaan lebih tenang, percaya diri, dan siap belajar.

Kesehatan mental anak adalah fondasi penting bagi proses belajar yang optimal. Semakin baik persiapannya, semakin besar pula peluang anak menjalani hari-hari sekolah dengan bahagia dan produktif.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here