SURABAYA – Ni’a, seorang nenek berusia 80 tahun masih berjuang keras untuk mendapatkan nafkah, bahkan jam kerjanya mencari nafkah harus melewati jam malam, yang seharusnya tidak dilakukan di usianya yang sudah menua.
Ketika sore hari tiba, ia baru pergi ke pertokoan di kawasan Jalan KH Mas Mansur, Surabaya atau lebih dikenal dengan sebutan sasak besar, untuk berjualan rujak cingur dan lontong mi.
Mbah Ni’a, begitu orang memanggilnya, berasal dari Desa Gungguh, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan. Mbah Ni’a sendiri telah lama berjualan di kawasan pertokoan sekitar wisata religi Sunan Ampel tersebut.
“Saya sudah lama berjualan di sini nak sejak zamannya pak Karno (Ir Soekarno, presiden pertama RI). Saat itu harga rujak masih Rp50 rupiah,” terang Mbah Ni’a, seperti dilansir Okezone, Jumat (10/2/2017).
Menurut Mbah Ni’a, dirinya tetap berjualan meski usianya sudah tidak muda lagi karena sang suami, Muhammad (90), sudah tidak bisa bekerja sebagai penarik becak. Suaminya juga sering sakit.
“Aku bilang sama mbahnya (suami Ni’a) untuk di rumah saja, jangan bekerja karena sering sakit. Jadi saya yang harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Karena saya di sini ngontrak rumah setahun sewanya Rp 1juta. Tapi, rumahnya kecil yang ada Bengpoloh SR Gg 2,” ungkapnya.
Ditanya kenapa tidak pulang ke kampung halaman untuk menikmati masa senja, ia mengaku untuk saat ini masih belum ada keinginan berada di kampung. Walaupun oleh kerabatnya diminta pulang kampung.
“Sama kerabat disuruh pulang, tapi kami tidak mau. Saya tidak mempunyai anak dan saudara aku sudah meninggal semua,” ungkapnya.
Penghasilannya tidak pasti, kadang bisa membawa pulang Rp100 ribu, namun tidak jarang hanya dapat uang Rp2 ribu.
“Karena tidak ada orang yang membeli rujak dan lontong mie sama sekali, cuma ada orang yang membeli krupuk. Biasanya itu terjadi kalau hujan. Jika sudah begitu, aku terpaksa berhutang pada orang jualan sate untuk ongkos becak saat pulang,” paparnya.
Nenek ini menambahkan, dirinya terpaksa naik becak karena rumahnya dengan lokasi jualan rujak cukup jauh. Untuk ongkos becak sekali naik Rp10 ribu, bila pulang pergi berarti Rp20 ribu untuk ongkos becak.
“Saya jualan rujak buka mulai jam 5 sore sampai pukul 2 dini hari dan buka setiap hari. Selama badan masih bisa aku akan tetap berjualan. Karena saya tidak ingin menjadi tanggungan atau beban kerabat aku yang ada di Madura,” tukasnya.




