Di jalan aspal yang menurun, Hadi berjalan pelan menghampiri Angga. Aspal yang licin karena habis diguyur hujan membuat keduanya berhati-hati. Meski langkahnya pelan menjauhi bus, wajah kedua bocah yang sedang mengikuti widiawisata itu nampak sumringah.
Sesampainya di gardu pandang yang berada wilayah di Turi, Sleman, DIY wajah bahagia keduanya buyar ketika awan mendung tak urung minggat dari puncak merapi. Bulan Februari merupakan puncak musim hujan di kawasan lereng merapi. Tak berselang lama senyum ceria kembali menghiasi bibir mereka saat panitia memanggil mereka kembali ke bus untuk menuju ke kawasan wisata The World Landmark yang letaknya terpaut 6 Km dari puncak merapi.
“Asik nanti kita foto di sana ya,” ucap Hadi menunjuk gambar patung Liberty di poster pintu masuk kawasan.
The World Landmark atau yang lebih dikenal dengan taman merapi merupakan sebuah objek wisata keluarga ramah anak. Di lahan seluas hampir 4 hektar itu, berdiri berbagai macam bangunan ikonik atau landmark dari sejumlah negara. Berkat kekuatan media sosial, setiap harinya kawasan wisata yang menyajikan edukasi pengetahuan dunia tersebut dijejali tak kurang dari 2.000 pengunjung.
Dari pusat kota Yogyakarta, cukup mudah menjangkau The World Landmark. Bila menggunakan pribadi, dari Tugu Pal Putih Jogja, arahkan kendaraan anda ke utara menuju kawasan Kaliurang. Namun bila ingin menggunakan angkutan umum, anda bisa memakai jasa ojek online karena tidak ada bus atau angkot konvensional yang melayani rute menuju lokasi.
Pemandangan persawahan dan kebun warga yang asri di kiri kanan jalan merupakan teman akrab selama mengaspal menuju lokasi. Dengan cukup membayar tiket masuk seharga Rp 15 ribu per orang anda tidak hanya bisa memandangi perkasanya Gunung Merapi, tetapi juga berswafoto di depan Menara Pisa layaknya di Kota Roma Italia. Di seberang Menara Pisa, tumbuh bunga tulip berwarna merah dan kuning khas negeri Belanda lengkap dengan kincir anginya.
Seperti tak mau ketinggalan, berjarak 12 meter dari sana ada Big Ben, jam legendaris Kerajaan Inggris. Guna menguatkan suasana layaknya di London, di sana juga terdapat bilik telepon umum berwarna merah yang menjadi primadona netizen untuk berswafoto demi memburu like di Instagram. Ada juga miniatur Menara Eifel setinggi 2,5 meter yang turut menjadi spot favorit untuk berfoto. Hanya di sini anda bisa foto di Menara Eifel dengan landscape Gunung Merapi Yogya.
Masuk ke zona Asia giliran miniatur kuil ala-ala Shinto Jepang yang dipadati pengunjung. Bentuk bangunannya yang bulat memudahkan siapa pun yang ingin berpose sambil duduk dengan latar kuil. Hadirnya replika bunga sakura berwarna pink yang bermekaran di sekitar kuil turut menambah syahdu suasana. Sepelemparan batu dari kuil Shinto menjulang gedung Burj Al-Arab Dubai UEA.
Bila ingin menikmati wisata yang lebih ‘serius’, berjarak 100 meter ke utara ada Museum Gunung Merapi (MGM). Cukup membayar tiket masuk Rp 5 ribu per kepala, anda bisa menyaksikan kedahsyatan erupsi merapi dari masa ke masa. Begitu masuk ke museum yang buka mulai pukul 8 hingga setengah 3 sore itu anda akan disambut oleh miniatur Merapi. Meski hanya berupa maket namun anda bisa merasakan getaran detik-detik jelang erupsi. Suara gemuruh yang menggelegar turut melengkapi ruang pamer tersebut.
Selain menyajikan wisata edukatif dan memamerkan batu-batuan dari perut merapi, MGM juga memiliki koleksi yang tak pernah sepi dikunjungi kaum milenial, yakni ruang pamer replika kondisi rumah warga di lereng merapi pasca-erupsi. Begitu memasuki ruang pamer, aura kesedihan sangat terasa sangatkental. Cahaya lampu yang disetel temaram turut menambah aroma duka.
Di ruang pamer seluas 4 X 8 meter persegi itu terdapat diorama rumah warga, bangkai sepeda motor, perabotan rumah tangga hingga sumur mandi yang semuanya tertutup abu vulkanik. wajah-wajah warga lereng merapi yang menjadi korban erupsi juga tampak menghiasi dinding dalam bingkai foto.
Puas menyelami sejarah erupsi merapi. Berikutnya anda bisa menjajal langsung kegagahan merapi dengan menumpang Jeep yang tersedia di depan MGM. Untuk merasakan touring keliling ke Bunker Kaliadem, Rumah Mbah Marijan dan susur sungai Oyo selama 2,5 jam anda diwajibkan membeli tiket seharga Rp 350 ribu per orang. Namun sangat tidak disarankan mencoba wahana ini bila cuaca sedang tak bersahabat.
Tidak afdol rasanya bila plesiran tak dilengkapi wisata kuliner. Di sepanjang jalan dari The Word Landmark hingga MGM berjajar warung kaki lima yang menyajikan penganan khas Yogya. Ada pecel, tempe mendoan, soto ayam, bakso dan yang tak ketinggalan gudeg Yogya. Untuk satu porsi dari tiap-tiap menu memiliki harga yang bervariasi, mulai dari Rp 8 ribu sampai Rp 20 ribu. Bila anda ingin melakukan traveling ke kawasan merapi dalam waktu dekat, disarankan untuk membawa payung atau jas hujan. Tetap berhati-hati dan jaga keselamatan selama diperjalanan. yuk jalan-jalan ke merapi.





