JAKARTA, KBKNews.id – Tema yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yaitu tentang depresi dan kecemasan. Kedua hal itu bisa ditinjau dari sudut pandang syariat Islam sekaligus ilmu medis.
Hampir semua manusia pernah merasakan cemas dan depresi. Ada yang hanya sebentar, ada yang cukup lama, dan ada pula yang sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Cemas bisa muncul dalam berbagai bentuk dari sekadar gelisah, hingga berkeringat dingin, gemetar, bahkan tidak bisa berpikir jernih.
Begitu juga depresi, mulai dari rasa kecewa ringan hingga kondisi berat yang membuat seseorang kehilangan semangat hidup, merasa lemah, tidak bergairah, dan menganggap hidup ini tidak lagi memiliki tujuan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa semua itu adalah bagian dari kehidupan. Dunia memang tidak pernah lepas dari rasa senang dan sedih, tawa dan tangis. Kehidupan ini ibarat roda yang terus berputar, kadang berada di atas, kadang di bawah.
Seperti dilansir dari Youtube Muslimafiyah, Selasa (28/4/2026), Ustaz Raehanul Bahraen menjelaskan perasaan sedih dan cemas bukanlah sesuatu yang aneh atau harus ditakuti. Bahkan, para nabi sekalipun merasakannya.
Nabi Musa ‘alaihissalam pernah berada dalam kondisi takut dan cemas setelah peristiwa yang terjadi di Mesir. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengalami masa yang sangat berat dalam hidupnya, yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan, ketika beliau kehilangan orang-orang tercinta dan menghadapi penolakan dalam dakwah.
Hal ini menunjukkan bahwa rasa sedih dan cemas adalah sesuatu yang manusiawi. Yang menjadi masalah bukanlah perasaannya, tetapi bagaimana kadar dan durasinya. Ketika perasaan itu menjadi berlebihan dan berlangsung terus-menerus, di situlah ia berubah menjadi gangguan yang berbahaya. Ada orang yang tidak bisa tidur karena pikirannya terus berputar, ada yang kehilangan fokus, bahkan ada yang sampai tidak mampu menjalani kehidupan normal. Dalam kondisi seperti ini, tidak jarang seseorang membutuhkan bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Untuk memahami hal ini lebih sederhana, bayangkan kita memegang segelas air. Awalnya terasa ringan, namun jika dipegang terus-menerus tanpa jeda, tangan akan terasa sakit dan lelah. Masalah hidup kita sebenarnya seperti gelas air tersebut, ringan pada dasarnya, tetapi menjadi berat karena kita terus memikirkannya tanpa pernah “meletakkannya” sejenak. Inilah yang sering terjadi pada banyak orang: mereka membawa beban itu terus-menerus tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat.
Dalam istilah modern, orang menyebutnya “healing”. Namun dalam Islam, konsep ini sudah lama diajarkan. Meletakkan beban bukan berarti lari dari masalah, tetapi kembali kepada Allah, mengingat takdir-Nya, dan menenangkan hati dengan ibadah. Salah satu cara yang sangat sederhana namun kuat adalah membaca Al-Qur’an. Banyak orang merasakan ketenangan luar biasa ketika membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, bahkan hanya dalam waktu singkat.
Para ulama menjelaskan bahwa gangguan jiwa dalam kehidupan manusia sering berkaitan dengan tiga hal: kesedihan terhadap masa lalu, kecemasan terhadap masa depan, dan kegelisahan terhadap kondisi saat ini. Kesedihan membuat seseorang terus memikirkan apa yang sudah terjadi, kecemasan membuatnya takut terhadap apa yang belum terjadi, dan kegelisahan membuatnya tidak tenang menjalani hari ini. Islam datang memberikan keseimbangan, agar manusia tidak terjebak dalam ketiga hal tersebut secara berlebihan.
Salah satu akar utama dari depresi dan kecemasan yang berkepanjangan adalah kurangnya iman terhadap takdir Allah. Ketika seseorang terus berkata, “Seandainya dulu aku tidak begini,” atau “Kenapa harus aku yang mengalami ini,” maka secara tidak sadar ia sedang menolak kenyataan yang telah ditetapkan Allah. Padahal, dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk menerima takdir dengan lapang dada dan mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah ketetapan Allah, dan pasti ada hikmah di dalamnya.
Dari sisi ilmu medis, depresi dan kecemasan juga diakui sebagai bagian dari kondisi manusia yang wajar. Namun jika sudah berlebihan, maka akan masuk dalam kategori gangguan mental yang memiliki berbagai jenis dan tingkat keparahan. Karena itu, Islam tidak menolak pendekatan medis. Justru, kita dianjurkan untuk mengambil dua jalan sekaligus: jalan spiritual dan jalan ilmiah. Seseorang tetap perlu mendekatkan diri kepada Allah, namun jika kondisinya sudah berat, ia juga perlu berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Pada akhirnya, hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola perasaan dan memperkuat hati. Ketenangan sejati bukan karena hidup kita bebas dari ujian, tetapi karena hati kita terikat dengan Allah. Ketika iman kuat, maka beban seberat apa pun akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, ketika iman lemah, beban kecil pun bisa terasa sangat menghimpit.





