SENAKAL- nakalnya murid, takkan berani melawan guru. Itu duluuu! Tapi sekarang di era gombalisasi ini, sudah sering terjadi. Bila oposisi melawan pemerintah namanya “people power”, apa murid melawan guru bisa disebut “student power”? Sepertinya bukan! Sebab “people power”-nya Amien Rais di Solo hanya dihadiri 100-an orang, sementara murid melawan guru jumlahnya baru sekitar puluhan. Tapi beritanya sangat menghentak, apa lagi diviralkan.
Berita sangat memprihatinkan ini baru saja terjadi di Sumbar, tepatnya SDN di SDN 07 Sariak Laweh, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota. Bu Guru Fermini Wulansari ketika marah pada muridnya yang bernama –sebut saja – si Muntu (anak nakal versi buku Bahasaku karya BM. Nur), segera memukulnya pakai penggaris. Si murid marah dengan mengumpat Bu Guru dengan kata-kata kasar bahasa Minang. Bahkan menendang pintu segala. Bu Guru pun lalu bikin konten, dengan memvideokan adegan tersebut pakai HP. Tambah marahlah si Muntu, sehingga berusaha merampas HP Bu Guru. Para murid teman-teman Tuti, Amir dan Sudin terdiam kaget melihat kebadungan teman satu kelas.
Kejadian serupa terjadi di SMK Pustek Serpong Kabupaten Tangerang, Banten awal Februaro 2023 lalu. Murid kelas 11 yang tak disebut namanya, marah ditegur Pak Guru gara-gara bermain lampu di kelas. Anak itu sudah ditegur Pak Guru, tapi ngeyel. “Siapa orangtuamu, biar saya datang ke rumahmu.” Kata Pak Guru. Jawab si murid, “Tak punya bapak, dan ibu sibuk!” Ketika Pak Guru bilang, “Pantes, karena tak punya bapak.” Nah, murid badung itu jadi emosi, tak punya bapak kan bisa dimaknai anak haram. Pak Guru dikejarnya dan dimaki-maki pakai kata tolol segala, tetapi pintu ruang guru sudah ditutup.
Di Madura lebih sadis lagi. Pak Guru Budi Cahyono guru seni di SMAN I Torjun Sampang, awal Februari 2018 tewas dihajar oleh muridnya yang bernama MH. Masalahnya, murid tak terima pipinya dioles cat minyak gara-gara mengganggu teman-temannya yang sedang belajar melukis. Bak Mahesa Jenar menghajar Lawa Ijo dalam cerita silat SH Mintarjo, tengkuk Pak Guru dipukulnya dengan keras. Penganiayaan berhasil dilerai para siswa dan guru. Kemudian Budi Cahyono diminta pulang. Ternyata luka Pak Guru cukup serius, sehingga dibawa ke RSUD dr. Sutomo Surabaya. Ternyata Budi Cahyono dinyatakan meninggal karena mati batang otak.
Masih ada sederet kisah murid melawan gurunya dari berbagai kota di Indonesia, di mana itu semua mengindikasikan murid sekarang banyak yang tak menghormati gurunya. Padahal guru tak sekedar mencerdaskan murid, tapi juga mendidik generasi muda yang akan menjadi pewaris bangsa. Tanpa guru di sekolah, murid tak mungkin nantinya jadi pemimpin yang mengatur negara. Sekedar contoh, Jokowi yang sudah 2 periode jadi Presiden RI dan 2 kali jadi Walikota Solo dan jadi Gubernur DKI sejenak; masih juga ada kelompok yang meragukan ijazah sekolahnya baik SMA maupun Perguruan Tinggi.
Ingat, Jepang ketika negaranya lumpuh usai kota Horoshima-Nagasaki dibom atom oleh Sekutu (AS) pada Agustus 1945. Kaisar Hirohito lebih hirau nasib ribuan gurunya yang tewas ketimbang militernya. Kenapa? Kaisar berpendapat, tanpa guru mereka semua tidak dapat belajar. Bagaimana mungkin Jepang akan mengejar ketertinggalan mereka dan bangkit lagi dari keadaan ini, jika tanpa guru. Karenanya, dengan 45.000 guru yang tersisa Jepang mendidik rakyatnya. Hasilnya, tahun 1970-an Jepang sudah menjadi negara maju.
Sedangkan Indonesia, sampai tahun 1970-an negara belum bisa menghargai gurunya kecuali dengan sebutan: pahlawan tanpa tanda jasa. Gaji guru terlalu kecil, sehingga mereka tidak bisa fokus pada profesinya, harus bisa ngobyek untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Namun demikian mereka tetap mendidik murid-muridnya dengan penuh tanggung jawab.
Mereka mendidik muridnya dengan keras, agar kedisiplinan menjadi karakter anak bangsa. Maka jika guru sampai menjewer, tempeleng dan nyabet murid pakai tuding, adalah bagian dari cara mendisiplinkan murid. Tapi sejak era reformasi dengan UU Perlindungan Anak, guru pukul murid bisa masuk penjara. Maka bekas guru penulis saat di SD pernah mengatakan, “Kalau aku jadi guru sekarang, woo…..sudah masuk penjara aku!”
Akibatnya, murid-murid sekarang dari tingkat SD sampai SMA-nya menjadi manja. Jangankan dipukul, diomeli Pak/Bu Guru saja sudah berani melawan. Jika tak berani langsung, dia mengadu pada orangtuanya. Celakanya, orang-orangtua si anak tersebut adalah produk setelah UU Perindungan Anak No. 23 tahun 2002 diberlakukan dengan segala revisinya. Maka jadilah……, orangtua melabrak ke sekolah bahkan lapor polisi.
Murid-murid generasi sekarang banyak yang tidak menghargai gurunya, sehingga berani pukul dan membentak gurunya. Akibatnya pepatah lama yang berbunyi guru kencing berdiri murid kencing berlari realitasnya berubah menjadi: guru terkencing-kencing karena dihajar oleh murid atau orangtua muridnya. Sungguh menyedihkan. (Cantrik Metaram).





