PONOROGO – Longsor yang melanda perbukitan di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo sangat mengagetkan warga dan menyisakan trauma bagi korban yang selamat.
Salah satu korban selamat, Museri, mengaku sangat kehilangan kakak perempuan, bibi dan saudara-saudaranya yang turut tertimbun longsor.
Museri juga menjadi salah satu warga yang ikut menanam jahe. Ketika itu sehabis mengantar kedua putrinya ke sekolah, wanita 40 tahunan itu menuju ladang belakang rumahnya. Dia bergabung dengan delapan orang sanak familinya yang sedang asyik bercocok tanam di kebun jahe.
“Tapi mereka meminta saya pulang lagi. Katanya suruh ganti baju yang lebih pas. Ya baju yang siap buat kotor-kotor gitu. Lalu saya disuruh lagi ngambil karung buat menampung jahe yang dipanen,” ungkapnya.
Tak disangka saat Museri keluar rumah sambil menenteng karung tersebut terdengar sebuah dentuman. Lalu terdengar gemuruh yang semakin menguat.
“Saya lihat kabut hitam di langit, di bawahnya tanah bergulung-gulung. Saya teriak ke keluarga saya. Tapi terlambat, mereka ditelan longsor. Saya lari menjauh dan pingsan. Tiba-tiba sudah di sini (rumah Kades, tempat evakuasi),” ungkap Museri, sebagaimana dilansir Sindonews, Minggu (2/4/2017).
Dia tidak menduga musibah yang menghilangkan keluarga besarnya akan terjadi. Dia pun tidak habis pikir ketika seluruh keluarganya selalu menyuruh-nyuruhnya bolak-balik dari rumah ke ladang jahe mereka.
“Kalau tidak karena karung, mungkin saya sudah ikut tertelan longsor. Karung itu menyelamatkan saya. Saya, dua anak saya juga selamat. Suami masih di Timika, kerja,” ujarnya.
Diketahui longsor tersebut telah menimbun 32 rumah dan menyebabkan 28 korban hilang, dan hingga kini tim gabungan sedang berusaha melakukan pencarian.





