Mungkinkah Indonesia Masuk Era Industri 4.0 ?

JAKARTA (KBK) – “Kita masuk ke industri 4.0 agar industri Indonesia tidak tertinggal oleh negara lain,” ujar Kepala Litbang Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual Kementerian Perindustrian Moko Pamungkas dalam diskusi bertajuk ‘Potret Buram Pekerja Indonesia realita menuju era industri 4.0’ di Jakarta (4/9).

Moko mengatakan pekerja Indonesia tak perlu risau perannya tergantikan oleh robot ketika menyongsong era industri 4.0. Guna menyambut datangnya era tersebut, Kemenperin telah menyiapkan 5 langkah jitu di antaranya dengan cara peningkatan kualitas SDM dengan pendidikan vokasi industri menuju dual sistem.

Selain itu juga dilakukan pembangunan politeknik dan lembaga kejuruan, menciptakan konsep link and match di tingkat SMK, mendirikan pelatihann sistem 3 in 1 dan mensertifikasi kompetensi.

“Ini untuk menyelaraskan standar digital dengan norma dunia,” kata Moko.

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono menilai Indonesia belum siap memasuki era industri 4.0. Adanya anomali terhadap transisi struktural ketenagakerjaan di Indonesia merupakan salah satu penyebabnya.

Alih-alih memasuki industri bernilai tambah tinggi yang padat modal dan padat teknologi, pekerja Indonesia justru semakin bergantung pada sektor jasa bernilai tambah rendah.

“Tenaga kerja Indonesia 30 persen di antaranya berada di sektor pertanian yang berpenghasilan rendah. Hal ini kemudian menjadi cikal bakal kesenjangan ekonomi,” ujar Yusuf.

Yusuf melihat pekerjan Indonesia terkonsen pada jasa dan produksi berpenghasilan rendah. Hal itu terjadi bukan karena pekerja Indonesia malas, tetapi tingkat pendidikan yang rendah sehingga pekerja tidak memiliki pilihan untuk mendongkrak penghasilan.

“Saya melihat industri 4.0 akan menjadi sangat mewah bagi sebagian besar pekerja Indonesia,” ucapnya.

Advertisement