Mitigasi Bencana Harus Terus Dilakukan

Tampak salah satu bangunan ruko yang rusak akibat gempa berkekuatan 7,0SR di Lombok, Minggu pukul 16.49 (5/8). Paling tidak 91 korban tewas, lebih 160 luka-luka

INDONESIA yang terletak di wilayah cincin api Pasifik tidak lepas dari bencana gempa bumi, dan Minggu (5/8) pukul 18:46 Wita gempa tektonik berkekuatan 7,0 SR mengguncang kawasan Lombok Timur, Lombok Utara dan kota Mataram, bahkan getarannya terasa di Bali, Flores dan sebagian wilayah Jawa Timur.

Sejauh ini tercatat 99 korban tewas, 240 luka-luka, ribuan rumah dan bangunan rusak terutama di Lombok Utara dan sekitar 20.000 warga mengungsi, sementara tim SAR memfokuskan upaya untuk menyelamatkan korban hidup yang kemungkinan masih berada di reruntuhan bangunan, sedangkan menurut Ketua BMKG Dwikorita Kanawati, peristiwa tersebut berasal dari gempa utama berkekuatan 6,4 SR pada 29 Juli lalu.

Paling tidak tercatat 49 kali gempa susulan sejak terjadinya gempa besar, Minggu malam.

Di ibukota Provinsi NTB, Mataram, dilaporkan penduduk yang panik berhamburan dari rumah-rumah, gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan, sedangkan di jalan-jalan utama terjadi sejumlah kecelakaan lalulintas karena kendaraan terutama yang beroda dua tiba-tiba terasa oleng atau seolah-olah ban kempis mendadak. Suasana di perkampungan juga semakin mencekam karena tiba-tiba listrik padam.

Menurut Kapusdatin dan Humas BMKG Sutopo Purwo Nugroho, gempa yang mengguncang Minggu lalu pukul 18.49 Wita bersifat destruktif atau merusak dan memicu pasang laut sehingga ancaman gelombang tsunami sempat diumumkan pada penduduk walau kemudian dicabut lagi setelah gelombang laut agak tinggi ternyata hanya menyapu kawasan pinggir pantai.

Setelah terjadi gempa utama, kemungkinan kecil, akan terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar.

Sejumlah korban luka-luka masih dirawat di sejumlah puskesmas dan rumah sakit, sementara warga yang malam itu dengan mendirikan tenda-tenda di lapangan terbuka, di tempat-tempat yang dirasakan aman atau mengungsi ke tempat-tempat lebih tinggi sudah berangsur-angsur kembali.

Tim SAR gabungan memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah karena jumlah kerusakan masih terus didata.Sebagian korban meninggal atau yang luka-luka mengalami patah tulang akibat kejatuhan material bangunan yang roboh atau ambruk diterjang gempa.

Pemicu gempa, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementarian ESDM, gempa yang terjadi di pada pukul 18.46 Wita di koordinat 8,37 Lintang Selatan (LS) dan 116,48 Bujur Timur (BT) terjadi pada titik wilayah berusia sekitar 10 juta hingga 600 ribu tahun atau dikenal dengan istilah zaman tersier hingga zaman kuarter.

Sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh endapan gunung api berumur Tersier hingga Kuarter, sedimen dan metamorf Tersier sampai Pra Tersier yang rawan gempa karena mengalami pelapukan.

“Sebagian besar endapan tersebut telah tersesarkan dan terlapukkan. Pada endapan yang terlapukkan diperkirakan guncangan bumi akan lebih kuat, karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi,” kata Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Berdasarkan posisi dan kedalaman gempa, diperkirakan sumber gempa berasosiasi dengan Flores Back Arc Thrust. Karena itu, sangat memungkinkan terjadi gempa susulan dan tsunami pasca gempa utama walau kekuatannya lebih lemah.

Bencana alam tidak dapat dicegah, namun kesiapan melalui aksi mitigasi, jika dilakukan dengan baik, tentu dapat menekan risiko bencana, baik kehilangan nyawa manusia mau pun kerusakan atau kehilangan harta benda yang ditimbulkannya. (NS)

Advertisement