
MASUKNYA satuan milisi dukungan rezim pemerintah Suriah pimpinan Bashar al-Assad ke Afrin untuk bergabung dengan pasukan Kurdi (YPG) yang sedang digempur operasi “Ranting Zaitun” militer Turki, bisa mengubah perimbangan militer di lapangan.
Dengan kekuatan militernya sebagai salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Turki melancarkan operasi militer didukung tank-tank dan sejumlah pesawat tempur ke Afrin, Suriah sejak 20 Januari lalu.
Pasukan pemerintah Suriah sebelumnya mengundurkan di dari Afrin pada 2012 setelah milisi YPG memegang kontrol atas wilayah otonomi Kurdi yang berbatasan dengan Turki itu.
Kantor Berita Suriah SANA memberitakan (19/2), milisi dukungan rezim al-Assad berada di Afrin untuk mempertahankan wilayah yang berada di bawah kedaulatan Suriah tersebut dari serbuan Turki.
Milisi YPG yang semula berseberangan dengan rezim penguasa Suriah di bawah al-Assad bergabung dan bahu-membahu memerangi kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
NIIS takluk setelah basis utamanya di Mossul, Irak dan Raqqa, Suriah, berhasil diambil alih sekitar pertengahan 2017.
Presiden Turki Tayyip Erdogan sendiri sebelumnya mengancam, pemerintah Suriah akan menghadapi konsekuensi jika membentuk kesepakatan untuk mendukung milisi YPG di Afrin.
Hal senada disampaikan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu yang menyatakan, pihaknya tidak ambil pusing jika milisi Suriah dukungan al-Assad masuk ke Afrin untuk memerangi kelompok Kurdi di bawah PKK dan PYD. PKK adalah parpol minoritas Kurdi di Turki, sedangkan PYD parpol Kurdi di Suriah.
“Tetapi kalau memasuki Afrin untuk membela YPG, tidak ada yang bisa menghalangi pasukan Turki, “ katanya mengancam.
Ofensif militer “Ranting Zaitun” Turki ke Afrin menambah keruwetan kondisi geopolitik di Suriah, mengingat YPG adalah mitra utama AS dan juga rezim al-Assad dalam memerangi NIIS.
YPG sendiri kemudian kecewa pada AS yang tidak membantunya dari gempuran Turki, kemungkinan karena Turki dan AS sesama anggota NATO.
Sedangkan Suriah dalam situasi terjepit dan menjadi sasaran Israel setelah pasukannya berhasil menembak jatuh pesawat tempur F-16 Israel yang memasuki wilayahnya.
Pesawat-pesawat tempur Israel saat itu membomi wilayah Suriah yang diduga dijadikan pangkalan pesawat nirawak Iran untuk memata-matai wilayah Israel dari udara.
Israel dan Suriah sendiri adalah musuh bebuyutan, pernah terlibat Perang Enam Hari (1967) dan Perang Yom Kippur (1973) yang menyeret sejumlah negara Arab melawan Israel.
Rezim al-Assad sampai hari ini juga belum mampu menaklukkan kelompok oposisi (FSA) dalam perang saudara yang sudah berlangsung sejak 2011 dengan lebih 300.000 korban tewas dan lebih satu juta mengungsi ke berbagai penjuru dunia.
Masuknya milisi Suriah pro al-Assad ke Afrin, dikhawatirkan akan menciptakan eskalasi baru konflik langsung antara Suriah dengan Turki. (AFP/Reuters/ns)




