JEMBER (KBK) – Setelah mengeluarkan pernyataan kontroversi tentang syarat lulus SLTA para pelajar perempuan harus dites ‘keperawanannya’, kini Mufti Ali, Anggota DPRD Jember, Jawa Timur kembali menyuarakan penghapus perayaan Valentine Day di Indonesia.
“Jika saya menjadi presiden, saya akan hapus perayaan Valentine Day di Indonesia,” kata Mufti Ali kepada media.
Dikatakan Mufti, pemberian cokelat atau bunga dapat menyebabkan “seks bebas” di kalangan anak muda. Hal itu diiyakan Istrinya, Siti, yang duduk di sampingnya.
Ini bukan pernyataan kontroversial pertama yang disampaikan anggora dewan dari Jember ini dalam dua minggu terakhir.
Minggu lalu, pernyataan Mufti Ali sempat menjadi berita utama internasional ketika ia mengusulkan pengujian keperawanan sebagai prasyarat untuk anak perempuan 16 tahun lulus dari SMA.
Meskipun usulanya itu banyak ditentang LSM pembela hak-hak sipil, Mufti tetap kokoh dengan pendapatnya bahwa pemerintah harus memiliki peran dalam mengatur kehidupan seks anak muda, baik melalui tes keperawanan atau pelarangan Hari Valentine.
“Anak muda sangat mudah dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di TV, seperti kehidupan bebas ala Barat. Mereka melihat orang-orang terlibat dalam seks bebas dan mereka ingin melakukannya juga. Untuk ini harus ada upaya pencegahan, sebelum generasi muda semakin rusak,” kata Mufti.
Mufti tidak sendirian dalam pandangannya. Minggu lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga berbicara tentang bahaya memperingati Hari Valentine.
Perwakilan MUI mengingatkan, penjualan cokelat dan produk lain berhadiah kondom dapat mendorong melakukan seks pra-nikah.
Dalam beberapa tahun terakhir protes terhadap Hari Valentine telah menjadi biasa. Para pelajar di Malang, Jawa Timur, menyatakan 14 Februari sebagai hari “jilbab” mereka berkampanye bagaimana berpakaian dengan sopan.
Seperti dikutip dari laporkan Al Jazeera, Selasa (5/1/2016), Sabtu dini hari saat peringatan tahun baru 2016, pihak berwenang menangkap lebih dari 100 pasangan yang belum menikah di kamar Hotel kota-kota Surabaya dan Malang, Jawa Timur, dan di Pontianak di pulau Kalimantan.
Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Badan Keluarga Berencana Nasional tahun 2010, sekitar 54 persen remaja di Surabaya, 52 Persen remaja di Medan dan 51 Persen remaja di Jakarta telah terlibat Sex Pra Nikah.





