TASIKMALAYA – Anak dari Maulana, yang sehari-hari berprofesi sebagai penarik odong-odong harus merasakan hidup yang tidak layak di usianya yang belum genap sebulan.
Faang Maulana, begitu nama bayi yang menjadi korban kemiskinan, terpaksa tinggal di bekas kandang ayam dan berupa gubuk reyot.
Bersama ibu, ayah dan kakak-kakaknya yang berjumlah tiga orang yakni Eldimetri (14), Intan Ramadani (5), dan Fitri Maulani (2), mau tidak mau harus kerasan tinggal di bilik yang hanya berukuran 2×3 meter, setelah ia terlahir ke dunia.
Seperti ditulis pikiran-rakyat.com, Maulana, sang Ayah mengaku jangankan untuk membangun rumah, untuk menyewa kontrakan saja ia tidak bisa memenuhinya jika hanya didapat dari penghasilan menarik odong-odong.
“Sudah empat tahun saya tinggal di sini. Saya terpaksa tinggal di gubuk ini karena tak mampu menyewa kontrakan. Penghasilan saya sebagai tukang odong-odong keliling bahkan tak cukup untuk biaya makan sehari-hari,” tutur Maulana saat dijumpai di gubuknya, Kamis (28/4/2016).
Bilik yang berada di Kampung Bojong, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya itu berada di bantaran saluran irigasi Cikunten itu terbagi menjadi dua ruangan.
Satu ruangan untuk dapur, sisanya untuk tidur. Sempitnya ruang tidur ditambah serbuan semut membuat Maulana menidurkan anaknya, Faang pada ayunan yang ia buat di antara sekat rumahnya.
Sementara ketiga anaknya, tidur dengan beralaskan kasur tipis yang sudah lapuk karena terlalu tua.
Maulana mengungkapkan, ia sempat memiliki rumah hasil peninggalan orangtua sang istri Heni. Namun, rumah itu terpaksa dijual untuk membiayai pengobatan sang istri.
Melihat kondisi keluarga Maulana, salah seorang tetangganya pun berbaik hati meminjamkan lahan bekas kandang ayamnya untuk ditempati Maulana.
Sebenarnya, Maulana memiliki lahan kosong seluas dua bata (28 meter persegi). Namun, lahan itu masih belum menjadi miliknya secara sah, karena dibeli dengan cara mencicil.
Ia mengaku tak tega melihat ketiga anaknya yang masih balita merasakan dinginnya malam yang menyelinap dari sela-sela dinding rumahnya.
“Pengennya pindah, tetapi kita tidak punya uang untuk mengontrak atau bangun rumah. Di sini sudah tidak aman. Kemarin anak saya menjerit ketakutan karena ada ular masuk ke rumah. Bayi saya juga saya tidurkan di ayunan karena kalau di bawah suka banyak semutnya,” kata Heni, sang Ibu.
Ketua RW 12 Kampung Bojong, Lukman mengaku pernah mengajukan bantuan kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya, namun belum mampu direalisasikan.
“Sebelumnya sudah pernah diajukan. Di RW kami tidak hanya Maulana, tetapi ada tiga rumah lainnya yang juga butuh bantuan. Warga di sini juga tidak dapat berbuat apa-apa, karena rata-rata memang warga kurang mampu,” tutur Lukman.
Sementara itu, Lurah Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya Asep Kusdiana menuturkan, Pemerintah Kota Tasikmalaya yang ditemui dikantornya oleh PR mengatakan tak dapat merehabilitasi rumah Maulana lantaran rumahnya tidak berada di lahan milik pribadi. Sementara syarat pengajuan rumah tidak layak huni salah satunya harus memiliki sertifikat rumah dan tanah pribadi.
“Maulana itu benar warga kami. Tetapi kita tidak bisa mengajukan program RTLH karena rumahnya tidak memenuhi persyaratan. Satu-satunya cara ya warga melakukan swadaya untuk membantu membangun rumah di tanahnya, minimal kerangkanya saja,” ucap Asep.





