Muslimah Berjilbab Satu-satunya di Gedung Putih Akhirnya Resign

Rumana Ahmad / The Atlantic

WASHINGTON DC—Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang melarang masuk wisatawan asal negara-negara Muslim kembali menelan “korban”. Seorang staff Dewan Keamanan Nasional yang juga bekerja di Gedung Putih, Rumana Ahmed harus mengundurkan diri. Langkah ini ia ambil sebagai protes atas kebijakan presidennya.

Rumana masuk ke pemerintahan pada masa Obama. Sebenarnya ia ingin tetap menjadi bagian dari pemerintah, untuk memberikan pandangan dan analisisnya terkait dengan dunia Islam. Namun, ia hanya bertahan selama delapan hari.

“Ketika Trump mengeluarkan larangan masuk dari tujuh negara mayoritas Muslim dan semua pengungsi Suriah, aku tahu aku tidak bisa lagi tinggal dan bekerja untuk pemerintahan yang melihat saya dan orang-orang seperti saya tidak sama seperti warga negara lainnya, tetapi sebagai ancaman,” ujarnya dalam surat terbuka di The Atlantic.

Sebelum meninggalkan Gedung Putih, Rumana juga pamitan dengan penasihat senior bidang komunikasi Trump, Michael Anton. “Karena kami berbagi ruangan. Dia cukup terkejut dan bertanya apakah ia meninggalkan pemerintahan secara keseluruhan,” tambah Rumana.

Rumana menjelaskan, ia tidak bisa berada di gedung bersejarah itu sementara pemerintahnya selalu menjelek-jelakkan apa yang ia perjuangkan selama ini, sebagai Muslim, juga sebagai orang Amerika. “Saya katakan kepadanya bahwa pemerintah telah menyerang prinsip-prinsip dasar demokrasi,” tegas Rumana. Anton pun hanya melihat tanpa kata-kata.

Rumana juga kemudian mengetahui, bahwa Anton ternyata pernah menulis sebuah opini di media massa dengan nama samaran. Dalam tulisannya itu, ia membuji sistem otoritarianisme dan menyerang keragaman sebagai ‘kelemahan, dan Islam dianggap tidak sesuai dengan Barat modern.

 

Advertisement