
MUSIBAH bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana-mana, baik akibat kelalaian, soal-soal teknis, faktor alam atau pun cuaca.
Helikopter Dauphin AS 365 milik Badan SAR Nasional (Basarnas) jatuh di lereng Bukit Butak, Desa Canggal, Kec. Candiroto, Kab. Temanggung, Jawa Tengah bersama lima awak dan empat anggota SAR, Minggu (2/7) pukul 16.00 waktu setempat justeru dalam tugas untuk mengevakuasi korban semburan lahar di kawah Sileri, Kab. Banjarnegara, beberapa puluh Km dari lokasi jatuhnya heli.
Semburan lumpur dan asap akibat tekanan udara panas di dalam kerak bumi (magma) mengakibatkan sejumlah wisatawan lokal yang sedang berada di kawasan seputar kawah tunggang-langgang menyelamatkan diri, belasan diantaranya mengalami luka-luka.
Masih beruntung, tidak seorang pun diantara wisatawan itu mengalami luka berat atau meninggal, karena asap yang dimuntahkan dari kawah Sileri tidak mengandung zat beracun. Korban sebagian mengalami lecet atau patah tangan akibat terjatuh saat berusaha menjauh dari lokasi semburan lumpur.
Seluruhnya sembilan awak dan penumpang heli (petugas SAR) ditemukan sudah meninggal saat puluhan petugas gabungan dari SAR, TNI, Polisi dan relawan berhasil mendekati reruntuhan helikopter tim penyelamat itu. Saat ini korban disemayamkan di RS Bhayangkara, Semarang.
Menurut data dari Basarnas jateng, kelima awak yang meninggal yakni pilot Kapten Laut (P) Haryanto, copilot Kapten Laut (P) Li Solihin, Peltu Budi Santoso, Serka Hari Marsono dan Yoga Febrianto, sedangkan keempat petugas penyelamat yakni M. Affandi, Nyoto Purwanto, Budi Resti, dan Catur.
Belum diketahui penyebab pasti jatuhnya heli naas itu, namun saat musibah, lokasi sesuai dengan kawasan topografi pegunungan, berkabut dan berawan, sementara tim evakuasi cukup sulit mencapai lokasi karena kondisi medan yang hanya bisa dilalui jalan setapak.
Dirops basarnas Brigjen (Marinir) Irvan Titus mengemukakan, heli dengan nomor registrasi HR 3602 itu semula disiagakan untuk mengawasi arus balik mudik, heli relatif baru (buatan 2015) sedangkan para awaknya juga baru pergantian tugas. Penyebab pasti kecelakaan akan baru bisa diketahui setelah selesai hasil investigasi oleh tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sedangkan kotak hitam berisi data suara di cockpit dan data penerbangan (Voice Data Recorder – VCD dan Flight Data Recorder/FDR ) sudah ditemukan.
Heli Dauphin AS 365 N3 milik Basarnas yang diproduksi bersama antara PT Dirgantara Indonesia, Aerospatiale, Eurochopter dan Airbus berharga sekitar 10 juta dolar AS(sekitar Rp135 milyar) relatif baru digunakan (sejak 2015) dengan 600 jam terbang.
Dauphin 365 N3 yang termasuk kategori heli medium berat bermesin ganda mampu melaju dalam kecepatan 265 Km per jam dan mengangkut dua awak dan 12 penumpang.
Kawah Sileri dikenal paling aktif di pegunungan Dieng dengan tipe letusan freatic (gas) yang pernah menelan korban jiwa masing-masing lebih 100 orang pada 1944 dan pada 1964. Letusan dan semburan lumpur serta gempa tremor juga pernah terjadi pada 1984, 1986, 2003. 2009 dan 2013 namun tidak sampai merenggut korban jiwa.
Dalam semburan lumpur kali ini, kecelakaan terjadi karena jarak para korban terlalu dekat dari kawah, padahal sesuai aturan, wisatawan hanya diizinkan berada paling dekat 100 meter dari kawah. Tidak dilaporkan, apakah ada rambu-rambu larangan dipasang atau ada petugas yang mengawasi para pengunjung saat semburan lumpur terjadi.
Diharapkan KNKT akan mengumumkan hasil investigasi mereka mengenai penyebab kecelakaan heli dan bagi Dinas Parawisata di daerah agar lebih ketat mengawasi para wisatawan terutama di kawasan yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka.




