MASYARAKAT Jawa punya kepercayaan, orang yang mendekati hari akhirnya biasanya membuat prestasi luar biasa. Dan itu terjadi pula atas penyanyi legendaris campursari Didi Kempot (53). Pada 28 April 2020, almarhum sempat meluncurkan video klip lagu “Ojo mudik” hasil karyanya. Tapi sungguh tak dinyana tak diduga, seminggu kemudian atau Selasa pagi kemarin, Didi Kempot justru “mudik” untuk selamanya, kembali ke pangkuan Illahi.
Lalu pada 11 April 2020 dari rumahnya di Jl. Mataram VI No. 5, Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, dia menggelar konser amal Covid-19 bekerja sama dengan Kompas TV. Hasilnya luar biasa, terkumpul dana untuk mereka yang terdampak Corona menyentuh angka Rp 7,6 miliar lebih. Kepedulian almarhum pada masyarakat kecil terdampak virus Corona, semoga menjadi khusnul khotimah.
Didi Kempot lewat lagu “Ojo Mudik”, mengimbau para perantau di kota, untuk di rumah saja, jangan memaksakan diri pulang kampung di tengah-tengah wabah Corona. Sungguh tak ada yang menduga bahwa lagu itu merupakan isyarat bahwa Didi Kempot justru hendak “mudik” selamanya, meninggalkan “Sobat Ambyar” para penggemarnya, juga lagu-lagu ciptaannya.
Sebagai orang Solo kelahiran 31 Desember 1966, pemusik yang nama aslinya Dionisius Prasetyo itu sangat memahami filosofi leluhurnya bahwa wong urip iku mung mampir ngombe (hidup sekedar numpang minum). Dan ngombe-nya Didi Kempot memang lain. Lewat lagu-lagu campursari dia merintis kehidupannya, mulai dari pengamen jalanan hingga menjadi penyanyi papan atas.
Kepergian penyanyi campursari legendaries dari Solo ini sangat mengejutkan. Dia tak pernah sakit, juga tak punya riwayat penyakit berat. Tahu-tahu Selasa pagi kemarin dilarikan ke RS Kasih Ibu, Surakarta. Hanya 20 menit di ruang UGD, Didi Kempot dipanggil sang Khalik tepat pukul 07.45. Inna lillahi wainna illaihi rojiun.
Merintis karier dimulai dari pengamen jalanan, telah mengubah namannya dengan tambahan Kempot yang ternyata singkatan: Kelompok Pengamen Trotoar. Dari Solo dia kemudian bertaruh nasib ke Jakarta, tetap saja jadi pengamen kelas lampu merah. Mamik Podang sempat mengajaknya berkarir bersamanya, tapi Didi Kempot menolak karena tak mau sukses dalam bayang-bayang kakaknya.
Dia telah mencoba merekam sejumlah lagunya, tapi tidak laku. Nasib berubah ketika diundang pentas di Suriname dan Belanda tahun 1993. Ternyata wong Jawa Suriname dan Nederland sangat menggemari lagu-lagu Didi Kempot. Dia sangat terkenal di sana, tapi baru ngetop di negeri sendiri sejak tahun 2000-an, dengan lagu-lagu hitnya semisal Stasiun Balapan dan Sewu Kutha. Paling menggelitik adalah lagu Cocak Rawa, karena liriknya yang sangat imaginatip ke hal-hal seronok, anak kecil belum cukup umur pun ikut mendendangkannya.
Lagu-lagu Angin Paramaribo, Kenya Suriname, Suket Teki, Kalung Emas, Lobi Suriname; sangat terkenal di Paramaribo. Hampir 90 persen lagu-lagu Didi Kempot merupakan ungkapan orang-orang patah hati, karena cintanya tak bersambut di jagad asmara. Maka oleh para penggemarnya dari “Sobat Ambyar” Didi Kempot diberi label “The Godfather Broken Heart”.
Didi Kempot tak menolak anggapan itu. Tapi dia sengaja memilih tema-tema semacam itu, karena yang namanya “kegagalan cinta” banyak dialami oleh setiap orang, dari kalangan rakyat jelata hingga orang gedean. Dan cinta memang kisah kuno yang tak pernah basi, menjadikan ilham tak pernah kering bagi para penciptanya. Bahkan ada yang bilang, siapa sedang jatuh cinta, maka dia akan menjadi penyair.
Didi Kempot sejak kecil memang hidup dalam keluarga praktisi seni. Sang ayah, Mbah Ranto Edi Gudel, adalah pelawak beken di Solo, yang di tahun 1970-an sering melawak di RRI Solo seusai warta berita pukul 14.00. Di hari tuanya sering pentas bersama dalang kondang Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudharsono. Kakaknya, Mamik Podang, adalah juga pelawak Srimulat yang cukup sukses. Kini mereka bertiga telah damai di alam sana. Jika boleh berimajinasi, mungkin di sana Mbah Ranto terpekik, “Kok cepet temen ta le, kowe nyusul mrene?” (Cantrik Metaram)





