SEBETULNYA tujuan orang mudik itu hanyalah untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan keluarga di kampung, baik orangtua, kakak adik maupun paman dan uwak; pas di hari Lebaran. Tapi yang terjadi, bukan saja saja silaturahmi, tapi juga menjadi ajang pamer kesuksesan di kota. Bahkan jika ketemu apes, bukan mudik ke kampung halaman, tapi malah mudik untuk selamanya ke alam…..barzah gara-gara kecelakaan di jalan.
Mudik memang tak hanya butuh kesiapan uang kartal, tapi juga mental. Uang kartal artinya, kita harus punya persediaan uang tunai cukup banyak. Baik itu yang ada di kantong maupun dompet, juga masih tersimpan di mesin ATM. Soalnya bukan rahasia lagi. Di samping untuk ongkos PP sekeluarga, juga di kampung pasti akan menjadi “sinterklas” bagi-bagi rejeki pada orang sekampungnya. Anak-anak dikasih Rp 10.000,- sudah diam. Tapi untuk orang dewasa teman semasa kecil, paling tidak Rp 50.000,-
Mental perlu disiapkan untuk bagi pemudik, dan nantinya arus balik. Sebab yang namanya mudik, pasti akan tersergap kemacetan di mana-mana, baik arah ke timur (Jateng, Jatim, DIY) maupun ke arat barat (Sumatera). Harus siap mental menerima kemacetan itu sebagai keniscayaan. Padahal kemacetan itu bukan saja karena sempitnya jalan, tapi juga disiplin pengendara yang nyaris nol. Sebagai pengemudi pasti tahu dong bahwa tidak boleh menyerobot jalur dari arah lawan. Tapi asal musim mudik, pelanggaran sepertu itu selalu terjadi di mana-mana.
Untuk mengantisipasi kemacetan, pemerintah telah berbuat semaksimal mungkin. Bukan saja jalan tol diperbanyak, juga ada diskon tertentu saat melewati pintu tol, bahkan cuti bersama pun diperpanjang sampai 10 hari. Dengan cara itu diharapkan pemudik tidak berangkat di hari-hari mepet dekat Lebaran. Pemerintah bisa bilang begitu karena semua PNS sudah dapat THR. Tapi yang bukan PNS bukan pula pekerja swasta, mudik terlalu mepet waktu bisa saja karena jual ini itu belum laku.
Teori pemerintah kali ini agaknya berhasil. Sejak pergerakan arus mudi terjadi tiga hari lalu sampai hari ini, belum ada berita kemacetan terlalu parah. Baru ada berita kemacetan Minggu siang, yakni di pintu exit tol Kertasari, Tegal, panjangnya sampai 4 Km. Jelas itu sekedar kira-kira tentunya. Kalau tidak percaya, ya silakan ukur sendiri.
Di Jakarta ini yang tak pusing dengan “ritual” mudik mungkin hanya orang Betawi. Dia mau mudik ke mana? Misalnya dari Depok tempat tinggalnya sekarang, ke Karet Pedurenan (Jakpus) kampungnya dulu mau cari apa? Bangunan penduduk asli sudah berubah jadi gedung-gedung pencakar. Maka orang Betawi suka heran, begitu sibuknya orang Jawa dan Sumatra untuk pulang kampung. Nabung setahun dihabiskan hanya untuk mudik, alias mumet nek dhuwite sethithik (pusing jika duitnya sedikit).
Atau juga keluarga yang orangtuanya di kampung sudah habis (meninggal). Karena orangtua adalah dorongan kuat orang kota kembali ke desa. Jika rumah pusaka peninggalan orangtua masih ada, beruntung. Banyak juga yang tinggal pondasi, atau juga sudah dijual ke orang karena warisan mau dibagi. Pulang kampung hanya menemukan batur (pondasi rumah), sungguh kenangan memilukan.
Paling celaka adalah, mudik menjadikan arus urbanisasi ke kota besar makin meningkat. Sebab ketika sanak famili pakai mobil -padahal hanya rental- menjadikan orang kampung bilang: dia sukses di Ibukota. Maka orang desa pun ingin mengadu nasib ke Jakarta. Tamat SMA langsung cabut ke Ibukota, padahal di kota belum tentu dapat pekerjaan kecuali menjadi buruh pabrik. (Cantrik Metaram)





