JAKARTA – Setelah 40 hari lebih lamanya tujuh WNI Anak Buah Kapal (ABK) tugboat Charles disandera di Filipina, sebanyak lima anggota keluarga dari para sandera menemui Direktorat Perlindungan (PWNI) Kementerian Luar Negeri untuk mendengar keterangan pemerintah.
“Mereka memang ingin bertemu langsung untuk mendengar perkembangan upaya pembebasan sandera, dan pihak perusahaan memfasilitasi mereka ke Jakarta,” kata Direktur PWNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu Lalu Muhammad Iqbal, Senin (1/8/2016).
Seperti dilansir Antara, pertemuan berlangsung secara tertutup dengan dihadiri empat pihak antara keluarga sandera, perusahaan pemilik kapal PT Rusianto Bersaudara, Komisi I DPR yakni Irine Yusiana Roba Putri dan Charles Honoris, dan PWNI-BHI Kemlu, dan dilakukan di Gedung PWNI-BHI Kemlu.
Diberitakan sebelumnya, istri Ismail yang bekerja sebagai mualim I Kapal Charles, Dian Megawati Ahmad, menyampaikan kekhawatirannya karena terus ditelepon oleh pihak penyandera yang meminta tebusan dan mengancam akan membunuh jika hal tersebut tidak segera disampaikan ke pemerintah atau perusahaan tempat para ABK bekerja.
“Kami hanya butuh kejelasan dari pemerintah terkait upaya pembebasan para sandera. Jika satu hari kami di Jakarta sudah dapat jawaban yang memuaskan, maka kami akan kembali,” kata Dian, sebelum ia berangkat ke Jakarta dari Samarinda.
“Tetapi jika tidak, kami akan bertahan hingga ada jawaban dari pemerintah,” lanjut dia.
Dian semakin cemas saat ia sempat berbicara dengan suaminya melalui telepon terdengar suara sang suami yang kian melemah, diduga karena kondisi badannya yang juga kurang sehat.




