CHINA – Ketegangan kembali berkobar di Laut Cina Selatan, Angkatan Laut Indonesia terus menangkap Kapal Nelayan China. Sekitar 18 Juni lalu, Kapal Perang Angkatan Laut Indonesia menangkap tujuh awak Kapal Nelayan China yang menangkap ikan secara “ilegal” dalam Zona Eksklusif Ekonomi Indonesia, sekitar 200 mil dari Kepulauan Natuna.
Saat itu, 12 kapal pukat harimau melarikan diri dari kapal perang Indonesia, setelah diberikan tembakan peringatan.
Namun, salah satu kapal nelayan yang diawaki oleh warga China tertangkap, mereka terdiri dari satu perempuan dan enam laki-laki. Seluruh awak dan kapal segera ditahan oleh angkatan laut tersebut.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri China mengutuk angkatan laut Indonesia karena penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Menurut Global Times, juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying mengklaim bahwa pihak berwenang China secepat mungkin sudah mengirim Kapal Coast Guard untuk menyelamatkan nelayan yang melarikan diri.
Hua menyatakan bahwa tindakan Indonesia telah melanggar hukum internasional dan merugikan jiwa dan harta warga China.
“China mendesak Indonesia untuk berhenti mengambil tindakan yang meningkat ketegangan, mempersulit masalah, atau mempengaruhi perdamaian dan stabilitas,” kata Hua.
Seperti dilangsir Shanghaiist, perairan laut Natuna telah rentan terhadap berbagai insiden akhir-akhir ini. Bulai Mei, kapal nelayan China, Gui Bei Yu-27088 dan delapan awaknya juga ditangkap oleh Angkatan Laut Indonesia. Perahu nelayan tidak menghiraukan peringatan untuk berhenti yang disampaikan secara berulang-ulang dan kapal perang menembakkan sejumlah tembakan peringatan, beberapa di antaranya mendarat di buritan kapal nelayan itu.
Insiden lain, Maret 2016, sebuah kapal nelayan China diserahkan ke Kapal Coast Guard China setelah ditangkap oleh Angkatan Laut Indonesia.
Menanggapi kejadian ini, Indonesia meledakkan 23 kapal pukat asing yang sudah disita karena ilegal fishing di perairan Indonesia.
Insiden ini memicu kemarahan publik china dan menempatkan hubungan diplomatik Indonesia-China sedikit goyah, terutama setelah kesepakatan yang gagal antra dua bangsa atas rencana untuk mengembangkan infrastruktur perkeretaapian kepulauan.
Pada Hexun News, beberapa netizens China bahkan menuntut tindakan terhadap orang Indonesia
“Apakah kapal kami bertemu bajak laut? Jika kita bertemu dengan (orang Indonesia) lagi, kita harus menggunakan pembalasan militer untuk melindungi diri kita sendiri,” tulis salah satu pengguna web.
Pada akhirnya, masalah batas wilayah Laut Cina Selatan tetap menjadi kendala dalam hubungan bilateral ini. Indonesia telah berulang kali meminta klarifikasi atas klaim yang luas atas laut China Selatan, bersaing dengan klaim yang dibuat oleh Vietnam, Filipina dan Taiwan.




