Merajut Asa Bersama Jajanan SD

miskin
Foto Dok Tania Dwi Garnita

JAKARTA – Di tengah keceriaan anak sekolah yang wara-wiri saat jam istirahat terselip wajah lelah Mulus (75). Di depan pintu pagar sekolah dasar itu Mulus menggelar lapak kecilnya. Tak banyak yang ia bawa hanya camilan khas jajanan SD.

Es bantal, es kenyot, mie kering dan macaroni pedas merupakan ujung tombak Mulus guna menyambung hidup. Saat seorang anak SD menghampiri dan memberikan uang Rp 2 ribu, sekantung macaroni pun bertukar tangan. Itu lah dia kehidupan Mulus, kendati usia telah senja namun semangatnya tak pernah padam.

Setelah anak SD pulang sekolah, Mulus menggeser dagangannya ke sekitar Jl.Hadidji, Gudang Air, Jakarta Timur. Tak jauh dari sana Mulus kembali menggelar lapaknya di Musola. Peluh yang membasahi wajah keriputnya seperti menjadi saksi bisu perjuangan Mulus.

Kisah hidup Mulus yang memprihatinkan dibagikan oleh netizen bernama Tania Dwi Garnita ke group Ketimbang Ngemis Jakarta. Dalam keterangannta Tania mengatakan bahwa Mulus merupakan padagang camilan kecil sejak tahun 1992.

Per hari penghasilan Mulus pun tak menentu, paling banyak Mulus hanya mampu bawa pulang Rp 30 ribu dan belum dipotong untuk modal di hari esok. Belum lagi biaya sewa kontrakan Rp 600 ribu per bulan membuat Mulus makin terkerangkeng oleh derita hidup.

“Kakek Mulus tinggal bersama istrinya. Setiap hari berdagang sambil jalan kaki. Hanya payung usang yang menemani kakek Mulus berkeliling,” tulis Tania dalam keterangannya.

Advertisement