spot_img

Nasi Goreng Istana Bogor

KETIKA isyu reshuffle kabinet merebak, tiba-tiba Presiden Jokowi memanggil Nurhadi ke Istana Bogor, bayangan publik pastilah ke Nurhadi yang mantan sekretaris MA itu. Luar biasa nian, sudah mundur dari MA malah dipromosikan jadi menteri. Mimpi apa dia? Namun ternyata, dugaan publik meleset total. Yang dipanggil Presiden Jokowi ternyata Nurhadi….penjual nasi goreng yang biasa mangkal sekitar Istana Bogor.

Presiden Jokowi kemarin memang mengajak seluruh anggota Kabinet Kerja, rapat di Istana Bogor. Makan siangnya dengan menu sederhana, nasi goreng gerobakan yang biasa ditemukan di jalan-jalan. Meski hanya rampadan (hidangan) sederhana, tapi karena dinikmati di Istana Bogor, kesannya menjadi luar biasa. Nasi goreng beserta sate ayamnya itu menjadi terasa lebih nikmat bagi para menteri, karena dalam kesempatan itu Presiden Jokowi sempat menegaskan sekaligus menjamin, “Tidak ada reshuffle kabinet.”

Jaminan Presiden itu sangat melegakan tentunya. Sebab kata media massa dan elektronik, isyu reshufle kabinet jilid III semakin menguat. Bahkan ada sejumlah partai yang menyodor-nyodorkan nama agar diambil Presiden. Jika isyu itu benar dan seorang menteri sampai terlempar dari kabinet, mau jadi apa nanti? Sungguh tragis dan ironis rasanya, habis makan nasi goreng Istana Bogor, eks menteri harus jadi tukang nasi goreng keliling?

Berbahagialah bang Nurhadi dan kawan-kawan, karena nasi gorengnya dipesan Presiden Jokowi. Sebab di kolong langit yang lain, sejumlah pedagang makanan keliling harus “alih profesi” karena pasar tak lagi menjanjikan. Ada tukang bubur di Tangerang Selatan pilih jadi teroris, bahkan ada pula tukang bubur mau dibayari orang untuk mengganggu kampanye Cagub DKI. Soalnya, tukang bubur yang bisa naik haji hanyalah Mat Solar, itupun sekedar sinetron di RCTI.

Nasi goreng adalah menu sederhana yang sangat populer di kalangan rakyat. Menu ini bukan hanya dikenal kalangan ibu-ibu rumahtangga, tapi juga kalangan bapak-bapak. Seorang suami boleh tidak mengenal menu-menu lain, tapi resep bikin nasi goreng pasti lebih banyak yang tahu. Sebab di berbagai lomba, baik menyambut HUT RI maupun event-event yang lain, banyak panitia yang menggelar lomba masak nasi goreng.

Di Solo kota asalnya Presiden Jokowi, tahun 1973-an ada rumah makan yang terkenal dengan menu nasi gorengnya. Namanya RM Sari, terletak di Jalan Slamet Riyadi, bilangan Purwosari. Nasi goreng itu begitu lezat, warnanya agak kemerah-merahan, dan ketika habis disantap masih menyisakan “genangan” minyak di pojok-pojok rantang. Redaksi koran Jawa “Parikesit” sering pesan menu itu. Tiba-tiba seorang Redpel “ngobyek” jadi katering. Wartawan dan karyawan protes karena menunya tak lagi lezat. Sendok-sendok almunium dipatahkan dan dimasukkan rantang disertai tulisan: Le mbathi kakehan (cari untung kebanyakan).”

Tahun-tahun sebelumnya, di Jakarta urusan nasi goreng pernah menjadi berita koran-koran. Tahun 1962 ketika Hotel Indonesia kali pertama dibuka, berpromosi dengan menu istimewa nasi goreng bertarif Rp 1.000,- perporsi. Di kala harga beras mahal, di mana rakyat harus mengantri untuk beli beras, harga nasi goreng HI tersebut sungguh memukau. Sampai-sampai mingguan enteng berisi “Minggu Pagi” terbitan Yogyakarta, dalam sketsa Mat Kontan mengambil judul: Nasi Goreng Hotel Indonesia.

Di era digitalisasi sekaligus gombalisasi sekarang ini, berita soal nasi goreng memang tidak lagi menarik. Yang pasti banyak dibaca orang justru kegiatan sejumlah orang yang demen menggoreng-goreng masalah. Persoalan itu sebetulnya sepele, tapi diplintir sedemikian rupa, dikomentari macam-macam. Setelah diunggah di medsos jadi rame. Tambah seru lagi ketika netizen nimbrung mengomentari sesuai dengan selera masing-masing. Pidato Ahok di Kepulauan Seribu misalnya, bikin orang termehek-mehek karena sukses dikompori tukang goreng-goreng masalah. (Cantrik Metaram).

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles