JIKA Joko Widodo jabatannya hanyalah Pak RT, mobil miliknya mogok di jalan, itu wajar-wajar saja. Sebab namanya RT, pensiunan lagi, pasti dananya terbatas. Tapi jika yang mogok adalah mobil Joko Widodo yang Presiden ke-7 RI, ini sungguh mengherankan. Bagaimana pemeliharaan suku cadangnya? Apakah bagian bengkel Istana sekelas pool PPD, angkutan BUMD DKI yang rugi melulu?
Sudah menjadi watak manusia, suka membayangkan yang mboten-mboten atas sesuatu yang belum atau tak mungkin jadi miliknya. Melihat artis cantik misalnya, seorang lelaki membayangkan betapa bahagia yang jadi suaminya kelak. Tiap hari tidur ditemani bidadari yang baru turun dari kahyangan. Pokoknya, jadi suami artis Anu tiap hari di rumah sarungan terus……. Seperti minum obatlah, tiga kali sehari sesendok makan!
Padahal yang jadi suaminya si artis, biasa-biasa saja. Bahkan sering kejadian, setahun dua tahun menikah sudah bercerai. Mereka bosan dengan pasangannya. Artis yang katanya cantik laksana peri, bagi suami yang sudah tahu luar dalamnya, akhirnya jenuh juga. Maka sesuai dengan petunjuk Kantor Pegadaian –mengatasi masalah tanpa masalah– lebih baik bercerai saja!
Soal mobil juga seperti itu. Yang tidak punya, membayangkan bagaimana asyiknya punya mobil sendiri. Tak peduli kredit dan empot-empotan mencicilnya, dipaksakan juga punya mobil. Padahal setelah berhasil memiliki mobil tersebut, rasanya ternyata biasa-biasa saja. Malah enakan yang tak punya mobil, tak pernah pusing dan stress gara-gara terjebak kemacetan.
Joko Widodo yang Presiden RI ke-7 juga seperti itu. Rakyat biasa melihat sang presiden naik mobil Mercedes Benz S600 Guard, takjub luar biasa. Pasti angler sekali itu! Padahal Jokowi yang sehari-hari menggunakan, biasa-biasa saja. Mercy itu sama saja nyamannya dengan angkutan ¾ Wahyu Atmo Jebres – Kartosuro di kota asalnya Jokowi.
Bahwa Jokowi memang sosok manusia sederhana, sudah terkenal dari dulu. Sudah jadi walikota, nonton event olahraga di Stadion Sriwedari, pilih loncat pagar. Meski pakai jas dan berdasi tidak malu beli sepatu bekas. Harga hanya Rp 25.000,- masih nawar pula. Meski sudah presiden, pakai jaket anak-anaknya juga hal biasa. Jokowi yang presiden, ternyata juga tak beda dengan orang-orang biasa.
Begitu sederhananya seorang Jokowi, saat menjadi Walikota Solo (2005-2012), mobil dinasnya hanya Toyota Camry bekas walikota sebelumnya, Slamet Suryanto. Ketika jadi Gubernur DKI ke mana-mana juga demennya pakai Kijang Inova saja. Bahkan sering ke Balaikota hanya naik sepeda.
Setelah menjadi Presiden RI, maunya pakai Inova saja, tapi aturan kenegaraan tak membolehkannya. Standar kendaraan dinas Presiden RI memang harus Mercedes Benz S600 Guard. Tapi Jokowi masih nawar juga, tidak mau yang baru. Jadilah Presiden RI ke-7 itu menggunakan mobil dinas bekas Presiden SBY, produksi tahun 2007. Bagi Jokowi, yang penting fungsinya, bukan baru atau lama. Toh juga, baru atau lama bayangannya tetap saja sama-sama hitam.
Bagi mereka yang kantong cekak, usia mobil 5 tahun, itu sudah cukup bagus. Bahkan orang kaya di Jakarta, ganti mobil bisa setiap tahun. Tapi Presiden Jokowi, mobil kepresidenan usia 10 tahun masih dipakai juga. Padahal selama menggunakan si Mercy S600 Guard tersebut, beberapa kali mogok. Tahun lalu mogok di Magetan, dan 18 Maret lalu mogok lagi di Menpawah, Kalbar.
Bagian kendaraan mobil Istana, pasti jauh beda dengan bengkel PPD di pelbagai pool. Mana mungkin ada manipulasi-manipulasi sebagai bengkel angkutan milik BUMD. Jika mobil presiden saja bisa mogok, ini mengingatkan lagu “Si Jago Mogok”-nya Titik Sandhora di tahun 1967 dulu. Mogok lagi, mogok lagi, apaan…… (Cantrik Metaram)





