Militer China Unjuk Gigi

Rudal antarbenua (ICBM) milik CHINA, Angin TImur Dong Feng DF-5C berkecepatan hypersonik yang menjadi kekuatan penggentar strategis negara itu (foto; Global Times)

PARADE militer besar-besaran yang digelar di jantung Kota Beijing, Rabu (3/9) menjadi ajang unjuk kekuatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di ulang tahunnya yang ke-80.

CNN melaporkan dari Beijing, pamer persenjataan itu dipandang sebagai pesan kuat, visi Presiden China Xi Jinping tentang tatanan dunia baru yang ditopang oleh teknologi militer canggih, di mana sebagian persenjataan yang ditampilkan diyakini mampu mengungguli milik  negara-negara Barat termasuk Amerika Serikat lawannya.

Rudal balistik antarbenua (ICBM) seri Dong Feng (Angin Timur) DF-61, yang menjadi ICBM baru “Negeri Panda” setelah DF-41 juga ditampilkan pada parade 2019.

Tidak diketahui keandalan DF-61 tersebut, sementara saudaranya yang lebih tua (DF-41) saja berkecepatan hypersonik (Mach 25), berjangkauan sampai 14.000 km dan berhulu ledak multi (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle – MIRV).

Rudal dengan wahana luncur hipersonik (HGV) itu menjadi sorotan pihak Barat karena terbang  dengan lintasan tak teratur sehingga menyulitkan sistem pertahanan rudal lawan.

Selain itu, berbagai jenis drone (wahana nirawak) turut dipamerkan, mulai dari kapal selam hingga pesawat nirawak pendamping jet tempur siluman yang sedang dirancang yakni  Chengdu J-36 untuk menyaingi pesawat siluman generasi ke-6 F-47 buatan AS.

Ada pula drone darat yang dilengkapi senapan mesin maupun difungsikan untuk pembersihan ranjau dan logistik. Dalam parade militer, PLA menampilkan berbagai sistem tak berawak untuk operasi darat, laut, dan udara.

Senjata laser juga ditampilkan dalam dua versi: untuk pertahanan udara di laut dan untuk melindungi pasukan di darat. Jenis senjata ini termasuk dalam kategori energi terarah, yang bekerja dengan memanfaatkan energi elektromagnetik.

Analis senior strategi pertahanan di Australian Strategic Policy Institute (ASPI) Malcolm Davis mengatakan, China menampilkan kemampuannya dalam mengembangkan peralatan militer canggih melalui parade militer itu.

“Yang ditunjukkan China adalah kemampuan mengembangkan kapabilitas militer canggih, mengerahkan secara operasional, dan melakukannya lebih cepat dibandingkan Barat.

Bahkan dalam volume yang lebih besar,” kata Davis. Dia menambahkan, sistem tak berawak yang dipamerkan China bahkan sudah sangat maju.

“Dalam beberapa hal lebih unggul dibandingkan yang ada di Barat, dan sudah operasional,” papar Davis.

Dipamerkan rudal strategis nuklir terbaru, DF-5C berbahan bakar cair dengan jangkauan lebih dari 20.000 kilometer, yang berarti mampu menjangkau hampir seluruh wilayah di dunia.

Penggentar strategis

Menurut laporan Global Times, rudal baru China DF-5C dirancang untuk meningkatkan daya gentar strategis (deterrent) sekaligus memperkuat stabilitas global.

Pakar teknologi rudal dan perlucutan senjata nuklir, Profesor Yang Chengjun menjelaskan, DF-5C menggabungkan berbagai teknologi dari seri rudal Dongfeng sebelumnya, termasuk DF-5A, B dan DF-41.

Ia merinci enam fitur utama rudal ini, antara lain: struktur baru di mana rudal diangkut dalam tiga bagian dengan tiga kendaraan terpisah sehingga mempersingkat  waktu persiapan peluncuran dibanding generasi sebelumnya.

Jangkauan globalnya diperkirakan lebih dari 20.000 km, rudal ini memungkinkan China melancarkan serangan balasan ke target militer mana pun di dunia.

Beragam metode peluncuran – DF-5C diyakini memiliki variasi cara peluncuran berdasarkan pengembangan seri Dongfeng terdahulu.

Dengan kecepatan tinggi, rudal ini mampu melaju hingga puluhan kali kecepatan suara (Mach), sehingga menyulitkan sistem pertahanan modern untuk mencegatnya.

Ambisi China untuk menguasai dunia tapak dari anggaran militernya pada 2025 yang menurut SIPRI mencapai 245 milyar dollar AS (Rp4.950 triliun) atau ke-2 setelah AS sebesar 900 miliar dollar AS (Rp14.850 triliun).

Bahkan AL China, dengan sekitar 600 kapal perang, jauh lebih besar dari AL AS (sekitar 300-an kapal), sedang hulu ledak nuklir China sekitar 600 buah, terus mengejar jumlah hulu ledak nuklir AS  sebanyak 5.428 buah.

Keandalan teknologi China juga semakin nyata, terbukti misalnya dalam pertempuran udara antara Pakistan dan India Mei lalu, pesawat J-10 buatan China yang dioperasikan AU Pakistan berhasil merontokkan tiga pesawat Rafale India (buatan Perancis) dan masing-masing satu MiG-29 (eks-Uni Soviet) dan Sukhoi-SU30  milik AU India (eks-Rusia). (CNN/ns)

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here