Nasib Reaktor Nuklir Iran

Ilustrasi rudal balistik Iran. Negosiasi terkait program nuklir Iran (JCPOA) dihidupkan lagi setelah AS menarik diri pada 2015, sementara Israel gatal tangan untuk menyelesaikannya dengan aksi militer.

RONDE ke-8 Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) terkait kesepakatan nuklir Iran yang macet sejak Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menarik diri pada 2015 akan digelar di Wina, Senin (27/12).

JPOA atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama yang semula disepakati AS, Jerman,  Perancis, Rusia China dan Iran pada 2015 a.l. memuat pembatasan program nuklir Iran dan pengawasan oleh Int’l  Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi terhadap negara itu.

Presiden Trump membatalkan kesepakatan JPOA pada 2018 dan kembali memberlakuan sanksi  terhadap Iran, sebaliknya Iran pun menurunkan level sejumlah komitmen yang sudah disepakatinya.

Sejak rangkaian negosiasi yang berlangsung di Wina, Austria, beberapa bulan lalu, sejumlah pihak di Israel menentang niat Presiden AS yang baru, Joe Biden untuk menghidupkan lagi JPOA.

Para pimpinan di Tel Aviv termasuk PM baru Naftali Bennett lebih menghendaki penyeleaiannya dengan serangan langsung untuk menghentikan kemampuan Iran menciptakan bom nuklir ketimbang melanjutkan negosiasi.

Menhan Israel Benny Gantz juga sudah mengumumkan kesiapan pasukannya, begitu pula Panglima pasukan Israel (IDF) Letjen Aviv Kochavi yang menyebutkan pasukannya tinggal menunggu komando saja.

Israel berhasil menghancurkan reaktor nuklir Irak di Osirak melalui serangan udara langsung dengan pesawat-pesawat tempur F-16 Fighting Falcon buatan AS pada Juni, 1981.

Pesawat-pesawat Israel melintasi koridor udara negara Arab dan kembali dengan selamat tanpa terdeteksi, menggunakan jalur penerbangan sipil dan pilotnya berkomunikasi dalam bahasa Arab sehingga petugas lalu-lintas di darat tidak mencurigainya.

Sementara AS di bawah Presiden Biden saat ini tidak menghendaki operasi militer terhadap Iran, cukup meneruskan sanksi ekonomi bersama negara-negara lainnya jika Iran tetap ngotot meneruskan program nuklirnya tanpa pengawasan IAEA.

Sikap AS, tentu bisa dipahami, karena opsi militer hanya lah salah satu solusi permasalahan, kait-mengait atau berkelindan dengan kalkulasi politik. Pasalnyaa, hubungan AS dengan sejumlah negara Arab dan dunia Islam saat ini cukup kondusif, sehingga tentunya tidak ingin dirusak gegara menyerang Iran.

Sebaliknya, para pimpinan Israel mungkin merasa, opsi militer paling cepat bagi penyelesaian persoalan ini, apalagi secara militer, negara Yahudi itu mungkin merasa jauh mengungguli lawannya.

Perimbangan Militer

Dari jumlah personil militer, IDF memiliki 170 ribu anggota pasukan tetap dan 65 ribu cadangan, sebaliknya Iran lebih unggul dengan 525 ribu personil tetap dan 1,4 juta cadangan. Kesulitan Iran, memodernisir alutsistanya pasca revolusi Iran 1979 karena pengenaan sanksi embargo oleh negara-negara Barat terutama AS.

Anggaran militer kedua negara pada 2021 juga relatif seimbang, Israel sebesar 16,6 miliar Dollar AS (sekitar Rp235,7 triliun), sebaliknya Iran sebesar 14,1 miliar Dollar AS (Rp200,2 triliun). Di tengah keterbatasan akibat sanksi embargo, Iran terus mengembangkan rudal-arudal balistik dan industri pertahanannya.

AU Israel lebih unggul dalam jumlah dan kecanggihan pesawatnya, dengan total 600 pesawat berbagai jenis, 241 unit diantaranya pesawat tempur generasi ke 4.5 seperti F-16 Fighting Falcon, F-15 Eagle dan  pesawat terbaru AS generasi ke-5 F-35 Super Lightning II, 128 helikopter termasuk 48 heli serang seperti AH-64 Apache da UH-60 Black Hawk.

Sebaliknya, AU Iran didukung 516 pesawat, 161 diantaranya pesawat tempur F-14 Tomcat dan F-4 Phantom warisan era Sah Iran Reza Pahlevi tahun 1970’-an dan MiG-29 ek-Uni Soviet, 99 helikopter, 12 diantaranya heli serang MI-35 Hind eks-Soviet.

Sementara matra darat Iran didukung  3.709 tank tempur utama (MBT) seperti T-62 dan T-72 eks-Soviet da Karrar buatan lokal, 8.500 kendaraan lapis baja, 770 pucuk artileri swagerak, , 2.108 meriam tarik dan 2.475 peluncur roket.

Sebaliknya,  Israel mengoperasikan 1,650 tank M1 Abrams (eks-AS) dan Merkava buatan dalam negeri , 7.500 kendaraan lapis baja,  650 pucuk artileri swagerak, 300 meriam tarik dan 100 peluncur roket.

Di laut,  Iran juga unggul dengan 398 kapal perang a.l. 29 kapal selam kelas kilo (eks-Soviet), tiga korvet dan 20 kapal patroli cepat, sedangkan AL Israel memiliki 65 kapal antara lain lima kapal selam, empat kovet dan 48 kapal patroli cepat.

Selain itu, Iran memiliki ratusan rudal balistik, baik buatan eks-Soviet maupun hasil pengembangan sendiri (a.l. seri Shahab) yang mampu menjangkau kota-kota di Israel.

Sebaliknya, Israel mengaplikasikan sistem pertahanan anti rudal “Iron Dome atau Kubah Besi yang terbukti efektif menangkal ribuan roket yang diluncurkan Hamas, Palestina ke wilayahnya.

Sistem pertahanan rudal anti rudal Patriot yang dipasok AS juga dianggap berhasil menangkal serangan rudal balistik Scud Irak saat Perang Teluk, dan Israel diperkirakan memiliki puluhan bom nuklir yang bisa digunakannya jika terdesak.

Apapun hasilnya, dengan senjata pemusnah massal yang dimiliki keduanya, perang hanya mengakibatkan korban jiwa, materi dan kesengsaraan bagi rakyat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement