Nasib Pemimpin NIIS al-Bagdhadi Masih Misteri

Benteng terakhir pertahanan NIIS di Mosul sudah jatuh ke tangan pasukan Irak, namun nasib pemimpinnya, Abu Bakr al-Baghdadi masih misterius (Newsmagazine)

JATUHNYA kota Mosul – simbul awal kebangkitan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) ke tangan pasukan Irak, belum serta-merta menguak tabir misteri dan teka-teki mengenai kematian  pimpinan tertingginya, Abu Bakr al-Baghdadi.

Rumor tentang tewasnya orang nomor satu di NIIS tersebut sudah muncul sejak 2014, namun sejauh ini belum pernah dikonfirmasikan, baik oleh kelompok koalisi pasukan Irak dan AS serta lawan-lawan NIIS lainnya maupun dari kalangan internal NIIS sendiri.

Baru setelah sisa-sisa laskar NIIS takluk dan didepak dari bagian kota tua Mosul barat  Minggu lalu (9/7), sejumlah sumber media NIIS di kota Tal Afar, 63 Km arah barat Mosul yang dikutip stasiun  TV swasta Irak, Samaria News membenarkan tewasnya sang pemimpin.

Berita terkait kematian al-Bahgdadi juga diungkapkan oleh Pemantau Hak Azasi Manusia di Suriah (SOHR) bermarkas di London yang mengaku memperoleh informasi dari sumber yang layak dipercaya yakni salah satu pimpinan NIIS di wilayah Deir al-Zor di Suriah timur.

Tidak diperoleh rincian lebih jauh mengenai kapan dan dimana  serta penyebab kematian al-Baghdadi, selain disebutkan ia selama berapa bulan terakhir ini bersembunyi di sebuah tempat di kawasan Deir al-Zor.

Namun sumber intelijen AS maupun pemerintah Irak meragukan kematian al-Baghdadi yang menurut mereka, pemimpin tertinggi NIIS itu masih hidup dalam keadaan sehat dan saat ini bersembunyi di kawasan gurun sahara di luar kota Mosul.

AS juga pernah menyayembarakan penangkapan al-Baghdadi dengan iming-iming hadiah sebesar 25 juta dolar AS (sekitar Rp350 milyar) , sama halnya dengan yang diberlakukan bagi orang atau pihak-pihak yang bisa menangkap pimpinan al-Qaeda Osama bin Laden.

(Mungkin) sudah tewas

Sementara Rusia yang juga bergabung dalam perang melawan NIIS menyebutkan kemungkinan al-Baghdadi tewas saat berkumpul dengan bawahannya di kota Raqqa, Suriah akibat gempuran pesawat-pesawat tempur mereka . Namun berita ini juga belum dikonfirmasi.

Isu menyesatkan atau berita hoax memang hal yang biasa dilakukan dalam kegiatan atau kontra spionase di tengah peperangan  sebagai siasat untuk mengelabui lawan.

Pasca keberhasilan merebut Mosul, pasukan Irak dimotori satuan elit polisi kontra teror (CTS) mulai membersihkan jaringan terowongan bawah tanah yang kemungkinan digunakan sebagai persembunyian sisa-sisa anggota NIIS.

Walau Mosul yang dijadikan ibukota dan lokasi proklamasi kekhilafahan NIIS pada 10 Juni 2014 telah direbut pasukan Irak, kewaspadaan tetap dituntut di semua negara.

Sisa-sisa combatant NIIS dilaporkan melarikan diri ke kota Tal Afar, Hawiyah dan Qaim di perbatasan Suriah. Tal Afar, kemungkinan akan dijadikan markas besar NIIS yang baru setelah Mosul lepas ke tangan pasukan Irak dan Raqqa di Suriah terkepung.

Di Irak dan Suriah sendiri, bisa jadi NIIS akan melakukan konsolidasi untuk bangkit kembali atau mengubah strateginya dengan menebar aksi-aksi teror dimana-mana termasuk Indonesia.

Kewaspadaan segenap unsur aparat keamanan dan rakyat tetap dituntut!                                (AP/AFP/NS)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement