MUSTAKAWENI MBELING (1)

Prabu Bumiloka awalnya tak setuju Mustakaweni menuntut balas. Tapi pada akhirnya mendukung dengan bahagia.

DALAM usia balita ditinggal mati ayah tercinta, sungguh memilukan nasib Mustakaweni. Tetapi jika dirunut masalahnya, kematian Prabu Niwatakawaca sebenarnya juga karena ulah sendiri. Bagaimana mungkin, sudah punya istri beranak dua masing-masing Bumiloka dan Mustakaweni, kok masih nginceng Dewi Supraba bidadari dari kahyangan. Padahal bidadari paling top di Jonggring Salaka ini merupakan WIL-nya Harjuna ksatria Madukara.

Lalu siapa nama istri Prabu Niwatakawaca tersebut, kabarnya bernama Ny. Niwatakawaca, gitu. Yang pasti dia tak mau protes atau gugat cerai ke Pengadilan Agama. Sebagai wanita yang penyabar, Ny. Niwatakawaca hanya bisa berdoa, semoga dewa memberi-Nya jalan terbaik untuk suami. Dan ternyata, jalan terbaik itu Prabu Niwatakawaca mati dipanah Harjuna tepat di mulutnya yang suka nyinyir ngeritik dan ngecam pemerintahan kahyangan.

“Sudah  nasibmu nak, kamu jadi anak yatim sekarang,” kata Ny. Niwatakawaca saat mendengar suaminya tewas oleh Harjuna.

“Siapa mak yang bunuh ayah kita?” kata Mustakaweni kecil mencoba bertanya.

“Sudahlah nak, kamu masih kecil, nanti akan tahu sendiri. Tapi percayalah nak, rasa dendam itu penyakit yang akan menggerogoti jiwa dan sanubari kita.” Nasihat sang ibu, Ny. Niwatakawaca.

Waktu terus berlalu, tahu-tahu Mustakaweni telah menjadi gadis dewasa, sementaa sang kakak, Prabu Bumiloka, telah sekian tahun lamanya menjadi raja Manikmantaka dengan program-program kerja tak begitu jelas. Dengan alasan untuk menyemarakkan pemandangan kota, rumah-rumah dicat warna-warni pada atapnya. Ketika terjadi pencemaran bau kali, cukup ditutup dengan jaring berwarna hitam. Logikanya, karena warna hitam itu mudah menerima sinar, niscaya bau kali akan sirna oleh panas yang diterima oleh jaring-jaring hitam tersebut.

Bau-bau anyir boleh enyah dari kali, tapi bau kejahatan kemanusiaan yang terjadi 13 tahun lalu atas terbunuhnya Prabu Niwatakawaca, kembali didengungkan oleh sekelompok masa pecinta Prabu Niwatakawaca almarhum. Memperingati tewasnya rasa Manikmantaka legendaris itu, ketua kelompok dalam orasinya mendesak agak anak keturunan almarhum menuntut balas kematian tersebut.

“Tangkap Harjuna dan adili di sini dengan vonis hukuman mati, barulah arwah Prabu Niwatakawaca tak penasaran di swarga pengrantunan,” kata sang orator yang tak lebih dari kalangan LSM.

“Prabu Bumiloka atau Dewi Mustakaweni sebagai keturunan langsung, harus berani tampil untuk menjawab tuntutan sejarah. Bangsa Manikmantaka bukan bangsa tempe,” kata orator yang lain. Wajahnya tak begitu jelas karena tertutup masker.

Demo di depan istana Manikmantaka itu masuk TV dan tayangan Youtube, dan Mustakaweni sempat menontonnya. Dia lalu bertanya pada sang ibu, Ny. Niwatakawaca yang sekarang sudah nenek-nenek. Tapi sang ibu tetap konsisten, tak mau membuka misteri kematian suaminya dulu. Padahal jika ditilik dari data-data di Wikileak, kelakuan Niwatakawaca muda dulu sangat memalukan. Hobinya ngintip tempat tidur para bidadari, termasuk ketika mandi.

Nah, saat Nirbita (Niwatakawaca muda) ngintip bidadari tidur dengan rok tersingkap, ternyata ketahuan oleh bidadari Dewi Supraba. Langsung saja dia ambil sedotan plastik teh botol yang baru diminumnya, lalu dicolokkan ke mata sang pengintip yang nempel di lobang kunci. Crott…..langsung mata Nirbita buta sebelah. Sebab ketika dibawa ke RS Mata Aini Jakarta maupun Dr Yap di Yogyakarta, keduanya angkat tangan.

Di sinilah bedanya, jika Novel Baswedan jadi buta sebelah karena resiko berantas koruptor, Nirbita buta sebelah justru resiko ngintip bidadari mandi!

“Jadi sudahlah nak, lupakan saja kisah-kisah memalukan ayahmu. Jika kamu hendak menuntut balas, itu justru akan membuka aib ayahmu. Apa kamu rela, jika ayahmu nanti jadi topik pembahasan sejarawan Asvi Warman Adam JJ. Rijal di TV?” tanya Ny. Niwatakawaca menjajagi tekad putrinya.

Mustakaweni ini cewek tomboy, postur tubuhnya wanita tapi kelakuan dan keberaniannya melebihi kaum lelaki. Sejak bocah hobinya panjat-memanjat, tak takut kecantel (tersangkut) cabang dan ranting. Biar sang emak memperingatkan kecantel suwek (tersangkut sampai sobek) tak juga takut. Mustakaweni bocah berani berantem sama anak lelaki, dan ketika dilayani yang lari terbirit-birit justru si anak lelaki. Maka para keluarga istana dan rakyat Manikmantaka menyebutnya: Mustakaweni mbeling.

Saking mbelingnya ini bocah, dalam usia 10 tahunan pernah dikeroyok tawon endhas, gara-gara  diganggu sarangnya. Untung saja tak sampai wasalam, karena Mustakweni segera dibawa ke paranormal pendita Durna di Sokalima. Mungkin bagi Mustakaweni bisa lebah tersebut dianggapnya sebagai vaksin keberanian. Oleh karena itu ketika diperingatkan Ny. Niwatakawaca, sama sekali tak gentar.

Right or wrong is may father…..” jawab Mustakaweni kemudian.

“Apa itu ismai fader, apanya Ismail temanmu sekolah?” jawab Ny. Niwatakawaca yang memang kurang gaul.

Mustakaweni tak menjawab, kecuali berpamitan dan hendak minta dukungan moril sang kakak, Prabu Bumiloka yang istananya dekat kampung Bumijo, Yogyakarta. Tapi ternyata Prabu Bumiloka juga senada dan sehaluan dengan ibusuri. Yang sudah ya biarkan berlalu, jangan membangunkan macan tidur. Negara Manikmantaka memerangi Harjuna, sama saja memerangi Pandawa-Ngamarta berikut jajarannya, ini ibarat timun mungsuh duren.

“Musim pandemi Corona jangan cari masalah, mau cari utangan ke mana lagi untuk mendanai misi gilamu itu?” tegur Prabu Bumiloka.

“Misi ini tak perlu pakai dana negara kangmas Prabu. Cukup patungan sesama umat pecinta kewibawaan negeri. Lihat tuh ustadz UAS dari Indonesia, berhasil kumpulkan dana Rp 1 miliar lebih untuk beli kapal selam.” Jawab Mustakaweni.

Karena sang adik tetap ngotot, dan sama sekali tak merasa takut bermusuhan dengan negeri Ngamarta, akhirnya Prabu Bumiloka merestui. Tapi membalas dendam pada Harjuna tak boleh secara kasar, harus pakai tipu muslihat pula. Ibarat kata, kena iwake aja nganti butek banyune. Kini Mustakaweni mbeling pun tertawa lebar, karena kakak kandung satu-satunya sudah bisa satu visi dan misi dengannya. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement