NEW YORK – Ketika sebuah serangan terjadi di Amerika Serikat, hal pertama yang terpikirkan oleh Zaid Nagi adalah sebuah doa: “Tolong, jangan pelakunya seorang Muslim.”
Nagi, Wakil Presiden Asosiasi Pedagang Amerika-Yaman di New York mengatakan, setiap kali seorang penyerang ternyata seorang Muslim, dia tahu bahwa kehidupan komuniats Muslim di negara itu akan menjadi lebih sulit.
“Mereka terlihat seperti kami, mereka terdengar seperti kami, tapi mereka bukan kami, ” kata Nagi
Pada hari Kamis malam waktu New York, Nagi bergabung dengan sekitar 200 warga New York lainnya yang berlatar belakang beda agama memperingati serangan yang menewaskan delapan orang terbunuh dan 12 lainnya cedera, dalam serangan truk hari Selasa di Mahanttan.
Sayfullo Saipov, seorang pria berusia 29 tahun, perantau dari Uzbekistan, mengendarai sebuah truk pickup sewaan naik ke jalur sepeda yang sedang ramai di West Side Highway di kota itu.
Polisi mengatakan bahwa Saipov, masuk AS pada 2010 dan merupakan penduduk tetap, melakukan serangan atas nama ISIS.
Imigran Muslim, kata Nagi, dua kali terkena dampak serangan semacam itu, yang menjadi pengingat akan kekerasan yang mendorong banyak orang meninggalkan negara asal mereka, dan juga meningkatkan rasa tidak aman mereka sendiri di AS.
Gubernur New York Andrew Cuomo menyebut penyerang sebagai “serigala tunggal”, tapi simpati Saipov terhadap ISIS membuat banyak komunitas Muslim yang takut akan Islamofobia yang aromanya semakin kental ketika negara adidaya itu dipimpin Trump.




