Myanmar: Perlawanan Rakyat Meluas

Massa prodemokrasi Myanmar mulai mempersenjatai diri untuk melawan rejim junta miliiet yang mengambil alih kekuasaan sipil 1 Februar lalu. Perlawanan makin meluas.

SUDAH lebih 600 anggota massa prodemokrasi Myanmar tewas oleh peluru pasukan rezim penguasa sejak aksi-aksi menentang kudeta yang dilancarkan rezim junta militer, 1 Februari lalu dan sampai hari ini perlawanan terus berlangsung.

Sebaliknya, rezim junta tidak bergeming walau protes dan tekanan internasional terutama dari negara-negara Barat dan Uni Eropa termasuk dengan pengenaan sanksi embargo yang membuat perekonomian Myanmar makin terpuruk.

Gerakan perlawanan massa tidak saja berlangsung di kota-kota besar di Myanmar tetapi juga di desa-desa, bahkan dikoordinasikan oleh Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM), rakyat mulai mempersenjatai diri dan mengikuti latihan-latihan militer.

Di wilayah sentra persawahan di Ayeyarwadi yang dihuni kelompok etnis mayoritas Bamar dan minoritas Karen, Sabtu (5/6) terjadi bentrokan dengan aparat keamanan yang menyisir wilayah itu untuk menemukan senjata.

Seperti dilaporkan oleh Delta News Agency, warga bersenjatakan katapil dan panah berusaha menyerang tentara bersenjata lengkap, sehingga dalam pertempuran yang tak seimbang itu, 20 warga desa dilaporkan tewas.

Sehari sebelumnya di Desa Hlayswe, Kyonpyaw, 150 Km di barat laut Yangon, tentara yang muncul untuk mencari seorang warga yang dicurigai bersenjata dihadang ledakan bom.

Sayap-sayap militer etnis di Myanmar seperti Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) bahu membahu dengan Pasuka Pertahanan Rakyat Shwegu menyerang pos polisi di Shwegu Utara, Jumat lalu (4/6).

Sedangkan di wilayah lain Pasukan Pertahanan Rakyat Mobye (MBPDF) mengklaim berhasil menewaskan tentara (tatmadaw), sementara ribuan warga Magwe’s Yaw dilaporkan mengungsi setelah tatmadaw menguasai belasan desa di wilayah itu.

Pihak junta militer sendiri berdalih, mereka terpaksa mengambil alih kekuasaan karena Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi yang memenangkan pemilu  November lalu berbuat curang. Suu Kyi sendiri bersama sejumlah politisi masih berada dalam tahanan rumah dan didakwa berbagai tuduhan.

Di tengah semakin derasnya protes dan tekanan internasional serta tanpa dukungan rakyat, sampai kapan rezim junta bisa bertahan?

 

 

Advertisement