Miris, 12 Jiwa Tinggal dalam Satu Rumah, Tanpa Kamar dan Hampir Roboh

PANDEGLANG – Hari sudah larut malam, Kamis (10/8/2017), namun tim Lembaga Pelayan Masyarakat Dompet Dhuafa (LPM Dompet Dhuafa) masih dalam perjalanan menuju Kampung Monggor, RT2 RW01 Salapraya, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten. Untuk sampai ke lokasi tim harus memasuki jalan yang berbatu dan belum diaspal sejauh lebih kurang 5 Km. Laju kendaraan tidak bisa dipacu oleh Sanusi (Driver LPM), selain jalan yang sempit, juga berbatuan dengan banyak lobang.

Ahmad Yani, relawan lokal melaju di depan tim LPM dengan kendaraan motornya. Terkadang tim LPM tertinggal jauh karena Ahmad Yani terlalu cepat memacu motornya. Sementara itu, Mustaki dan Iim Nurohim (Staf LPM) yang berada dalam kendaraan, sesekali terlihat menguap. Agaknya, kedua amil Dompet Dhuafa itu sudah memberi sinyal keletihan dan sudah minta diistirahatkan. Maklum dalam satu hari itu, dia harus menyelesaikan beberapa asesmen, belum lagi harus memberi makan para saudara yang tidak beruntung, para penderita gangguan kejiwaan di sepanjang jalan yang ditemukan.

Tepat Pukul 22.00 Wib, tim akhirnya sampai di lokasi. Seorang relawan lain yang menjadi penghubung Ahmad Yani, Agus Rahidi, dari Aliansi Indonesia sudah standby di lokasi. Dia menuntun tim LPM melihat sebuah rumah dari bambu yang terlihat hampir roboh dan ditopang beberapa bilah bambu yang menyangga.

“Ini, Pak. Rumahnya,” ungkap relawan itu menunjuk sebuah rumah.

Rumah itu terbuat dari bambu, bagian depannya sudah hancur yang membuat rumah itu tidak ada dinding di bagian depan. Di dalamnya tidak ada kamar, untuk masing-masing KK hanya dipisah kain sarung yang dibuka jahitannya dan digantung dari ujung ke ujung sebagai batas atau sekat seperti kamar. Di sana juga sekalian ruang dapur, ruang keluarga dan ruang tidur. Rumah yang hampir roboh itu dihuni 12 jiwa, dari 3 kepala keluarga.

Kedatangan tim yang malam-malam ke rumah itu, menyaksikan lansung bagaimana keluarga ini tidur berhamparan di lantai. Tempat tinggal mereka tidak obah seperti rumah darurat di pengungsian. Bahkan rumah pengungsian pun agak lebih rapi dan kokoh dibandingkan kediaman keluarga ini. Jika saja angin berhembus kencang dan hujan badai, rumah ini sudah dapat dipastikan porak poranda, bersyukur saja angin tidak leluasa menghantam rumah ini, karena di sekitarnya berdiri rumah-rumah penduduk yang sudah permanen dengan tembok yang kokoh dan berjendela kaca.

Sangat miris memang, di tengah lingkungan yang sebenarnya mapan, masih ada rumah yang hampir roboh itu. Bahkan di depan gang masuk ke rumah itu berdiri sangat kokoh sebuah masjid tempat penduduk sekitar bersujud kepada Sang Pencipta. Anehnya, seakan tidak peduli dengan keberadaan keluarga dhuafa tersebut.

Apakah begitu buruk hablumminannas masyarakat setempat? Ingin KBK mempertanyakan itu kepada masyarakat sekeliling, sayang hari sudah malam dan mereka sudah beristirahat di rumah masing-masing dihantarkan bunyi jangkrik dan binatang malam yang bersahutan.

Akhirnya kami cuma bisa bertanya kepada Jamal, Kepala Keluarga, yang tertua di rumah itu. Dikatakakan Jamal, rumah tersebut warisan dari orang tua isterinya. Ia merupakan menantu tertua di situ dari istrinya Bainah. Kerjaan Jamal serabutan, jadi buruh harian kalau ada orang yang membutuhkan tenaganya. Pendapatannya pas untuk makan ia, isteri dan 4 anaknya, terkadang Ia pun harus ikhlas berbagi dengan keluarga yang lain yang serumah dengannya.

Nasib adik isterinya Komariah dengan suaminya Jaelani yang punya anak 1, juga tidak jauh berbeda dengannya. Sama-sama kerja serabutan, tidak jarang mereka hanya tidur saja di rumah di siang hari karena tidak ada pekerjaan. Begitu juga dengan Mujani ia ditinggal pergi oleh suaminya karena sudah ngak kuat dengan penderitaan kemiskinan yang mereka hadapi. Namun kepergian suami Mujani, meninggalkannya 1 anak dari buah perkawinannya.

Karena kemiskinan itulah, rumah warisan yang sudah berumur 20 tahun itu, tidak mampu mereka perbaiki ketika rusak. Uang yang didapat dari kerja serba serabutan hanya cukup untuk kebutuhan makan saja.

Adakah tetangga membantu? Jamal mengaku malu dibantu oleh tetangganya. Bahkan tetangga pernah mau menolong, akan tapi mereka umumkan melalui pengeras suara masjid, sehingga mereka bertambah malu dan menolak keras bantuan itu. Mereka lebih senang hidup apa adanya, terkadang makan terkadang tidak, dari pada malu dan jadi bahan cemoohan tetangga.

Hal itu dibenarkan Ahmad Yani dan Agus Rahidi. “Bukan tetangga ngga mau membantu, namun keluarga Jamal yang malu ditolong sehingga setiap bantuan tetangga, selalu ditolak. Bahkan lebih parah lagi mereka tidak bertegur sapa dengan tetangga,” jelas Ahmad Yani.

Ahmad Yani menduga, menurut info yang didapatnya dari lingkungan, kurang baiknya hubungan mereka bertetangga bisa jadi sudah warisan dari kedua orang tuanya.

Namun satu yang disayangkan Rahidi, yang baru pindah dari Lampung ke wilayah tersebut, RT dan kepala desa juga tidak peduli dengan warganya. Sehingga tidak ada upaya sama sekali untuk membedah rumah dan membantu warga miskin ini.

Rahidi sempat membantu melaporkan situasi ini ke Dinas Sosial Pandeglang, dan akhirnya mereka turun. Keluarga ini akhirnya mendapat bantuan beras dan mie instan beberapa dus. Setelah itu tidak ada lagi bantuan, dan soal rumahnya sampai sekarang tak ada kabar dari Dinsos.

Karena tidak ada kabar lagi dari pemerintah karena itulah Ahmad Yani dan Rahidi memohonkan bantuan ke Dompet Dhuafa melalui LPM. Dan ia berterimakasih karena tim LPM Mustaki dan Iim sudah datang ke Kampung Monggor untuk melihat langsung kondisi keluarga ini.

“Untuk sementara kami meninggalkan uang Rp500 ribu, untuk beli kebutuhan harian. Soal rumah nanti kami bahas setelah kembali ke kantor,” ujar Mustaki sambil menyerahkan bantuan kepada Jamal mewakili keluarga tersebut.

Setelah itu, tim pun berpamitan dan menembus malam untuk mencari tempat peristirahatan. Fisik sudah lelah seharian melakukan perjalanan, bertambah lelah lagi memikirkan dhuafa yang tidur di rumah namun seperti tuna wisma. Hidup berkeluarga dengan privasi terbuka, hanya kegelapan malamlah yang membuat mereka merasa berada dalam kamar masing-masing.

Mustaki dan Iim berpikir keras bagaimana cara membantu keluarga ini untuk membedah rumahnya, sehingga mereka bisa hidup layaknya seperti keluarga lainnya. Namun agaknya persoalan ini tidak akan selesai oleh Mustaki dan Iim serta LPM Dompet Dhuafa tanpa uluran tangan para dermawan. Donasi Andalah yang akan menghadirkan senyum untuk keluarga dhuafa ini. Selamat menuai berkah.*

 

Catatan : karena suami Mujani pergi, kini rumah tersebut dihuni 11 orang (berkurang 1).

Advertisement