Mimpi Buruk di Negeri Black Hawk Down

Seorang tentara Somalia tengah mengawasi jalan raya di Mogadishu / KBK

Mobil SUV warna abu-abu yang berada di depan kami tiba-tiba berhenti. Tiga orang berpakaian loreng dengan senjata AK47 langsung berhamburan keluar. Mereka menyebar ke sisi jalan sambil menodongkan senjata ke depan.

Si pengemudi juga langsung keluar. Tak mau kalah dengan orang yang dibawanya ia juga “beraksi”. Dari balik pinggang, ia mengeluarkan senjata jenis FN, seraya mengarahkan ke arah mobil SUV merah di hadapannya.

Mobil van yang kami tumpangi langsung diarahkan ke kanan, bersembunyi di balik dinding sebuah gedung. Tak jauh dari Mogadishu University. Seorang tentara yang duduk di kursi depan juga langsung keluar dan menyusul tiga temannya.

Terdengar suara cukup lantang dalam bahasa Somali, baik dari tentara yang searah dengan kami maupun yang berlawanan. Senjata sudah terkokang, tak ada yang mau menurunkan.

Perasaan kami yang ada di dalam mobil cukup tegang. Segera muncul pikiran, bagaimana exit strategy jika kontak senjata benar-benar terjadi. Staff lembaga lokal yang menemani kami mencoba menenangkan. “Tenang saja, semua aman Insya Allah,” katanya.

Kejadiannya persis seperti dalam film-film aksi yang biasa kita tonton. Kami tidak berharap “mimpi buruk” seperti peristiwa jatuhnya helikopter Black Hawk milik Amerika di tahun 1992 terjadi di hadapan kami.

Setelah 30 menit berlalu, Alhamdulillah situasi terkendali. Kontak senjata tidak terjadi. Kami pun melanjutkan perjalanan. Suasana yang baru saja terjadi akhirnya terjawab setelah seorang tentara pengawal kembali masuk ke dalam mobil yang kami tumpangi.

Mobil SUV abu-abu yang selalu jalan di depan kami adalah mobil pengiring yang disiapkan oleh lembaga lokal di Mogadishu yang biasa memfasilitasi lembaga internasional menyalurkan bantuan di Somalia. Mobil itu berisi tentara, untuk menjamin keamanan dan keselamatan pekerja kemanusiaan. Mereka adalah tentara—yang katanya resmi dari pemerintah. Selain di mobil depan, satu orang pria bersenjata juga berada di mobil yang kami tumpangi.

Menurut cerita yang kami dengar, para tentara di mobil depan curiga dengan mobil SUV merah yang berjalan menuju arah kami. Pasalnya, di dalamnya terdapat beberapa pria bersenjata, namun disinyalir bukan dari tentara resmi, atau bukan orang yang mereka kenal. Sehingga, untuk antisipasi mereka harus melakukan upaya preventif seperti tadi.

“Kami tidak ingin tamu kami lecet sekecil apa pun,” katanya.

Situasi keamanan di Somalia, khususnya di Mogadishu memang tidak bisa ditebak. Peristiwa ini terjadi saat kami perjalanan pulang dari kamp pengungsian di Distrik Kahda untuk menyalurkan bantuan. Ternyata, setelah tiba di hotel kami baru mengetahui, di saat yang hampir bersamaan dengan peristiwa tadi, sebuah bom baru saja meledak di tengah kota Mogadishu. Dilaporkan 7 orang lebih tewas. Bahkan, salah satu korbannya adalah keluarga dari staff lembaga yang menjemput kami saat di bandara.

Malamnya, saat kami tengah santap malam, bunyi dentuman kembali terdengar. Kami tidak tahu apakah ada korban jiwa atau tidak dalam ledakan itu.

Meski situasi keamanan di Somalia relatif membaik, serangan-serangan sporadis kelompok Al Shabab masih kerap terjadi. Oleh karenanya, tak heran di setiap sudut kota Mogadishu, dengan mudah kita jumpai orang menenteng senjata, khususnya AK47. Mereka adalah tentara, polisi, atau bahkan milisi. Tak jarang kita menemukan, orang dengan pakaian biasa, bersarung dan kaos oblong, tapi di badannya terlilit amunisi.

Orang asing tidak bisa bebas berkeliaran di luar tanpa pengawalan kecuali di dalam bandara yang steril. Seperti yang dialami Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa, jika tidak ada program penyaluran bantuan, mereka tidak boleh meninggalkan hotel. Pintu hotel juga selalu dijaga oleh beberapa orang bersenjata.

Ketika kami berada di kamp pengungsian atau saat penyaluran bantuan, seorang pengawal bersenjata juga selalu mengawasi dan mengikuti ke mana kami pergi. Bahkan, untuk ke kantor lembaga lokal yang menjadi mitra, yang jaraknya hanya dua rumah, kami tidak boleh berjalan. Harus dengan kendaraan dan dikawal.

Kita berharap, situasi keamanan di Somalia terus membaik. Sehingga mereka bisa tenang membangun kembali Somalia yang sudah cukup lama terluka.

Saat ini, geliat kehidupan masyarakat, baik ekonomi, sosial, maupun pendidikan sudah sangat terasa. Kampus perguruan tinggi muncul di berbagai sudut kota. Siswa-siswi sekolah dasar dan menengah juga kerap terlihat berhamburan saat jam istirahat maupun pulang sekolah.

Biarlah lubang-lubang bekas peluru yang menghiasi dinding-dinding bangunan di Somalia menjadi saksi bisu. Bahwa perdamaian itu mahal harganya, oleh karenanya harus dijaga.

 

Advertisement