MOSUL—Operasi militer Irak yang didukung Amerika Serikat untuk merebut kota Mosul dari ISIS terus berlangsung. Ratusan ribu warga yang mendiami ibu kota Provinsi NInveh ini pun harus mengungsi, mencari tempat aman.
Organisasi Internasional untuk Migran (IOM) melansir, ada 206.520 orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak 17 Oktober 2016 lalu. Menurut data terkini yang diperlihatkan oleh sistem Matriks Pelacakan Pengungsi (DTM) IOM, 34.420 keluarga kehilangan tempat tinggal mereka. DTM adalah salah satu sistem managemen penerangan IOM yang dirancang untuk melacak dan memantau orang yang mengungsi selama krisis.
Pada Jumat pagi (3/3), seorang pejabat PBB memperingatkan kenaikan serius jumlah orang yang menjadi pengungsi telah dicatat dalam beberapa hari belakangan. Jumlah yang kehilangan tempat tinggal dari Mosul pada Jumat tersebut mencapai 191.000 orang.
Data terkini PBB, yang disiarkan pada Jumat, memperlihatkan ada lebih dari 100.000 anak mengungsi dari Mosul, sejak awal operasi untuk merebut kembali kota itu. Di antara mereka, sebanyak 15.000 anak telah meninggalkan Mosul Barat selama satu pekan belakangan.
Menurut perkiraan PBB, sebanyak 250.000 orang mungkin dipaksa meninggalkan rumah mereka akibat bentrokan sengit di bagian barat kota tersebut, tempat sebanyak 750.000 orang terjebak.
“Beberapa tim yang berafiliasi kepada Kementerian Migrasi Irak telah menerima lebih dari 57.000 warga sipil” selama operasi militer 15 hari belakangan di sisi barat Mosul,” kata satu pernyataan dari Jassim Mohammed Al-Jaf, Menteri Migrasi dan Pengungsi Irak.
Kementerian Migrasi menyediakan pasokan darurat, termasuk makanan dan obat buat pengungsi, kata Jaf. Ia menambahkan Kementerian Irak itu juga siap menerima sebanyak 100.000 orang di berbagai kampnya di dekat Mosul.
Jumlah seluruh warga sipil yang mengungsi mencapai 286.000 orang sejak awal operasi besar untuk membebaskan Mosul pada 17 Oktober, tambah Jaf.
Perdana Menteri Irak Haider Al-Abadi, yang juga adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, pada 19 Februari mengumumkan dimulainya serangan untuk mengusir gerilyawan garis keras dari sisi barat Kota Mosul, yang oleh warga setempat dikenal dengan nama Tepi Kanan Sungai Tigria, yang membelah kota itu. Antara





